Sukses

WHO: 184 Negara Bergabung ke COVAX untuk Cari Vaksin COVID-19

Liputan6.com, Jenewa - WHO menyambut gembira banyaknya negara-negara di dunia yang bergabung ke COVAX. Inisiatif itu merupakan kerja sama mencari vaksin COVID-19 dan memudahkan akses agar semua kalangan bisa mendapat vaksin.

COVAX merupakan inisiatif gabungan aliansi vaksin GAVI, yayasan pendanaan vaksin CEPI, serta WHO.

"Pada 9 Oktober, saya bercerita bahwa 171 negara dan ekonomi telah menjadi bagian dari inisiatif COVAX untuk akses vaksin yang dipimpin GAVI, CEPI, dan WHO. Saya senang mengumumkan bahwa sekarang 184 negara telah bergabung dengan COVAX," ujar Dirjen WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers, Selasa (20/10/2020).

Dr. Tedros mengumumkan dua negara yang baru bergabung adalah Uruguay dan Ekuador.

WHO menegaskan bahwa COVAX mewakili portofolio potensi vaksin COVID-19 di dunia. COVAX bertekad untuk berbagi vaksin dengan adil di seluruh dunia.

Pekan lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi berkata Indonesia telah bertemu WHO dan GAVI untuk menunjukan ketertarikannya bergabung dengan COVAX. 

China juga sudah bergabung dengan COVAX.  

Berdasarkan data Johns Hopkins University, total kasus COVID-19 sudah tembus 40 juta di seluruh dunia. Eropa sedang menghadapi gelombang baru pandemi.

Dr. Tedros pun meminta agar masyarakat tetap mengikuti protokol kesehatan seperti memakai masker dan berjaga jarak.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 4 halaman

Kurangnya Fasilitas Pendingin Bakal Jadi Kendala Penyimpanan Vaksin Corona COVID-19

Kandidat vaksin virus Corona yang tengah diproduksi di seluruh dunia sangat membutuhkan pendingin steril nonstop agar tetap berfungsi.

Meskipun ada langkah besar dalam melengkapi negara-negara berkembang untuk mempertahankan "suhu dingin" untuk vaksin, hampir 3 miliar dari 7,8 miliar orang di dunia tinggal di tempat-tempat dengan penyimpanan suhu terkontrol yang tidak memadai guna mengendalikan keefektifan vaksin Corona COVID-19. 

Hasilnya, orang miskin di seluruh dunia kemungkinan besar menjadi yang terakhir keluar dari pandemi, demikian dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (20/10/2020).

Mempertahankan suhu dingin untuk vaksin virus Corona harus berada di sekitar minus 70 derajat Celsius.

Pakar logistik mengatakan, sebagian besar negara Afrika dan sebagian besar Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Amerika Latin kekurangan infrastruktur untuk mengawetkan vaksin yang lebih konvensional.

Sebuah klinik medis kecil di luar ibu kota Burkina Faso sudah hampir setahun tidak memiliki fasilitas ini.

Untuk meningkatkan alat pendingin di negara berkembang, organisasi internasional telah mengawasi pemasangan puluhan ribu lemari es vaksin bertenaga surya.

Menjaga keamanan vaksin Corona COVID-19 yang sensitif terhadap suhu dari awal hingga akhir juga membutuhkan listrik yang andal, jalan yang baik, dan perencanaan.

3 dari 4 halaman

Menanti Hasil Uji Klinis Calon Vaksin COVID-19

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: