Sukses

HEADLINE: Ledakan di Beirut Lebanon Bagai Bom Atom, Kecelakaan atau Serangan?

Liputan6.com, Beirut - "Boom... Boom..." Dua ledakan dahsyat, berselang seper sekian detik, mengguncang Beirut, Ibu Kota Negara Lebanon. Selain suara menggelegar menyakitkan telinga, api berkobar, dan asap membumbung membentuk kepala jamur besar, ledakan itu juga menggetarkan tanah seperti gempa bumi dengan magnitudo 3,3.

Orang-orang terluka tergeletak di tanah dekat pelabuhan Beirut, yang jadi lokasi tragedi. Bangunan di sekitarnya hancur, rata dengan tanah. Mobil-mobil terbalik, dan jalanan dipenuhi puing-puing.

"Aku tidak percaya aku masih hidup," ujar Nada Hamza, salah seorang warga Beirut yang berada di tempat ledakan.

"Saya berada beberapa meter dari pusat listrik di Lebanon, yang sejajar dengan pelabuhan," imbuhnya, seperti dikutip dari Al Jazeera. 

Editor Sky News Timur Tengah, Zein Ja'far, yang berada di pusat kota Beirut saat insiden pada Selasa 4 Agustus sore, mengatakan ledakan besar menyebabkan jendela runtuh dan membentuk seperti gua.

"Ledakan ini merobek fasad bangunan tempat kami berada, dan begitu debu mereda, kami dan orang lain di blok ini bergegas ke luar. Benar-benar pemandangan yang mengkhawatirkan," kata Ja'far.

"Suara sirene brigade pemadam kebakaran, ambulans, polisi dan juga militer telah cukup gencar selama 45 menit terakhir dan sejumlah besar layanan darurat dan pasukan keamanan bergegas ke daerah itu sekarang," ungkap dia.

Ja'far menyaksikan banyak orang yang sangat linglung, dengan berlumuran darah berjalan-jalan mencoba mengumpulkan sisa tenaga mereka.

Seorang warga setempat bernama Fady Roumieh, berdiri di tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan sekitar 2 km dari timur ledakan. Dia berkata, "(Ledakan itu) seperti bom nuklir. Kerusakan begitu luas dan parah di seluruh kota".

"Beberapa bangunan sejauh 2 km sebagian runtuh. Ini seperti zona perang. Kerusakannya ekstrem. Tidak ada satu pun jendela kaca yang utuh," tutur Fady.

Gubernur Beirut Marwan Abboud tak bisa menahan tangisnya ketika memantau lokasi ledakan. Ia mengaku tak pernah melihat bencana seperti ini seumur hidupnya. 

"Saya tak pernah melihat kehancuran seperti ini. Ini adalah petaka nasional. Ini adalah bencana bagi Lebanon," ujar Abboud saat diwawancara Sky News Arabia

Ledakan di Beirut, Lebanon, mengakibatkan terjadinya kepulan asap tinggi, sehingga pengguna media sosial menyebutnya mirip dengan bom Hiroshima. 

Marwan Abboud juga ikut berpikir demikian. "(Ini) mirip dengan apa yang terjadi di Hiroshima dan Nagasaki," ucapnya. 

Palang Merah Lebanon mengumumkan ledakan di Beirut, telah merenggut nyawa lebih dari 100 orang. Angka korban terus bertambah dalam 12 jam terakhir. Pencarian korban pun masih belum selesai.

"Hingga kini, lebih dari 4.000 orang telah terluka dan lebih dari 100 telah kehilangan nyawa mereka," ujar Palang Merah Lebanon, seperti dikutip AFP.

"Tim-tim kami masih melakukan operasi search and rescue di area sekitar," jelas pihak Palang Merah Lebanon

Presiden Lebanon Michel Aoun mengaku telah mengetahui sumber penyebab ledakan. Dalam akun Twitter Kepresidenan Lebanon, Aoun mengungkap penyebab ledakan di Beirut itu berasal dari 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di pelabuhan Beirut sebelum dikirim ke Afrika.

Ia menyatakan, penimbunan ribuan ton amonium nitrat di sebuah gudang tanpa langkah keamanan seperti itu tidak dapat diterima.

Aoun menekankan, mereka yang bertanggung jawab atas tragedi ledakan di Beirut tersebut harus diganjar hukuman paling berat, seperti dikutip dari kantor berita Anadulo.

Otoritas Lebanon langsung menyatakan Beirut sebagai "daerah bencana" akibat peristiwa itu. Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon menyatakan status darurat di Ibu Kota Beirut selama dua pekan ke depan.

Komite investigasi juga telah dibentuk guna menyiapkan laporan mengenai ledakan dalam lima hari ke depan.

Infografis Dahsyatnya Ledakan di Beirut Lebanon (Liputan6.com/Triyasni)

Serangan Israel?

Israel yang telah lama berperang dengan kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah, diduga ada di balik ledakan Beirut. Meski begitu, pihak Israel menampik terlibat dalam tragedi tersebut.

"Israel membantah ada hubungan dengan ledakan yang mengguncang Lebanon pada Selasa, 4 Agustus 2020," demikian dikutip dari laman english.alarabiya.net.

"Israel tidak ada hubungannya dengan insiden itu," kata pejabat anonim tersebut.

Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Israel Gabi Ashkenazi, mengatakan kepada televisi Israel N12 bahwa ledakan itu kemungkinan besar merupakan kecelakaan yang disebabkan kebakaran.

Yon Machmudi, Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia menilai, Israel tidak bisa lepas begitu saja dari berbagai tudingan di balik ledakan di Beirut.

"Ini kan sebenarnya soal pelabuhan Beirut yang beberapa tahun belakangan itu disorot oleh Amerika dan Israel sebagai pelabuhan Hizbullah. Mereka menuduh bahwa pelabuhan itu dijadikan sebagai tempat penyelundupan senjata atau amunisi yang dianggap membahayakan stabilitas kawasan," ungkap Yon saat dihubungi Liputan6.com.

Lebanon, menurutnya, telah lama menjadi penghubung penyelundupan senjata ke Suriah, yang juga mengancam keamanan Israel. 

"Dengan adanya bom itu, tentu saya kira perlu dilihat juga sebenarnya bahwa ledakan itu yang pertama bagaimana sebuah bahan peledak, jumlahnya cukup banyak, itu tersimpan tanpa pengawasan dan itu adalah bahan peledak yang disita pelabuhan beberapa tahun belakangan," lanjutnya.

Yon menjelaskan, bahwa tidak bisa dipungkiri di mana otoritas pemerintah tidak dapat sepenuhnya mengawasi dan mengontrol di pelabuhan tersebut. Hal ini pun kemudian menimbulkan spekulasi terkait apakah kemudian bahan peledak tersebut meledak dengan sendirinya atau ada pihak yang meledakkan.

Meski penyebab ledakan masih belum jelas, insiden ini tentu menunjukkan kelalaian dari pihak pemerintah terkait kontrol terhadap penyimpanan bahan peledak yang jumlahnya sangat besar.

Lantas, apakah insiden ini kemudian berpotensi terhadap keadaan keamanan di kawasan? Yon menyatakan bahwa hal ini tentu memiliki dampak terhadap Timur Tengah. 

"Bagaimanapun kan Lebanon selama ini jadi negara untuk menyalurkan proxy, termasuk penyelundupan persenjataan, biasanya sih dari Iran lewat Lebanon kemudian Suriah atau dari Iran ke Hizbullah dan membahayakan keamanan Israel."

"Jadi memang kondisi ini saya kira mau tidak mau akan mempengaruhi situasi seperti ini," jelas Yon. 

Dia menilai, tragedi ledakan ini memiliki potensi sabotase, namun siapa pelakunya tentu masih menjadi misteri hingga saat ini.

Ia menyampaikan beberapa teori yang kemudian muncul seperti adanya pihak yang menganggap Israel sebagai pelaku lantaran belakangan, negara Yahudi itu beberapa kali komplain terhadap masuknya penyelundupan senjata dan bahan peledak di pelabuhan Beirut.  Selain itu, ada pula yang meyakini bahwa Hizbullah sendiri yang memiliki kaitan dengan insiden ini. 

"Tapi kalau melihat track record Hizbullah sendiri, lebih banyak menjadi ancaman luar negeri daripada secara khusus mengorbankan rakyat Lebanon," ujar Yon.

Yon menyimpulkan, kondisi warga Lebanon saat ini tengah menunjukkan kemarahannya kepada pemerintah yang dinilai tidak mampu melindungi rakyatnya dari ancaman. Tragedi ledakan ini pun menjadi sebuah bentuk kelalaian pemerintah Lebanon dalam mengantisipasi insiden tersebut.

2 dari 5 halaman

Hasil Penyelidikan Awal

Perdana menteri Lebanon Hassan Diab mengatakan, 2.750 ton amonium nitrat meledak di pelabuhan Beirut setelah terdampar tanpa jaminan di sebuah gudang selama enam tahun. Hal itu sesuai dengan laporan bahwa sebuah kapal yang membawa bahan kimia dengan jumlah serupa telah menurunkan muatannya di pelabuhan pada 2013.

Meski begitu, masih belum jelas apa yang menyebabkan amonium nitrat itu terbakar.

Namun, Laporan The Guardian menyebut, jika angka 2.750 ton itu akurat, sebenarnya akan membuat ledakan amonium nitrat lebih besar daripada Texas City Disaster atau Bencana Kota Texas pada 1947. Ketika itu konsinyasi 2.300 ton amonium nitrat meledak, menewaskan hampir 500 orang.

Ledakan di Texas kala itu menciptakan gelombang ledakan 4,5 meter (15 kaki).

Penyelidikan awal menunjukkan kelalaian dan tidak adanya tindakan selama bertahun-tahun atas penyimpanan bahan yang sangat eksplosif di Pelabuhan Beirut telah menyebabkan ledakan dahsyat.

"Ini adalah kelalaian," kata seorang sumber pemerintah kepada Reuters, yang menambahkan bahwa masalah keamanan penyimpanan telah dibawa ke beberapa komite dan hakim tetapi "tidak ada yang dilakukan" untuk mengeluarkan perintah pemindahan atau pembuangan bahan mudah terbakar itu.

Sumber itu mengatakan, api mulai membakar gudang nomor 9 di pelabuhan dan menjalar ke gudang 12, di mana amonium nitrat disimpan.

Ledakan tersebut adalah yang paling kuat yang pernah diderita oleh Beirut, sebuah kota yang masih dilanda perang saudara tiga dasawarsa lalu dan terhuyung-huyung akibat krisis keuangan yang dalam yang berakar pada korupsi selama puluhan tahun dan pengelolaan ekonomi yang buruk.

Direktur Jenderal Bea Cukai Lebanon Badri Daher mengatakan kepada penyiar LBCI bahwa bea cukai telah mengirim enam dokumen ke pengadilan, memperingatkan bahwa bahan itu menimbulkan bahaya. "Kami meminta agar diekspor kembali tetapi itu tidak terjadi. Kami serahkan kepada para ahli dan mereka yang terkait untuk menentukan alasannya," kata Daher.

Sumber lain yang dekat dengan seorang karyawan pelabuhan mengatakan sebuah tim yang memeriksa amonium nitrat enam bulan lalu memperingatkan bahwa jika tidak dipindahkan itu akan "meledakkan seluruh Beirut".

Menurut dua dokumen yang dilihat oleh Reuters, Bea Cukai Lebanon telah meminta pengadilan pada tahun 2016 dan 2017 untuk meminta "agen maritim yang bersangkutan" untuk mengekspor kembali atau menyetujui penjualan amonium nitrat, dikeluarkan dari kapal kargo, Rhosus, dan disimpan di gudang 12, untuk memastikan keamanan pelabuhan.

Salah satu dokumen mengutip permintaan serupa pada 2014 dan 2015.

"Investigasi lokal dan internasional perlu dilakukan terhadap insiden tersebut, mengingat skala dan keadaan di mana barang-barang ini dibawa ke pelabuhan," kata Ghassan Hasbani, mantan wakil perdana menteri dan anggota partai Pasukan Lebanon.

Shiparrested.com, sebuah jaringan industri yang berurusan dengan kasus-kasus hukum, telah mengatakan dalam sebuah laporan 2015 bahwa Rhosus, berlayar di bawah bendera Moldova, merapat di Beirut pada September 2013 ketika mengalami masalah teknis dalam pelayaran dari Georgia ke Mozambik dengan 2.750 ton amonium nitrat.

Dikatakan bahwa, setelah diperiksa, kapal itu dilarang berlayar dan tak lama kemudian ditinggalkan oleh pemiliknya, yang mengarah ke berbagai kreditor yang mengajukan tuntutan hukum.

"Karena risiko yang terkait dengan mempertahankan amonium nitrat di atas kapal, otoritas pelabuhan mengeluarkan muatan ke gudang pelabuhan," tambahnya.

Mengenal Amonium Nitrat

Amonium nitrat merupakan bahan kimia industri yang umum digunakan terutama untuk pupuk, karena merupakan sumber nitrogen yang baik untuk tanaman. Ini juga merupakan salah satu komponen utama dalam penambangan bahan peledak.

Bahan kimia ini tidak bisa meledak dengan sendirinya, melainkan sebagai pengoksidasi, menarik oksigen ke api - dan karenanya membuat ledakannya jauh lebih kuat. Demikian menurut Gabriel da Silva, seorang dosen senior teknik kimia di University of Melbourne.

Namun, kata da Silva, amonium nitrat terbakar hanya dalam keadaan yang tepat, dan ini sulit dicapai. "Anda perlu keadaan ekstrem untuk memicu ledakan," katanya.

Walaupun amonium nitrat sebenarnya dapat memadamkan api, jika bahan kimia itu sendiri terkontaminasi, misalnya dengan minyak, ia menjadi sangat mudah meledak. "Saya pikir itulah yang terjadi di sini," kata da Silva.

Sementara bahan kimia di udara harus menghilang dengan cepat, polutan yang tersisa dapat menyebabkan masalah di kemudian hari, misalnya jika mereka mengasamkan hujan.

"Jika Anda melihat asap yang berasal dari ledakan itu adalah warna merah darah semacam ini. Itu karena polutan udara nitrogen oksida di dalamnya," jelas da Silva.

 

3 dari 5 halaman

Reaksi Pemimpin Dunia

Lebanon diguncang ledakan dahsyat di Ibu Kota Beirut, Selasa 4 Agustus waktu setempat. Sejumlah pemimpin dunia telah memberikan dukungan kepada Lebanon atas insiden ledakan besar yang menewaskan sedikitnya 73 orang dan melukai lebih dari 3.700 itu.

Penyebab ledakan belum secara jelas terungkap. Namun, kepala keamanan internal Lebanon Abbas Ibrahim mengatakan ledakan dipicu oleh 2.700 ton Amonium Nitrat yang tersimpan di lokasi ledakan di daerah pelabuhan kota itu.

Ledakan tersebut melepaskan gelombang kejut ke seluruh kota, meratakan sebagian besar pelabuhan, merusak bangunan, dan mengirim awan jamur raksasa ke langit.

Beberapa jam setelah ledakan di Beirut, ambulans terus membawa yang terluka ketika helikopter militer membantu memerangi kebakaran yang mengamuk di pelabuhan. Para pejabat memperkirakan jumlah kematian akan meningkat. 

Berikut ini reaksi para pemimpin dunia yang dikutip dari Aljazeera, Rabu (5/8/20200):

Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan solidaritas dengan Lebanon dan mengatakan Prancis mengirim sumber daya ke lokasi ledakan.

"Saya menyatakan solidaritas persaudaraan saya dengan Lebanon setelah ledakan yang menewaskan begitu banyak korban dan kerusakan malam ini di Beirut. Prancis berdiri di samping Lebanon. Selalu. Bantuan dan sumber daya Perancis sedang diangkut di tempat [ledakan]," tulis Macron di Twitter.

Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian juga mengirim pesan dukungan ke Lebanon, menulis di Twitter bahwa Perancis siap membantu segala kebutuhan yang akan diungkapkan oleh otoritas Lebanon.

Iran 

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif mengatakan Teheran siap membantu dengan cara apa pun dan mendesak Lebanon untuk "tetap kuat".

"Pikiran dan doa kami bersama orang-orang Lebanon yang hebat dan tangguh," tulis Zarif di Twitter.

"Seperti biasa, Iran siap sepenuhnya untuk memberikan bantuan dengan cara apa pun yang diperlukan. Tetap kuat, Lebanon."

Israel

Israel mengatakan telah menawarkan bantuan kemanusiaan ke Lebanon melalui saluran asing, karena para tetangga tidak memiliki hubungan diplomatik.

"Di bawah arahan Menteri Pertahanan Benny Gantz dan Menteri Luar Negeri Gabi Ashkenazi, Israel mendekati Lebanon melalui pertahanan internasional dan saluran diplomatik untuk menawarkan bantuan kemanusiaan medis pemerintah Lebanon ," tulis Gantz di Twitter. 

Inggris

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson menyatakan kesiapannya untuk membantu Lebanon dengan cara apa pun yang memungkinkan.

"Gambar-gambar dan video-video dari Beirut malam ini mengejutkan. Semua pikiran dan doa saya bersama orang-orang yang terperangkap dalam insiden mengerikan ini. Inggris siap memberikan dukungan dengan cara apa pun yang kami bisa, termasuk kepada warga negara Inggris yang terkena dampak," tulis Johnson di Twitter. 

Qatar 

Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani memanggil Presiden Michel Aoun untuk menyampaikan belasungkawa, menurut Kantor Berita Qatar milik pemerintah. Negara Teluk mengatakan  akan mengirim rumah sakit lapangan untuk mendukung respon medis Lebanon.

Sheikh Tamim berharap "pemulihan cepat bagi yang terluka", QNA melaporkan, menambahkan bahwa ia "menyatakan solidaritas Qatar dengan persaudaraan Lebanon dan kesediaannya untuk menyediakan semua jenis bantuan".

Amerika Serikat

Presiden Donald Trump mengatakan dia mengirim simpatinya ke Lebanon untuk puluhan orang yang tewas dan ribuan lainnya luka-luka dalam ledakan itu, yang dia gambarkan sebagai serangan, dan menawarkan bantuan AS.

"Amerika Serikat siap membantu Lebanon," kata Trump pada pertemuan Gedung Putih. "Kami akan berada di sana untuk membantu. Sepertinya serangan yang mengerikan."

Menteri Luar Negeri Mike Pompeo menggambarkan ledakan itu sebagai "tragedi" dan menawarkan bantuan AS ke Lebanon."Kami sedang memantau dan siap membantu orang-orang Lebanon ketika mereka pulih dari tragedi yang mengerikan ini," tulis Pompeo di Twitter.

Pompeo dalam pernyataan yang menyertainya mengatakan bahwa AS akan menunggu temuan pihak berwenang Lebanon tentang penyebab ledakan itu.

"Tim kami di Beirut telah melaporkan kepada saya kerusakan parah pada sebuah kota dan orang-orang yang saya sayangi, sebuah tantangan tambahan di masa krisis yang sudah dalam," kata Pompeo, yang telah berbicara di masa lalu tentang kepentingan pribadinya di Lebanon.

Turki

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Lebanon, menambahkan bahwa Ankara siap membantu dalam "segala hal".

"Mohon rahmat Allah kepada mereka yang kehilangan nyawanya dalam ledakan itu terjadi di pelabuhan Beirut. Belasungkawa kepada saudara-saudara dan orang-orang yang ramah di Lebanon. Berharap tidak akan ada lagi kerugian. Siap membantu saudara-saudari Lebanon kami di setiap cara, "kata  Cavusoglu.

Presiden Turki Erdogan juga menawarkan bantuan kemanusiaan dalam percakapan telepon dengan timpalannya dari Lebanon Michel Aoun.

Arab Saudi

Kementerian luar negeri Arab Saudi mengatakan mengikuti dengan keprihatinan besar konsekuensi dari ledakan pelabuhan Beirut, menurut kantor berita negara.Pernyataan itu juga menegaskan dukungan penuh dan solidaritas kerajaan dengan rakyat Lebanon.

Jerman

Kementerian luar negeri Jerman mengatakan staf di kedutaan Jerman terluka dalam ledakan itu.

"Yang terluka juga termasuk personel kedutaan," kata kementerian itu. "Kami tidak bisa untuk saat ini mengecualikan warga negara Jerman yang mencari di antara orang mati dan terluka."

Gedung kedutaan Jerman, yang terletak tidak jauh dari pelabuhan, rusak tetapi "keseriusan kerusakan belum dapat ditentukan untuk saat ini," kata kementerian luar negeri.

Kanselir Angela Merkel mengatakan melalui juru bicaranya bahwa dia terkejut dengan acara itu dan berjanji akan membantu Lebanon.

Italia

Menteri Luar Negeri Italia Luigi Di Maio turun ke media sosial untuk berharap "pemulihan cepat" bagi mereka yang terluka dalam ledakan itu.

"Italia dekat dengan teman-teman Lebanon di saat yang tragis ini. Pikiran kami ditujukan kepada keluarga para korban, kepada siapa kami menyatakan belasungkawa mendalam kami, dan kepada orang-orang yang terluka, kepada siapa kami menginginkan pemulihan yang cepat," kata Di Maio.

 

4 dari 5 halaman

Imbauan untuk WNI

Insiden ledakan yang terjadi di Lebanon telah menewaskan lebih dari 100 orang dan ribuan lainnya terluka. Pemerintah Indonesia pun menyampaikan ucapan duka citanya atas tragedi tersebut.

"Pemerintah Indonesia mengucapkan duka cita dan simpati yang mendalam kepada keluarga, Pemerintah dan Rakyat Lebanon atas peristiwa ledakan yang terjadi di pelabuhan Beirut yang menyebabkan korban jiwa dan luka-luka," demikian seperti tertulis dalam pernyataan resmi melalui portal website resmi Kementerian Luar Negeri, Rabu (5/8/2020).

Dalam pernyataan tersebut dinyatakan pula bahwa rakyat Indonesia akan senantiasa bersama dengan warga Lebanon dalam menghadapi situasi sulit dan kesedihan ini. 

Saat ini, pemerintah Indonesia akan terus memantau perkembangan situasi di Lebanon pascaledakan.

Menlu RI Retno Marsudi pun terus melakukan komunikasi dengan Dubes RI di Beirut Hajriyanto Thohari, terutama untuk memperoleh informasi perkembangan situasi dan memastikan keselamatan serta keamanan WNI.

Di antara korban luka ledakan Beirut, ada seorang WNI bernama Ni Nengah Erawati. Lukanya telah mendapat jahitan dari dokter dan kini sudah dibolehkan pulang. 

Usai ledakan di Beirut, Lebanon, Kementerian Luar Negeri meminta agar WNI tetap waspada jika ada dampak susulan dari peristiwa itu, serta berkomunikasi dengan KBRI di Beirut. 

"Perlindungan yang diberikan sesuai protap. Pertama, memastikan keselamatan mereka dan selanjutnya memintakan kewaspadaan apabila ada ekses lanjutan dari ledakan tersebut," ujar (plt.) Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada Liputan6.com.

Terpisah, Duta Besar RI untuk Lebanon Hajriyanto Y. Thohari memastikan kondisi WNI saat ini aman setelah ledakan di Beirut, Lebanon. Mereka semua diminta berkomunikasi lewat nomor hotline dan WhatsApp yang tersedia. 

Meski demikian, Dubes Hajriyanto belum menjawab apakah saat ini kondisi sudah aman bagi WNI untuk kembali beraktivitas.

"KBRI telah menyampaikan imbauan melalui WAG dan melalui simpul-simpul WNI. Sejauh ini WNI terpantau aman. KBRI telah mengimbau utk segera melapor apabila berada dalam situasi tidak aman," jelas Dubes Hajriyanto.

Dalam catatan KBRI, terdapat 1.447 WNI yang tinggal menetap di Lebanon. 1.234 orang di antaranya merupakan Kontingen Garuda yang tergabung dalam Misi Perdamaian PBB UNIFIL, sedang 213 lainnya merupakan WNI sipil.

Kontingen Garuda yang tergabung dalam UNIFIL FC pun kini tengah membantu penanganan pasca ledakan termasuk evakuasi korban.

5 dari 5 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: