Sukses

Pedro Castillo Terpilih Jadi Presiden Baru Peru, Menang Tipis dari Pesaing

Lima - Peru kini telah memiliki presiden baru. Hasil pemilu telah diumumkan. Pedro Castillo yang memenangkan pesta rakyat tersebut, tipis dari pesaingnya dengan lebih dari 44.000 suara.

Mengutip DW Indonesia dari Komisi Pemilu Peru ONPE, Kamis (22/7/2021), kandidat dari partai Marxis-Leninis Peru Libre Pedro Castillo memenangkan 50,12 persen suara. Sementara pesaingnya dari kubu populis sayap kanan Keiko Fujimori 49,87 persen dalam pemilihan presiden 6 Juni lalu.

Sang pesaing, Keiko Fujimori awalnya menolak mengakui hasil penghitungan dan mengajukan gugatan. Kendati demikian, pada Senin 19 Juli Badan Pemilihan Tertinggi JNE menyatakan Pedro Castillo sebagai pemenang pemilu.

Keiko Fujimori, 46, pada awalnya memimpin, tetapi gelombang berbalik ketika suara dari daerah pedesaan, di mana Castillo mendapat dukungan kuat, dihitung. Dia menuduh "penyimpangan" dalam penghitungan dan "tanda-tanda penipuan," dalam tuduhan yang dibantah oleh ONPE.

Kemudian pemantau pemilu dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) juga menyatakan bahwa pemilu Peru berlangsung tanpa penyimpangan besar.

 

2 dari 2 halaman

Keiko Fujimori Terima Kekalahan

Segera setelah pengumuman itu, Keiko Fujimori, putri mantan presiden Alberto Fujimori, dalam pidato yang disiarkan televisi menyatakan bahwa dia akan "menerima hasil ini, karena itulah hukum dan konstitusi yang dia bersumpah untuk mempertahankannya."

Sementara Pedro Castillo mengucapkan terimakasih kepada rakyat Peru dan para pendukungnya: "Terima kasih kepada rakyat Peru atas kemenangan bersejarah ini," tulisnya di Twitter.

Kemenangan Pedro Castillo merupakan pukulan telak bagi kalangan elit politik di ibukota Peru, Lima, yang lebih dekat ke kubu Fujimori. Mereka menganggap Castillo sebagai "orang luar" dan tidak punya kapasitas. Sebelum memulai kampanyenya, Castillo bahkan tidak memiliki akun Twitter. Para pengamat pasar di Peru khawatir bahwa investor asing akan menarik modalnya.

Tantangan besar Keiko Fujimori, yang merencanakan untuk mengampuni ayahnya jika dia menang, adalah pendukung kebijakan ekonomi neoliberal.

Meskipun Pedro Castillo dan Keiko Fujimori mewakili kubu politik yang yang berlawanan, sebenarnya mereka tidak jauh berbeda dalam pandangan sosial-politik. Keduanya mewakili citra keluarga yang konservatif, menentang pernikahan sesama jenis dan aborsi. Keduanya juga fokus pada eksploitasi sumber daya alam dan tidak terlalu mementingkan perlindungan lingkungan dan hak asasi manusia.

Pedro Castillo akan menghadapi tantangan besar sebagai presiden. Peru sangat menderita akibat pandemi virus corona, dengan tingkat kematian tertinggi di dunia. Ekonominya tahun lalu menyusut 12,9 persen.