Sukses

Krisis Campak Tewaskan 53 Orang, Kantor Pemerintah Samoa Ditutup

Liputan6.com, Samoa - Samoa di Pasifik akan menutup layanan pemerintah selama dua hari, agar pegawai negeri sipil dapat fokus pada upaya imunisasi nasional. Negara kepulauan itu sedang berjuang untuk mengakhiri wabah campak yang telah merenggut lebih dari 50 nyawa, mayoritas anak-anak.

Perdana Menteri Tuilaepa Sailele Malielegaoi mengumumkan penutupan pada Senin 2 Desember 2019, mengatakan pemerintah mengandalkan "dewan desa, organisasi berbasis agama, dan pemimpin gereja, wali kota desa dan perwakilan wanita pemerintah" untuk membujuk masyarakat agar mendapatkan vaksinasi. Akibatnya, katanya, semua kecuali layanan pemerintah utilitas publik akan ditutup pada  5 dan 6 Desember. 

Tak hanya itu, sebagian besar anak-anak dilarang untuk melakukan pertemuan publik. Seluruh sekolah dan universitas juga ditutup dan belum ditetapkan kapan dibuka kembali.

Mengutip dari NPR, Selasa (3/12/2019), Tuilaepa mengatakan, "Mari kita bekerja bersama untuk meyakinkan mereka yang tidak percaya bahwa vaksinasi adalah satu-satunya jawaban untuk epidemi. Mari kita tidak terganggu oleh janji penyembuhan alternatif."

"Campak bukan penyakit baru bagi Samoa dan jarang merenggut nyawa," kata Tuilaepa.

Lebih dari 3.700 kasus campak dilaporkan sejak wabah dimulai pada bulan Oktober. 198 di antaranya tercatat dalam periode 24 jam.

Sebanyak 53 orang meninggal dan 48 di antaranya adalah anak-anak di bawah 4 tahun.

2 dari 4 halaman

Tingkat Vaksinasi Samoa Menurun

Situasi di negara kecil tersebut dipersulit dengan rendahnya tingkat vaksinasi campak di antara penduduknya, yang jumlahnya hanya di bawah 200.000 orang. Hanya 31% dari populasi telah divaksinasi sebelum epidemi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.

Tingkat vaksinasi di Samoa menurun drastis pada tahun 2018. Angka yang rendah itu diperburuk oleh kecelakaan medis yang menewaskan dua bayi yang diberi vaksin yang salah dicampur, menyebabkan keterlambatan yang lebih luas dan ketidakpercayaan dalam program vaksinasi. Hal itu juga menyebabkan banyak orang tua takut untuk membawa anak-anaknya untuk mendapatkan vaksinasi.

Keputusan untuk menutup layanan pemerintah selama dua hari adalah yang terbaru dari serangkaian langkah drastis yang diambil pemerintah Samoa untuk menghentikan berjangkitnya penyakit yang diperkirakan hampir dieliminasi secara global, tetapi telah kembali secara berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.

3 dari 4 halaman

Kasus Campak di Dunia

World Health Organization (WHO) melaporkan ada lebih banyak kasus campak di seluruh dunia selama enam bulan pertama tahun 2019 dibandingkan tahun mana pun sejak 2006. Negara-negara lain di kawasan Pasifik, seperti Selandia Baru, Tonga, dan Fiji, juga melihat peningkatan dalam kasus campak.

WHO telah menetapkan target memusnahkan campak dari sebagian besar dunia pada tahun depan. Dikatakan bahwa penyakit ini sepenuhnya dapat dicegah berkat vaksin yang aman yang telah digunakan sejak tahun 1960-an, dan kematian akibat campak di seluruh dunia menurun 84% antara tahun 2000 dan 2016, menjadi sekitar 90.000 setiap tahun berkat imunisasi yang lebih baik.

Campak adalah penyakit pernapasan yang sangat menular dan dapat dicegah dengan vaksin yang ditandai dengan ruam bintik merah datar. Gejala mungkin termasuk demam, batuk, pilek dan mata berair.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Anak Tak Imunisasi Campak, Orangtua di Jerman Bakal Kena Denda