Sukses

Top 3: Harga Makanan di Kabul Meroket Usai Taliban Kuasai Afghanistan

Liputan6.com, Jakarta - Warga Afghanistan kini tidak hanya menghadapi masalah politik dan sosial usai Taliban berkuasa. Harga bahan-bahan pangan juga meningkat. 

Kondisi dipersulit dengan tutupnya bank, serta tergerusnya dukungan dari internasional. Pemerintahan Afghanistan sebelum Taliban mendapat sokongan dari Amerika Serikat yang sejauh ini menolak mengakui Taliban. 

Berita mengenai kondisi di Afghanistan menjadi kabar yang paling disorot pembaca kanal global di Liputan6.com, Selasa (24/8/2021). 

Selain kondisi masyarakat, kabar mengenai evakuasi juga menarik perhatian publik. 

Kasus COVID-19 di Asia Tenggara juga menjadi sorotan karena angkanya yang tertinggi di dunia. Berikut daftar beritanya:

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

1. Harga Pangan Naik di Kabul

Mengutip Channel News Asia, kekhawatiran sehari-hari tentang makanan dan sewa menambah ketidakpastian di negara yang ekonominya rapuh tersebut. Situasi pun semakin dihancurkan oleh hilangnya dukungan internasional.

Selama seminggu, seorang mantan polisi mengatakan dia mencoba menjual beberapa cincin dan sepasang anting-anting milik istrinya, tetapi seperti banyak bisnis, pasar emas ditutup dan dia tidak dapat menemukan pembeli. 

 

Baca selengkapnya...

3 dari 4 halaman

2. Pentagon Evakuasi 16 Ribu Orang Per Hari di Kabul

Sekitar 16.000 orang dievakuasi selama 24 jam terakhir dari Afghanistan melalui bandara Kabul. Hal itu disampaikan oleh Pentagon pada Senin (23/8), ketika AS berupaya menyelesaikan pengangkutan udaranya dengan batas waktu 31 Agustus.

Jenderal Hank Taylor mengatakan sebanyak 61 penerbangan militer, komersial dan charter yang melibatkan sejumlah negara, terbang keluar dari Bandara Internasional Hamid Karzai dalam 24 jam hingga pukul 03.00 pagi waktu setempat pada Senin (23/8). 

Baca selengkapnya...

4 dari 4 halaman

3. Kematian Akibat COVID-19 di Asia Tenggara Tertinggi Sedunia

Belum meratanya distribusi vaksin COVID-19 di tengah lonjakan kasus akibat varian Delta, membuat Asia Tenggara mencetak angka kematian tertinggi di dunia. Menurut data John Hopkins University, Asia Tenggara dalam dua minggu terakhir mencatat sekitar 38.522 kematian akibat COVID-19.

Federasi Palang Merah Internasional dan Bulan Sabit Merah (IFRC) menyatakan, lonjakan kasus COVID-19 berdampak pada kapasitas rumah sakit di Vietnam, Malaysia, hingga Myanmar yang disebabkan peningkatan kekhawatiran pada angka kematian yang mungkin akan melonjak karena penyebaran virus yang pesat di area perkotaan. 

 

Baca selengkapnya...