Sukses

WHO Nyatakan Wabah Ebola di Guinea Telah Berakhir

Liputan6.com, Conakry - Wabah Ebola yang dimulai di Guinea pada Februari 2021 dan menginfeksi 16 orang serta menewaskan 12 orang, telah dinyatakan berakhir, kata kementerian kesehatan negara Afrika Barat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Saya mendapat kehormatan untuk mengumumkan berakhirnya Ebola di Guinea," kata pejabat WHO Alfred Ki-Zerbo pada Sabtu (19/66) dalam sebuah upacara di wilayah tenggara Nzerekore, demikian dikutip dari laman Al Jazeera, Senin (21/6/2021).

Menteri Kesehatan Remy Lamah menambahkan: "Atas nama kepala negara (Presiden Alpha Conde) saya ingin menyatakan berakhirnya kebangkitan Ebola di Guinea."

Otoritas kesehatan dapat bergerak cepat untuk mengatasi kebangkitan virus setelah mendapatkan pengalaman dari wabah sebelumnya di Guinea dan Republik Demokratik Kongo.

"Berdasarkan pelajaran dari wabah 2014 sampai 2016 dan melalui upaya respons yang cepat dan terkoordinasi, Guinea berhasil mengendalikan wabah dan mencegah penyebarannya di luar perbatasannya," kata kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan.

Pada Februari 2021, Guinea meluncurkan program vaksinasi untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut.

"Kami berhasil dengan sangat cepat untuk menghasilkan upaya seputar vaksinasi Ebola dan menahan penularan menggunakan pendekatan diagnostik yang sangat efektif," kata Sterghios Moschos, ilmuwan biomedis dan ahli penyakit virus, mengatakan kepada Al Jazeera.

Di antara pendekatan ini, Moschos menjelaskan penerapan skema vaksinasi cincin yang memungkinkan orang yang berada di sekitar individu yang terinfeksi Ebola, divaksinasi dengan sangat cepat dan dilindungi dengan kemanjuran 100 persen.

 

2 dari 2 halaman

Belasan Ribu Orang Meninggal Akibat Ebola

Dana yang disediakan oleh masyarakat internasional sebagai tanggapan terhadap wabah sebelumnya juga memainkan peran kunci dalam mengatasi krisis Ebola tahun ini, kata Moschos menjelaskan.

Wabah Ebola pada 2014-2016 menewaskan 11.300 orang, sebagian besar di Guinea, Sierra Leone, dan Liberia.

Ebola menyebabkan demam parah dan, dalam kasus terburuk, pendarahan tak terbendung. Ini ditularkan melalui kontak dekat dengan cairan tubuh, dan orang-orang yang tinggal dengan atau merawat pasien Ebola paling berisiko.