Sukses

Kematian Misterius Akibat Vape Makin Banyak di AS, Kini 52 Orang Tewas

Liputan6.com, Washington, D.C. - Apabila ada yang menyebut vape tidak berbahaya seperti rokok konvensional, ternyata rokok elektrik ini malah menciptakan penyakit baru. Penyakit misterius ini menyerang paru-paru dan ilmuwan masih belum menemukan penyebabnya secara pasti. 

Dilaporkan VOA Indonesia, Jumat (13/12/2019), pejabat kesehatan di AS mengatakan ada tambahan empat kasus kematian akibat penyakit pernapasan misterius yang terkait rokok elektrik sejak pekan lalu.

Dengan kematian baru itu, jumlah kematian terkait rokok elektrik bertambah menjadi 52 orang.

Menurut Reuters, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) juga melaporkan per 10 Desember, ada tambahan sebanyak 118 penderita baru yang dirawat di rumah sakit. Penderita baru itu berasal dari dari 50 negara bagian, Distrik Columbia, dan dua wilayah AS. Jumlah orang yang dirawat terkait vape sekarang mencapai 2.409.

Kasus kematian di 26 negara bagian dan Distrik Columbia sudah dikonfirmasi.

Para pejabat AS bulan lalu melaporkan penemuan Vitamin E asetat. Bahan itu diyakini digunakan sebagai bahan untuk mengencerkan produk vape ilegal yang mengandung komponen ganja. Vitamin E asetat itu ditemukan dalam sampel jaringan paru-paru dari 29 pasien.

CDC menyatakan Vitamin E asetat sebagai "bahan kimia yang mengkhawatirkan" dan merekomendasikan bahan kimia itu tidak ditambahkan pada rokok elektrik atau produk vape lainnya. Sementara itu, penyelidikan masih berlangsung.

2 dari 4 halaman

Peringatan Asosiasi Dokter AS

Sebelumnya, Asosiasi Kedokteran Amerika (AMA) mendesak semua orang untuk menghindari penggunaan rokok elektrik, yang baru-baru ini diduga menyebabkan 450 kasus penyakit paru-paru di seluruh negeri, termasuk lima kematian.

"Penyakit paru-paru terkait rokok elektrik yang saat ini melanda di seluruh negeri menekankan kembali keyakinan kami bahwa penggunaan rokok elektrik dan vaping adalah epidemi kesehatan masyarakat yang mendesak dan harus ditangani," kata pernyataan AMA, September lalu.

AMA adalah salah satu organisasi dokter paling berpengaruh di Amerika. AMA mengatakan siapa pun yang baru-baru ini menggunakan rokok elektrik dan mengalami batuk, sesak napas, atau nyeri dada harus secepatnya mencari perawatan medis.

AMA menghimbau Badan Pangan dan Obat-obatan Amerika (FDA) mempercepat regulasi federal terkait rokok elektrik, termasuk larangan langsung pada perangkat peningkat rasa yang menarik untuk kaum muda.

FDA mengirim surat peringatan keras kepada produsen rokok elektrik terbesar, Juul, menuduhnya secara ilegal membuat klaim yang belum terbukti tentang keamanan produk dan pemasarannya kepada kaum muda.

Para regulator federal menuduh Juul mempromosikan produknya "jauh lebih aman daripada rokok" sebelum menunjukkan bukti ilmiah untuk mendukung klaim itu.

"Juul telah mengabaikan hukum dan dengan sangat memprihatinkan, membuat beberapa pernyataan ini di sekolah kepada anak-anak muda kita, jika peningkatan yang meresahkan dalam penggunaan rokok Elektrik ini terus berlanjut, terutama melalui penggunaan berbagai perasa yang menarik bagi anak-anak, kami akan mengambil tindakan yang lebih agresif lagi,” demikian FDA memperingatkan.

 

3 dari 4 halaman

Ada Rasa yang Ditarik dari Toko

FDA juga mengeluh Juul memasarkan produknya sebagai "produk tembakau dengan risiko yang dimodifikasi" tanpa perintah FDA. Juul mengatakan program sekolahnya bertujuan untuk mencegah kaum muda melakukan vaping. Namun perusahaan itu mengatakan telah menghentikan presentasi-presentasinya tahun lalu.

Juul juga tidak lagi menggunakan media sosial untuk memasarkan produk-produknya dan telah menarik rokok elektrik dengan rasa permen dan buah dari rak-rak toko untuk membatasi ketersediaannya bagi anak muda.

Rokok Elektrik memanaskan tempat khusus nikotin yang diisi cairan untuk menghasilkan uap. Meskipun sebagian besar ahli sepakat rokok jenis itu tidak sebahaya dibanding menghirup asap tembakau, belum cukup banyak penelitian untuk menyatakan rokok elektrik alternatif yang benar-benar aman dari rokok biasa.

Pakar kesehatan yakin serangkaian penyakit paru-paru baru-baru ini di lebih dari 20 negara mungkin terkait dengan bahan kimia yang digunakan dalam rokok elektrik. 

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Bikin Geram, Lihat Aksi Wanita yang Ngevape di Dalam Kereta Api
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Naikkan Usia Minimal Pembeli Vape dan Rokok Jadi 21 Tahun