Sukses

COVID-19 Varian Delta Plus Gegerkan Dunia, Kepala Ilmuwan WHO Ungkap Fakta-Faktanya

Liputan6.com, Jakarta - Dunia kembali dikhawatirkan dengan kemunculan varian baru Virus Corona COVID-19, yaitu varian Delta plus. Kepala Ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO Soumya Swaminathan membeberkan fakta-fakta terkait COVID-19 varian Delta plus.

"Alasan varian itu disebut dengan 'plus' karena memiliki mutasi lain, yang juga terlihat pada varian Beta, dan varian Gamma, yang juga berpotensi dapat berdampak pada antibodi virus," kata Soumya Swaminathan, dalam wawancara yang disiarkan WHO via Youtube, dikutip Kamis (29/7/2021).

Soumya juga mengakui adanya kekhawatiran Virus Corona jenis ini mungkin menjadi lebih mematikan, karena sekarang juga kan menjadi resisten terhadap obat dan vaksin.

Namun, ia melanjutkan, hal baiknya adalah masih sangat sedikit kasus yang dijelaskan secara global - bisa dilihat dari platform WHO yang disebut sebagai GSAID, yang mengumpulkan seluruh urutan genom virus dimana hanya beberapa puluh varian Delta yang menambahkan mutasi.

"Kita perlu mencermati hal ini, kita perlu secara pasti meningkatkan pengurutan genom di negara-negara di seluruh dunia sehingga kita dapat melacak apa yang terjadi," jelasnya.

Soumya menambahkan, diperlukan juga untuk dilakukannya lebih banyak penelitian untuk melihat apakah varian Delta plus ini dengan mutasi tambahan memiliki mutasi lain yang bersifat berbeda dari varian Delta.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Sekilas Tentang COVID-19 Varian Delta Plus

Dikutip dari laman CNN, Kamis (29/7/2021) Virus Corona varian Delta plus, yang merupakan versi baru dan sedikit berubah dari COVID-19 varian delta telah menyebar di sejumlah negara termasuk Inggris, Amerika Serikat dan India.

Strain ini, yang telah menghasilkan sejumlah besar perhatian media global, disebut B.1.617.2.1 atau AY.1 --atau varian Delta Plus singkatnya, dan merupakan versi dari varian Delta yang pertama kali terdeteksi di India pada bulan Februari.

Ini pertama kali dilaporkan Public Health England, badan kesehatan pemerintah Inggris, pada 11 Juni. Tetapi beberapa kasus pertama Inggris yang telah diurutkan pada 26 April menunjukkan bahwa varian mungkin telah hadir dan menyebar pada musim semi.

Pemerintah India mengatakan telah menyerahkan varian tersebut ke Global Data System, dan mengirim sampel untuk pengujian genomik. Sekitar 200 kasus telah terlihat di 11 negara.

Para ahli kesehatan sedang menyelidiki apakah Delta Plus mungkin lebih menular daripada strain lain seperti varian Alpha atau Delta. Tetapi, masih terlalu dini untuk mengatakan dengan pasti apa efeknya.

3 dari 3 halaman

Infografis Yuk Ketahui Perbedaan Gejala COVID-19 Varian Alpha, Beta dan Delta