Sukses

Studi: Polusi Picu 9 Juta Orang Meninggal per Tahun Sejak 2015

, Jakarta - Penelitian terbaru menempatkan polusi setara dengan merokok dalam hal kematian global. Sebagai perbandingan, COVID-19 membunuh sekitar 6,7 juta orang secara global sejak pandemi merebak.

Sementara itu, mengutip laporan DW Indonesia, Kamis (19/5/2022), diperkirakan 9 juta orang meninggal karena polusi dari semua jenis setiap tahunnya, menurut sebuah studi tentang kematian global dan tingkat polusi yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet Planetary Health.

Polusi udara luar ruangan yang memburuk dan keracunan timbal telah membuat kematian global akibat pencemaran lingkungan mencapai 9 juta per tahun sejak 2015, menurut para ilmuwan yang menganalisis data 2019 dari Global Burden of Disease, yang merupakan studi berkelanjutan oleh University of Washington, yang menilai paparan polusi secara keseluruhan.

Polusi adalah "ancaman eksistensial bagi kesehatan manusia dan kesehatan planet, serta membahayakan keberlanjutan masyarakat modern," studi menemukan, dan menambahkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan global tetap "jauh lebih besar dibanding perang, terorisme, malaria, HIV, TBC, narkoba, dan alkohol".

"Kami (seperti) duduk di kuali dan perlahan-lahan terbakar," kata Richard Fuller, rekan penulis studi dan pimpinan Pure Earth, sebuah organisasi nirlaba global. Namun, tidak seperti perubahan iklim, malaria, atau HIV, "kami belum memberikan banyak fokus (pencemaran lingkungan)," sambungnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Polutan Modern Meningkat

Studi tersebut menemukan bahwa kematian yang disebabkan oleh paparan polutan modern seperti logam berat, bahan kimia pertanian, dan emisi bahan bakar fosil, telah melonjak 66% sejak tahun 2000. Tren ini sangat mengkhawatirkan di negara-negara berkembang.

Sementara polusi udara luar ruangan turun di beberapa ibu kota besar, termasuk Bangkok, Cina, dan Mexico City. Sedangkan kota-kota kecil mengalami peningkatan level polusi.

Jenis polusi modern turun di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Etiopia antara tahun 2000 dan 2019. Tim ilmuwan tidak dapat menjelaskan banyaknya jumlah kasus kematian di Etiopia dan menyebut kemungkinan itu terkait data yang dilaporkan.

Penulis penelitian mengajukan delapan rekomendasi untuk mengurangi kematian akibat polusi, menekankan perlunya pemantauan yang lebih baik, pelaporan yang lebih baik, dan peraturan pemerintah yang lebih kuat tentang industri dan mobil.

"Kami benar-benar tahu bagaimana memecahkan setiap masalah itu," kata Fuller. "Yang hilang adalah kemauan politik."

3 dari 4 halaman

Kematian Akibat Polutan Tradisional Menurun

Analisis baru menggali lebih dalam penyebab polusi, memisahkan kontaminan tradisional, seperti asap dalam ruangan atau limbah, dari polutan modern, yang meliputi polusi udara industri dan bahan kimia beracun.

Meski kematian akibat polutan tradisional menurun secara global, mereka tetap menjadi masalah di Afrika. Chad, Republik Afrika Tengah, dan Nigeria adalah tiga negara yang ditemukan memiliki kasus kematian terkait polusi paling banyak, sebagian besar disebabkan oleh air yang tercemar, tanah, dan udara dalam ruangan yang berbahaya.

Langkah-langkah untuk mengurangi polusi udara dalam ruangan dan meningkatkan sanitasi telah membantu menurunkan kematian hingga dua pertiga di Ethiopia dan Nigeria antara tahun 2000 dan 2019. Pergeseran India dari tungku pembakaran kayu ke sambungan kompor gas juga telah meningkatkan angka kematian.

 

4 dari 4 halaman

WHO: Hampir Seluruh Populasi Global Hirup Polusi Udara

Sebanyak 99 persen orang di Bumi menghirup udara yang mengandung terlalu banyak polutan, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (4 April), menyalahkan kualitas udara yang buruk sebagai penyebab jutaan kematian setiap tahun.

Dilansir dari laman Channel News Asia, Selasa (5/4/2022), data terbaru dari badan kesehatan PBB menunjukkan bahwa setiap sudut dunia menghadapi polusi udara, meskipun masalahnya jauh lebih buruk di negara-negara miskin.

"Hampir seluruh populasi global (99 persen) menghirup udara yang melebihi batas kualitas udara WHO, dan mengancam kesehatan mereka," kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan.

Dalam laporan sebelumnya empat tahun lalu, WHO telah menemukan bahwa lebih dari 90 persen populasi global terkena dampaknya, tetapi sejak itu memperketat batasannya, katanya.

"Basis bukti untuk kerusakan yang disebabkan oleh polusi udara telah berkembang pesat dan menunjukkan kerusakan signifikan yang disebabkan oleh tingkat polusi udara yang rendah sekalipun," kata WHO.

Sementara data PBB tahun lalu menunjukkan bahwa penguncian pandemi dan pembatasan perjalanan menyebabkan peningkatan kualitas udara yang berumur pendek, WHO mengatakan polusi udara tetap menjadi masalah yang menjulang.

"Setelah selamat dari pandemi, tidak dapat diterima untuk masih memiliki 7 juta kematian yang dapat dicegah dan tahun-tahun kesehatan yang hilang yang tak terhitung jumlahnya yang dapat dicegah karena polusi udara," Maria Neira, kepala departemen kesehatan masyarakat dan lingkungan WHO, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Studi WHO menyediakan data kualitas udara dari lebih dari 6.000 kota besar dan kecil di 117 negara.

Temuan itu mengkhawatirkan, kata organisasi itu, dan menyoroti pentingnya membatasi penggunaan bahan bakar fosil dengan cepat.