Sukses

3 Bahaya Tersembunyi di Balik Seprai dan Tips Periode Cuci Agar Bebas Bakteri

Liputan6.com, London - Seprai sebaiknya harus sering dicuci sesering mungkin. Lantaran dalam seprai ataupun sarung bantal lainnya terdapat bekas keringat, air liur, ketombe, sel kulit mati dan bahkan sisa makanan kecil.

Akibatnya, seprai dapat menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai kuman seperti bakteri, jamur, virus, dan bahkan serangga kecil untuk berkembang biak.

Menyadur dari The Conversation melalui CNN pada Selasa (3/8/2021), berikut adalah beberapa bahaya di balik seprai kasur Anda dan sejumlah tips menjaga kebersihan tempat tidur:

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 5 halaman

1. Menampung Bakteri

Tempat tidur memiliki berbagai spesies bakteri. Misalnya, sebuah studi menemukan seprai rumah sakit memiliki bakteri Staphylococcus. Bakteri ini biasanya tidak berbahaya, tetapi dapat menyebabkan penyakit serius ketika mereka memasuki tubuh pada luka terbuka. Bahkan spesies Staphylococcus tertentu dapat menyebabkan lebih bahaya dari kasus yang umum terjadi.

Staphylococcus aureus menjadi bakteri yang cukup menular. Bakteri tersebut dapat menyebabkan infeksi kulit, radang paru-paru dan memperburuk jerawat. Tidak hanya S. aureus ditemukan hidup di sarung bantal, penelitian juga menunjukkan bahwa beberapa strain resisten terhadap antibiotik. Studi juga mengatakan bahwa Staphylococcus, E. coli dan bakteri sejenis lainnya, yang dikenal sebagai bakteri gram negatif juga sering ditemukan di tempat tidur rumah sakit.

Bakteri gram negatif adalah masalah kesehatan yang serius karena sangat resisten terhadap antibiotik. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi serius pada manusia, termasuk infeksi saluran kemih, pneumonia, diare, meningitis, dan sepsis jika masuk ke dalam tubuh. Beberapa jenis E. coli diklaim sangat mudah menular dan mampu menyebabkan infeksi saluran kemih, diare, dan pneumonia. Inilah alasan mencuci tangan haruslah tepat setelah dari toilet. Upaya tersebut untuk mencegah perpindahan bakteri E.coli ke bagian lain rumah Anda.

Tentu saja, rumah sakit sangat berbeda dengan lingkungan rumah kita. Meski begitu, bukan berarti bakteri ini tidak mungkin masuk ke tempat tidur kita. Faktanya, sekitar sepertiga orang membawa Staphylococcus aureus di dalam tubuh mereka. Orang yang membawa S. aureus itu dapat melepaskan organisme dalam jumlah besar. Artinya bakteri Staphylococcus akan cepat bertransmigrasi ke tempat tidur Anda.

3 dari 5 halaman

2. Dapat Menarik Serangga

Saat tidur di tempat tidur, setiap manusia pada umumnya melepaskan sekitar 500 juta sel kulit per hari. Sel-sel kulit ini dapat menarik dan dimakan oleh tungau debu mikroskopis. Tungau ini dan kotorannya dapat memicu alergi bahkan asma.

Jangan anggap remeh, kutu busuk juga bisa berbahaya. Walaupun cuma serangga kecil berukuran sekitar 5mm dan belum terbukti menularkan penyakit. Mereka bisa menyebabkan bekas gigitan merah yang gatal. Di sisi lain akan mempengaruhi kesehatan mental seperti kecemasan, insomnia, dan alergi. Kutu busuk bisa bersarang pada kondisi permukaan yang lembut, seperti pakaian atau ransel, atau sejenisnya.

Solusinya adalah mencuci dan mengeringkan seprai pada suhu tinggi (sekitar 55℃). Pada suhu tersebut akan membunuh tungau debu. Sedangkan untuk kutu busuk Anda perlu penanganan lebih serius.

4 dari 5 halaman

3. Kuman Rumah Tangga

Tubuh Anda bisa membuat kuman berpindah ke tempat tidur. Mungkin saja barang-barang rumah tangga seperti pakaian, handuk, toilet atau bak mandi, permukaan dapur, atau bahkan hewan peliharaan telah terkontaminasi.

Handuk kamar mandi dan dapur menjadi sasaran lokasi berbagai spesies bakteri, termasuk S. aureus dan E. coli. Mencuci yang tidak benar dapat menyebarkan kuman justru berpindah ke barang lainya seperti seprai kasur. Handuk atau kasur bisa saja menularkan penyakit seperti gonore.

Spesies mikroba yang berbeda akan bertahan hidup pada kain untuk periode waktu yang berbeda. Contohnya, S. aureus yang dapat bertahan selama seminggu pada kapas dan dua minggu pada kain terry. Lalu, spesies jamur seperti Candida albicans sebagai penyebab sariawan, infeksi saluran kemih dan infeksi jamur genital. Mereka semua dapat bertahan pada kain hingga satu bulan.

Virus influenza juga dapat bertahan hidup pada kain dan tisu selama 8-12 jam. Beberapa jenis virus lain, seperti virus vaccinia dapat hidup di wol dan kapas hingga 14 minggu lamanya.

5 dari 5 halaman

Tips Jaga Kebersihan Tempat Tidur

Mencuci seprai secara rutin adalah langkah tepat agar kuman tidak berkembang biak dan menjadi ancaman bagi kesehatan. Lantas, berapa lama harus mengganti seprai kasur?

Sepertinya tidak mungkin mencuci seprai setiap hari. Sebaiknya Anda mencoba menarik selimut agar seprai tidak lembap dan menjadi tempat bersarang bagi bakteri dan tungau.

Anda dapat mencuci seprai setiap satu atau dua minggu sekali untuk mengurangi jumlah mikroba yang hidup di seprai. Lalu setiap bulan rutin menyedot debu kasur dan seprai kasur untuk membantu menghilangkan alergen dan debu. Balikkan kasur Anda sesering mungkin. Belilah seprai dan kasur baru jika umurnya sudah lebih dari sepuluh tahun.

Anda disarankan untuk mencuci seprai kasur sesering mungkin. Terlebih lagi bila Anda sering menghabiskan banyak waktu di tempat tidur, tidur telanjang, dan sering berkeringat di malam hari. Untuk sarung bantal setidaknya diganti setiap dua hingga tiga hari.

Semua seprai harus dicuci dengan suhu hangat hingga tinggi (sekitar 40℃-60℃) untuk membunuh kuman secara efektif. Hindari kelebihan beban mesin cuci dan gunakan sabun yang cukup. Pastikan seprai benar-benar kering sebelum digunakan.

Perlu diingat sebelum naik kasur, pastikan Anda sudah mandi sebelum tidur, hindari tidur siang dalam keadaan berkeringat. Lalu hapuslah riasan dan hindari losion, krim, dan minyak sebelum tidur. Sehingga semua dari itu dapat membantu menjaga seprai tetap bersih.

Dilarang keras untuk tidak makan atau minum di tempat tidur,jauhkanlah hewan peliharaan dari seprai dan lepaskan kaus kaki kotor.

Laporan di atas merupakan kajian dari Manal Mohammed, dosen mikrobiologi medis di University of Westminster.

 

Reporter: Bunga Ruth