Sukses

Terkuak, Bos ISIS Abu Bakr al-Baghdadi Pasang Internet Senilai Rp 112 Ribu per Bulan

Liputan6.com, Idlib - Fakta baru seputar tempat persembunyian bos ISIS Abu Bakr al-Baghdadi terkuak. Menurut laporan, fasilitas tersebut telah lama memiliki koneksi internet hingga hari penggerebekan yang menjadi akhir hayatnya.

Pasukan operasi khusus AS menyerbunya akhir Oktober 2019, memicu Abu Bakr al-Baghdadi merenggut nyawanya sendiri setelah melarikan diri ke terowongan buntu dengan tiga anak, di mana ia ditemukan ketakutan dan tersudut.

Dokumen yang diperoleh Jenan Moussa dari TV Al-Aan pada Selasa 12 November 2019 menunjukkan bahwa kompleks tempat tinggal Baghdadi, di Provinsi Idlib, Suriah, dekat perbatasan Turki di barat laut, memiliki koneksi internet sejak Februari tahun ini. 

Koneksi internet itu tetap aktif sampai 12 jam sebelum serangan AS pada 26 Oktober 2019, demikian seperti dilansir USA Today, Kamis (14/11/2019).

Moussa mengunggah twit bahwa dokumen yang ia peroleh menunjukkan ada data langganan Internet di kompleks tempat tinggal bos ISIS itu sejak 1 Februari. Lalu didapati bukti bahwa pemilik situs membayar biaya bulanan secara tunai kepada penyedia internet regional.

Biaya bulanan setara dengan US$ 8 atau sekitar Rp 112 ribu tercatat dibayarkan sampai Oktober 2019, menurut Moussa, yang menambahkan bahwa nama pengguna yang digunakan Baghdadi adalah "Mhrab."

Jenderal Mazloum Abdi, komandan Pasukan Demokrat Suriah, mengatakan kepada Fox News bahwa pasukan Kurdi memiliki informan di dalam kompleks pada saat serangan itu. Agen itu memberi tahu mereka tentang terowongan di bawah kompleks, berapa banyak orang bersama Baghdadi dan langkah yang direncanakannya.

Meledakkan Diri Bersama Anak-Anaknya

Jenderal Kenneth F. McKenzie Jr., komandan Komando Sentral AS (USCENTCOM) yang mengawasi wilayah operasi di Timur Tengah, mengatakan bahwa pasukan operasi khusus berhasil menyudutkan pemimpin ISIS di sebuah terowongan dalam kompleks tersebut. Tersudutkan, pria itu meledakkan rompi bom bunuh diri, menewaskan dirinya dan dua anak yang dibawa bersamanya.

"Dia merangkak ke dalam lubang dengan dua anak kecil dan meledakkan dirinya sendiri sementara orang-orangnya tetap di tanah," kata sang jenderal.

2 dari 4 halaman

Pengganti Bos Besar ISIS

Al-Baghdadi memimpin ISIS karena berusaha untuk mendirikan "kekhalifahan" Islam di seluruh Suriah dan Irak. Tidak jelas apa dampak kematiannya pada kelompok itu, tetapi pejabat AS dan komandan militer telah berulang kali mengatakan bahwa kantong pemberontak tetap di Irak dan Suriah dan masih berniat melakukan serangan.

Pada akhir bulan lalu, kelompok teror tersebut menunjuk penggantinya sebagai Abu Ibrahim al-Hashimi al-Qurayshi yang digambarkan sebagai seorang sarjana, petarung terkenal dan "emir perang."

Sedikit yang diketahui secara publik tentang Qurayshi, dan kelompok itu biasanya mengidentifikasi para pemimpinnya menggunakan nama samaran yang merujuk pada afiliasi suku dan garis keturunan mereka.

ISIS tak memiliki hierarki yang jelas dan sedikit detail yang diketahui tentang para pemimpin puncak yang tersisa.

3 dari 4 halaman

AS Mengawasi Pengganti Abu Bakr al-Baghdadi

Pada hari Selasa, Presiden Trump mengatakan bahwa Amerika sekarang mengawasi pemimpin baru ISIS, mengatakan kepada Economic Club of New York, "Kami tahu di mana dia berada."

Trump tidak menyebutkan nama target baru itu, tetapi mengatakan AS mendapatkan Baghdadi, kemudian mendapatkan "yang kedua" dan sekarang, "kita memperhatikan yang ketiga. Yang ketiga memiliki banyak masalah karena kita tahu di mana dia berada."

Yang kedua dalam komando yang disebutkan Trump kemungkinan adalah Abu Hassan al-Muhajir, seorang pembantu dekat Baghdadi dan juru bicara kelompok itu sejak 2016. Dia terbunuh dalam operasi militer gabungan antara AS dan Kurdi hanya beberapa jam setelah kematian Baghdadi.

4 dari 4 halaman

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Silat Lidah di NATO Summit, Donald Trump Akan Hibah Pasukan ISIS ke Prancis
Artikel Selanjutnya
Suriah Berencana Mendakwa Semua Militan Asing ISIS, Bakal Dieksekusi?