Sukses

Virus Corona COVID-19 Varian Delta Jadi Ancaman Baru Bagi Amerika Serikat

Liputan6.com, Jakarta - Pakar penyakit menular AS, Dr Anthony Fauci mengkhawatirkan bahwa varian Delta dari Virus Corona baru yang pertama kali ditemukan di India sebagai ancaman terbesar bagi upaya Amerika Serikat untuk memberantas COVID-19 di perbatasannya.

"Penularan tidak diragukan lagi lebih besar" dalam varian Delta daripada varian asli COVID-19, kata Fauci, menambahkan bahwa "ini terkait dengan peningkatan keparahan penyakit". Demikian seperti mengutip laman Channel News Asia, Rabu (23/6/2021). 

Kepala ilmuwan WHO pun sudah menyatakan bahwa Varian Delta menjadi versi penyakit yang dominan secara global.

Fauci mengatakan bahwa vaksin yang disahkan di Amerika Serikat, termasuk vaksin Pfizer-BioNTech, efektif melawan varian baru COVID-19.

"Kami punya alatnya, jadi mari kita gunakan dan hancurkan wabah ini," kata Fauci.

 

2 dari 3 halaman

Target Vaksinasi AS Gagal Tercapai

Amerika Serikat gagal mencapai tujuannya untuk memvaksinasi 70 persen orang dewasa pada 4 Juli dan kemungkinan akan membutuhkan beberapa minggu tambahan untuk mencapai target itu, kata penasihat senior COVID-19 Gedung Putih Jeffrey Zients selama panggilan pers.

Zients menambahkan bahwa dia memperkirakan 70 persen orang dewasa di atas 27 tahun akan memiliki setidaknya satu dosis vaksin pada 4 Juli.

Lebih dari 150 juta orang di Amerika Serikat, atau lebih dari 45 persen dari populasi, telah divaksinasi penuh, menurut data federal yang terakhir diperbarui pada Senin 21 Juni 2021. 

Varian Delta berkontribusi terhadap wabah COVID-19 yang parah di India selama April dan Mei, yang kemudian membanjiri layanan kesehatan di negara itu dan menewaskan ratusan ribu orang.

3 dari 3 halaman

Infografis Perbedaan Gejala COVID-19 Varian Alpha, Beta dan Delta: