Sukses

Amnesty International: Pemberantasan Separatis di Nigeria Tewaskan 115 Orang

Liputan6.com, Abuja - Amnesty International, Kamis (5/8), menuduh pasukan keamanan Nigeria menggunakan kekuatan berlebihan dan menewaskan sedikitnya 115 orang dalam tindakan keras terhadap penghasut separatis di negara yang bergolak itu.

Menurut polisi, kekerasan berkobar di negara bagian tenggara Nigeria tahun ini, menewaskan sedikitnya 127 polisi atau anggota dinas keamanan.

Media setempat melaporkan sekitar 20 kantor polisi dan kantor komisi pemilu diserang, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Jumat (6/8/2021).

Masyarakat Adat Biafra (IPOB), sebuah gerakan terlarang yang mencari kemerdekaan bagi etnis Igbo di wilayah itu, dan sayap militan Jaringan Keamanan Timur (ESN) disalahkan atas kekerasan tersebut.

Namun, IPOB membantah tuduhan itu. Amnesty mengatakan, sebagai tindak balasan pasukan keamanan, termasuk militer, polisi dan badan intelijen Departemen Luar Negeri (DSS) membunuh puluhan pria bersenjata dan warga sipil, di mana serangan-serangan itu terjadi.

Pengawas HAM dunia mengatakan pihaknya "mendokumentasikan setidaknya 115 orang Nigeria yang dibunuh oleh pasukan keamanan, antara Maret sampai Juni 2021."

2 dari 2 halaman

Serangan Bersenjata

Sebelumnya pada Juli 2021, lima warga sipil, empat tentara dan 40 penyerang bersenjata tewas hari Minggu dalam bentrokan di kawasan yang bergejolak di barat daya Niger di dekat perbatasan dengan Mali, kata pemerintah.

Sekitar 100 “teroris” bersenjata berat yang mengendarai sepeda motor menyerang desa Tchoma Bangou, pada hari Minggu sekitar pukul 3 sore, kata Kementerian Pertahanan Niger dalam pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah. Pernyataan itu tidak mengidentifikasi siapa yang dicurigai di balik serangan maut terbaru ini.

“Reaksi segera dan kuat” oleh Pasukan Pertahanan dan Keamanan “telah memungkinkan serangan ditangkis dan menyebabkan korban hebat di pihak musuh,” kata kementerian seraya menambahkan bahwa pasukannya telah menyita sepeda motor dan sejumlah senjata, termasuk AK47 dan senapan mesin, dari para penyerang.

Tchoma Bangou terletak di kawasan Tillaberi, berbatasan dengan Mali dan Burkina Faso. Daerah tersebut dikenal sebagai kawasan “tiga perbatasan” yang kerap menjadi sasaran kelompok-kelompok jihadis.

Tillaberi telah berada dalam keadaan darurat sejak 2017. Pihak berwenang telah melarang lalu lintas sepeda motor siang dan malam selama setahun dan memerintahkan penutupan pasar-pasar tertentu yang dicurigai menyediakan pasokan bagi “para teroris”.

Salah satu negara termiskin di dunia ini telah bertahun-tahun menghadapi pemberontak jihadis di perbatasan barat dayanya dengan Mali, serta Boko Haram di perbatasan tenggaranya dengan Nigeria. Serangan berulang kali telah menewaskan ratusan orang dan memaksa ribuan orang mengungsi dari rumah mereka.

Pada Januari lalu, 70 warga sipil tewas oleh kawanan lelaki bersenjata di Tchoma Bangou dan 30 lainnya di desa tetangga, Zaroumadareye. Bulan lalu, 19 orang tewas di desa-desa di kawasan yang sama, kata para pejabat.

Menurut perkiraan PBB, ada lebih dari 300 ribu orang yang mengungsi di dalam negeri di Niger, kebanyakan dari mereka melarikan diri dari kekerasan oleh teroris yang meningkat sejak 2015.