Sukses

Remaja Ini Marahi Pemimpin Dunia karena Gagal Atasi Perubahan Iklim

Liputan6.com, New York - Aktivis lingkungan remaja asal Swedia, Greta Thunberg, mengecam para pemimpin dunia pada Senin 23 September. Mereka dianggap gagal mengatasi masalah perubahan iklim. Gadis berusia 16 tahun ini melepaskan kemarahan yang dirasakan oleh jutaan rekannya pada pertemuan KTT Iklim PBB di New York.

Pidato singkat tersebut cukup menggemparkan pertemuan puncak tersebut. Adapun pertemuan ini bertujuan untuk memobilisasi pemimpin negara dan pebisnis untuk mengurangi emisi karbon yang mencapai rekor tertinggi tahun lalu.

"Ini semua salah. Saya seharusnya tidak di sini. Saya harus kembali ke sekolah di seberang lautan, tetapi kalian semua datang kepada kami anak muda untuk harapan. Beraninya kalian?" kata Greta Thunberg dengan suara yang bergetar karena emosi, seperti dikutip dari VOA Indonesia, Selasa (24/9/2019).

"Kalian telah mencuri mimpiku dan masa kecilku dengan kata-kata kosong," kata Greta Thunberg.

2 dari 3 halaman

Menginspirasi Anak Muda

Terinspirasi oleh protes mingguan Thunberg di luar parlemen Swedia setahun yang lalu, jutaan anak muda turun ke jalan-jalan pada Jumat lalu untuk menuntut pemerintah yang menghadiri KTT agar mengambil tindakan darurat.

"Saya sangat tersentuh oleh emosi di ruangan ketika beberapa orang muda berbicara sebelumnya," kata Presiden Prancis, Emmanuel Macron.

"Saya juga ingin memainkan peran saya dalam mendengarkan mereka. Saya pikir, tidak ada pembuat keputusan politik yang tetap tuli terhadap seruan ini untuk keadilan antar generasi," katanya.

Acara satu hari itu digagas oleh Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres. Tujuannya untuk menghidupkan kembali Perjanjian Paris guna menekan tingkat pemanasan global. Guterres telah memperingatkan para pemimpin yang hadir untuk memberikan rencana aksi yang konkret, bukan pidato kosong.

"Alam marah. Dan kita membodohi diri kita sendiri jika kita berpikir kita dapat membodohi alam, karena alam selalu menyerang balik, dan di seluruh dunia alam menyerang balik dengan amarah," kata Guterres, mantan Perdana Menteri Portugis.

"Ada biaya untuk semuanya. Tetapi biaya terbesar adalah tidak melakukan apa-apa. Biaya terbesar adalah mensubsidi industri bahan bakar fosil yang sekarat, membangun lebih banyak dan lebih banyak lagi pembangkit batubara, dan menyangkal apa yang jelas seperti siang hari: bahwa kita berada dalam lubang iklim yang dalam, dan untuk keluar kita harus terlebih dahulu berhenti menggali," katanya.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut:

Loading
Artikel Selanjutnya
Fakta Baru, Perubahan Iklim Picu Ukuran Burung Menyusut
Artikel Selanjutnya
PKB Usulkan RUU Perubahan Iklim di Prolegnas 2020