Sukses

Xenobot, Robot Hidup Pertama di Dunia Dapat Bereproduksi

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan Amerika Serikat yang menciptakan robot hidup pertama, yang dikenal sebagai xenobot kini dikabarkan dapat bereproduksi. Karena dibentuk dari sel induk katak cakar Afrika (Xenopus laevis), xenobot memiliki lebar kurang dari satu milimeter.

Dilansir CNN, Selasa (30/11/2021), Gumpalan-gumpalan kecil itu pertama kali diperkenalkan pada tahun 2020 setelah eksperimen menunjukkan bahwa mereka dapat bergerak, bekerja sama dalam kelompok, dan menyembuhkan diri sendiri. Kini para ilmuwan yang mengembangkannya di University of Vermont, Tufts University, dan Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering di Universitas Harvard mengatakan bahwa mereka telah menemukan bentuk reproduksi biologis baru dan berbeda dari hewan atau tumbuhan apa pun.

"Saya terkejut dengan itu," kata Michael Levin, seorang profesor biologi dan direktur Allen Discovery Center di Universitas Tufts yang menjadi penulis utama penelitian baru tersebut.

"Katak memiliki cara bereproduksi yang biasanya mereka gunakan, tetapi ketika Anda membebaskan sel-sel dari sisa embrio, dan Anda memberi mereka kesempatan untuk mencari tahu bagaimana berada di lingkungan baru, mereka mereka tidak hanya dapat menemukan cara baru untuk bergerak, tetapi mereka juga menemukan cara baru untuk bereproduksi." tambahnya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Robot atau Makhluk Hidup?

Sel punca adalah sel yang tidak terspesialisasi, dan memiliki kemampuan untuk berkembang menjadi jenis sel yang berbeda. Untuk membuat xenobot, para peneliti mengambil sel induk hidup dari embrio katak dan membiarkannya mengerami, sehingga tidak ada manipulasi gen yang terlibat.

"Itu adalah robot, tetapi juga jelas merupakan makhluk hidup karena terbuat dari sel katak yang tidak dimodifikasi secara genetik." kata Josh Bongard, profesor ilmu komputer dan robotika, ahli di University of Vermont dan penulis utama studi ini.

Bongard juga mengatakan mereka menemukan bahwa xenobot, yang awalnya berbentuk bola dan terbuat dari sekitar 3.000 sel dapat mereplikasi, namun itu jarang terjadi dan hanya dalam keadaan tertentu. Xenobot menggunakan "replikasi kinetik" atau sebuah proses yang diketahui terjadi pada tingkat molekuler tetapi belum pernah diamati sebelumnya pada skala sel atau organisme utuh, kata Bongard.

Dengan bantuan kecerdasan buatan, para peneliti kemudian menguji miliaran bentuk tubuh untuk membuat xenobots lebih efektif pada jenis replikasi ini. Xenobot adalah teknologi yang sangat awal, karena dirancang dengan komputer tahun 1940-an, dan belum memiliki aplikasi praktis.

Prospek bioteknologi yang dapat mereplikasi diri ini dapat memicu kekhawatiran, sebab para peneliti mengatakan bahwa mesin hidup seluruhnya berada di laboratorium dan mudah dipadamkan, karena dapat terurai secara hayati. Namun menurut para peneliti, kombinasi biologi molekuler dan kecerdasan buatan ini berpotensi untuk dapat digunakan dalam sejumlah tugas di tubuh.

Penulis: Vania Dinda Marella

3 dari 3 halaman

Infografis Mewujudkan American Dream Menjadi Bos Teknologi