Sukses

Bukan Jason Bourne, 4 Mitos CIA Ini Mungkin Masih Dipercaya Orang

Liputan6.com, Jakarta - Badan Intelijen Amerika Serikat atau Central Intelligence Agency (CIA), bagi sejumlah pihak, adalah salah satu agen mata-mata paling terkenal dan paling kontroversial di dunia.

Pada masa modern ini, mereka dikaitkan dengan sejumlah kontroversi, mulai dari yang dinamakan enhance interrogation (sebuah eufemisme untuk interogasi yang disertai penyiksaan), penangkapan dan penahanan ekstrayudisial (extrajudicial atau extraordinary rendition) hingga bentuk pelanggaran lainnya.

Namun, mereka juga salah satu agen intelijen yang paling disalahpahami. Banyak orang bingung tentang batas-batas otoritas CIA, dan apa yang sebenarnya mereka lakukan.

Kebingungan itu bertahan hingga bertahun-tahun lamanya, termasuk sampai saat ini, baik dikalangan warga Amerika sendiri (atau bahkan dunia) --yang mungkin disebabkan oleh bagaimana platform media massa populer (seperti film dan serial tv) menginterpretasikan kerja CIA.

Berikut beberapa mitos tentang CIA, yang mungkin masih dipercaya khalayak umum, dikutip dari Toptenz, Selasa (22/10/2019).

2 dari 5 halaman

1. Bukan Intelijen yang Mengawasi Jutaan Penduduk AS

Banyak orang yang mempercayai bahwa CIA ditugaskan untuk memonitor warga Amerika di dalam negeri. Sejatinya, pekerjaan itu adalah ranah Biro Investigasi Federal (FBI) yang dianggap sebagai lembaga penegak hukum dan intelijen domestik AS.

Dan, di tengah perkembangan pesan komunikasi digital, Badan Kriptografi dan Sandi Negara AS (NSA) adalah lembaga yang paling mungkin memata-matai warga Amerika di dalam negeri --dengan banyak laporan media mengindikasikan demikian.

Tugas utama CIA justru hanya mengumpulkan intelijen di luar negeri (foreign intelligence), terutama tentang aktor atau negara asing yang dapat menyebabkan kerusakan bagi AS.

Tapi, bukan berarti CIA sepenuhnya tak melakukan tugas tersebut. Bisa saja, mereka memata-matai individu AS yang mungkin bagian dari jaringan teroris asing. Tapi yang pasti, yang bukan bagian dari tugas utama mereka adalah melakukan spionase di dalam negeri.

3 dari 5 halaman

2. Bukan Lembaga Penegakan Hukum

Meski ada beberapa laporan mengenai CIA yang melakukan penangkapan ekstrayudisial terhadap terduga teroris di negara asing pada era presidensi George W Bush, namun sejatinya, itu bukan tugas utama mereka. Dan oleh karenanya, peristiwa tersebut dianggap sebagai penyalahgunaan kekuasaan dan hukum internasional yang ekstrem.

Bahkan mereka tidak punya kewenangan untuk menangkap pengancam keamanan AS yang berada tepat di muka perbatasan Negeri Paman Sam, seperti Meksiko misalnya.

Penangkapan orang, atau dalam konteks yang lebih luas; penegakan hukum, merupakan ranah FBI.

Sebagian besar petugas CIA, setidaknya di daerah yang aman di mana mereka beroperasi di AS, bahkan tidak membawa senjata api dan jarang menemukan diri mereka dalam bahaya di tanah Amerika.

FBI justru yang memiliki kekuatan penegakan hukum, dan keduanya berbagi informasi, jadi itu tidak berarti CIA akan membiarkan Anda pergi begitu saja. Jika CIA menemukan informasi yang melanggar hukum saat meneliti aktor asing, mereka --meski tampaknya CIA lebih suka melakukan penangkapan ekstrayudisial-- justru dimandatkan untuk menyerahkan urusan penegakan hukum kepada FBI.

4 dari 5 halaman

3. Tak Semua Agen CIA Seperti Jason Bourne

Tak semua agen CIA seperti tokoh Jason Bourne, protagonis dalam novel dan serial film 'The Bourne ... (Identitiy, Ultimatum, dll)' --yang mengisahkan seorang agen 'super' yang jago bertarung, fasih berbagai bahasa, dan melakukan pekerjaan 'kotor' untuk kepentingan Amerika di luar negeri.

Justru, sebagian besar agen adalah seperti pekerja kantoran pada umumnya, dengan hampir seluruh karier mereka dihabiskan dengan bekerja di Langley, Virginia, markas besar CIA. Bahkan, sebagian besar di antara mereka bahkan jarang atau tidak pernah melakukan 'pekerjaan super rahasia'.

Karena, seperti layaknya badan pemerintah pada umumnya, CIA membutuhkan orang untuk menjalankan hampir setiap fungsi yang dapat Anda bayangkan, termasuk; analis yang bekerja di belakang meja.

5 dari 5 halaman

4. CIA Tak Punya Kewenangan Mandiri untuk Mengkudeta Negara Asing

Banyak orang keliru tentang sifat CIA sebagai organisasi intelijen yang aktif dan memiliki kewenangan mandiri dalam melaksanakan misi-misi mereka.

Karena, seperti badan intelijen negara pada umumnya, CIA justru bersifat pasif menerima tugas dari pemerintah, atau dengan kata lain, 'alat' dari sebuah rezim presidensi AS yang sedang berkuasa.

CIA tidak memiliki otoritas sepihak untuk menetapkan kebijakan mereka secara besar, termasuk dalam hal misi-misi penggulingan atau kudeta negara asing.

Badan intelijen AS itu masih bertindak di bawah pemerintah dan menerima perintah langsung dari pejabat publik. Tentunya, dilakukan selaras dengan bagaimana kebijakan luar negeri (foreign policy) Amerika yang berlaku saat itu.

Contohnya, bagaimana peran 'aktif' CIA di Asia Tenggara pada 1950-1960an dan Amerika Selatan pada 1970-1980an. Pada dua konteks waktu itu, pemerintah AS sedang marak-maraknya berupaya untuk membendung paham komunisme di Asia Tenggara semasa Perang Dingin; dan memutus arus peredaran narkotika dari Amerika Latin yang masuk ke Negeri Paman Sam.

Atau, laporan tentang paramiliter CIA yang diterjunkan ke Afghanistan beberapa hari setelah Teror 9/11. Itu justru merupakan bagian dari kebijakan War on Teror Presiden George W Bush untuk menumpas Al Qaeda, di mana ia menuding bahwa pemerintahan Afghanistan di bawah rezim Taliban menjadi pelindung organisasi teroris tersebut.

Kenyataanya, CIA hanyalah alat dari 'diplomasi di belakang layar demi kepentingan pemerintah Amerika'. Jadi, jika ada 'jejak Amerika' di balik penggulingan suatu negara asing, jangan menuduh CIA sebagai dalang, karena Gedung Putih justru merupakan penggagasnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Terkait RUU Pro-Demokrasi Hong Kong, China Minta AS Tak Ikut Campur
Artikel Selanjutnya
Kongres AS Loloskan RUU Hong Kong, Bakal Disahkan Donald Trump?