Sukses

Cari Suaka, Pesepakbola Perempuan Afghanistan Kabur dari Taliban ke Pakistan

Liputan6.com, Islamabad - Para pemain sepak bola remaja putri Afghanistan telah tiba di Pakistan dan akan mencari suaka politik di negara ketiga, di tengah kekhawatiran atas status atlet perempuan di bawah Taliban di Kabul.

"Sekitar 81 orang, termasuk pemain perempuan dari beberapa tim remaja, pelatih, dan anggota keluarga mereka berhasil mencapai Pakistan melalui perbatasan Torkham ujar Umar Zia, pejabat senior Federasi Sepak Bola Pakistan pada hari Rabu dilansir AFP, Jumat (17/9/2021),,

"34 lainnya akan tiba hari Kamis," lanjutnya.

Sejauh ini tidak jelas diketahui kapan mereka benar-benar melintasi perbatasan. Para pejabat memberikan karangan bunga merah saat mereka turun dari bus di kantor Federasi di Lahore pada hari Rabu.

Zia menyampaikan bahwa mereka akan tinggal di Pakistan di bawah pengamanan ketat, sebelum mengajukan suaka di negara ketiga.

"Mereka akan pergi ke beberapa negara lain setelah 30 hari karena beberapa organisasi internasional sedang bekerja untuk menempatkan mereka di negara lain, termasuk Inggris, AS dan Australia," kata Zia.

Organisasi internasional Football for Peace membantu mengatur keberangkatan mereka dari Afghanistan dan kedatangan mereka di Pakistan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Perempuan di Afghanistan Tidak Dapat Berpartisipasi Dalam Olahraga

Ketika kelompok Taliban terakhir memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001, anak perempuan tidak diizinkan bersekolah, dilarang untuk bekerja dan berpendidikan. Perempuan juga dilarang olahraga dan kemungkinan hal tersebut akan berlanjut di pemerintahan Taliban sekarang.

Seorang perwakilan Taliban mengatakan kepada penyiar Australia, SBB pada 8 September bahwa ia tidak berpikir perempuan akan diizinkan bermain kriket karena tidak perlu dan bertentangan dengan Islam.

"Islam dan Imarah Islam tidak mengizinkan perempuan bermain kriket atau olahraga di mana mereka terekspos,” kata wakil kepala komisi kebudayaan Taliban, Ahmadullah Wasiq, seperti dikutip SBS.

Beberapa mantan dan pemain sepak bola perempuan saat ini melarikan diri dari negara itu setelah Taliban mengambil alih. Sementara mantan kapten tim mendesak para pemarin yang masih berada di Afghanistan untuk membakar peralatan olahraga mereka dan menghapus akun sosial media untuk menghindari tindakan pembalasan dari Taliban.

Badan pengelola olahraga, FIFA, bulan lalu mengatakan sedang berupaya mengevakuasi mereka yang tersisa di Afghanistan.

 

Reporter: Ielyfia Prasetio