Sukses

Lubang Hitam yang Berhasil Dipotret Baru-Baru Ini Sudah Punya Nama, tapi...

Beredar kabar bahwa black hole atau lubang hitam yang berhasil diabadikan dalam bentuk gambar baru-baru ini sudah diberikan nama, tetapi...

Liputan6.com, Florida - Kurang dari sepekan yang lalu, dunia dibuat terpesona oleh foto pertama dari Lubang Hitam (black hole). Tetapi objek ini belum memiliki nama resmi, meskipun beberapa pihak sekarang berlomba-lomba untuk mendapatkan legitimasi.

Galaksi yang berisi Lubang Hitam Supermasif itu ditemukan pada NGC 4486 atau Messier 87 (M87) --galaksi eliptis raksasa yang pusatnya terdapat Lubang Hitam Supermasif, yang membentuk komponen utama inti galaksi ini.

Jadi para astronom menyatakan black hole ternama itu sebagai M87* (tanda bintang mengacu pada Lubang Hitam, seperti Saggitarius A*).

Lalu, seorang profesor asal Hawaii mengklaim M87* dengan sebutan yang lebih puitis: Pōwehi, yang berarti "sumber gelap yang diperindah dari ciptaan cahaya tanpa akhir."

"Memiliki hak istimewa untuk memberikan nama dari bahasa Hawaii pada Lubang Hitam itu, sangat berarti bagi saya dan garis keturunan Hawaii saya," kata Larry Kimura dari University of Hawaii-Hilo, dikutip dari Science Alert, Senin (15/4/2019).

Meskipun terdengar menarik, namun Pōwehi bukanlah nama resmi bagi Lubang Hitam tersebut.

"Bukan astronom yang menamainya," ungkap Jessica Dempsey, wakil direktur dari James Clerk Maxwell Telescope di Mauna Kea, mengatakan kepada Associated Press (AP).

"Julukan itu datang dari ahli budaya dan bahasa. Orang itu mengunjungi kami dan memberi kami hadiah berupa penamaan tersebut. Pōwehi merupakan kado dari budaya dan sejarah Hawaii, bukan sebaliknya," tegasnya lagi.

Jadi, meski orang-orang menyebutnya M87* atau Pōwehi, kedua nama ini bukanlah nama yang sah bagi Lubang Hitam yang diabadikan itu.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan nama resmi adalah melalui International Astronomical Union, yang mengurusi sebutan untuk objek-objek baru di Tata Surya, bersama dengan bintang-bintang, rasi bintang, dan beberapa pedoman untuk penunjukan kerja benda-benda antariksa lain.

"Hampir setiap benda di langit memiliki lebih dari satu penunjukan," Rick Fienberg, seorang astronom dari American Astronomical Society. "Rasi bintang memiliki nama resmi IAU yang disetujui, tetapi dalam budaya lain, mereka memiliki nama lain."

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

Pertama dalam Sejarah, Foto Sesungguhnya dari Lubang Hitam Dirilis ke Publik

Penampakan sesungguhnya dari sebuah Lubang Hitam dan bayangannya telah dirilis ke publik untuk pertama kalinya pada Rabu malam, 10 April 2019, sekitar pukul 20.00 waktu setempat. Gambar ini ditangkap oleh jaringan internasional teleskop radio yang disebut Event Horizon Telescope (EHT).

EHT adalah hasil kolaborasi dari ilmuwan-ilmuwan global yang dukungannya di Amerika Serikat dilakukan oleh National Science Foundation. Demikian menurut situs web Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, yang dikutip pada Kamis (11/4/2019).

Lubang hitam adalah objek yang sangat padat di Alam Semesta, sehingga tidak ada cahaya yang bisa dilepaskan dari sana. Apa pun yang datang menuju ke dalamnya atau ke event horizon dari Lubang Hitam, maka material tersebut tidak dapat kembali, akan 'ditelan', tidak pernah muncul lagi, karena gravitasi Lubang Hitam yang kuat.

Sesuai sifatnya, Lubang Hitam tidak bisa dilihat, tetapi cakram panas dari material yang melingkarinya bersinar terang. Berlawanan dengan itu, sebuah Lubang Hitam muncul untuk memberikan bayangan.

Potret baru yang dipublikasikan pada Rabu kemarin menunjukkan bayangan Lubang Hitam Supermasif di pusat Messier 87 (M87) --sebuah galaksi elips sekitar 55 juta tahun cahaya dari Bumi.

Lubang Hitam ini massanya ialah 6,5 miliar kali dari massa Matahari. Penangkapan bayangannya melibatkan delapan teleskop radio yang berbasis di darat yang ada di seluruh dunia. Pengoperasiannya dilakukan serentak oleh tim astronom gabungan yang tersebar di penjuru negeri.

"Ini adalah pencapaian luar biasa oleh tim EHT," kata Paul Hertz, direktur divisi astrofisika di Markas NASA di Washington.

"Bertahun-tahun yang lalu, kami berpikir bahwa kami harus membuat teleskop ruang angkasa raksasa untuk menangkap gambar dari Lubang Hitam. Dengan membuat teleskop radio di seluruh dunia, tim EHT berhasil merealisasikannya," lanjutnya.

3 dari 3 halaman

Melibatkan Banyak Teleskop

Untuk melengkapi temuan EHT, beberapa pesawat antariksa NASA dilibatkan dengan pengkoordinasian dari Multiwavelength Working Group EHT, untuk mengamati Lubang Hitam menggunakan panjang gelombang cahaya yang berbeda.

Sebagai bagian dari upaya ini, Chandra X-ray Observatory, Nuclear Spectroscopic Telescope Array (NuSTAR) dan misi teleskop angkasa luar Neil Gehrels Swift Observatory, semua diselaraskan dengan berbagai jenis sinar-X, mengalihkan pandangan mesin-mesin tersebut ke Lubang Hitam di M87, sekitar waktu yang sama dengan Event Horizon Telescope pada April 2017.

Jika EHT mengamati perubahan dalam struktur lingkungan Lubang Hitam, maka data dari misi-misi itu dan teleskop lain digunakan untuk membantu mencari tahu apa yang sedang terjadi di dalamnya.

Sementara pengamatan NASA tidak secara langsung menelusuri gambar sesungguhnya dari Lubang Hitam, para astronom menggunakan data dari satelit Chandra dan NuSTAR untuk mengukur kecerahan sinar-X dari jet M87.

Para ilmuwan menggunakan informasi ini untuk membandingkan model jet dan piringan di sekitar Lubang Hitam dengan pengamatan EHT. Pandangan lain mungkin muncul saat ilmuwan terus meneliti data tersebut.

Namun ada banyak pertanyaan muncul dari pengamatan NASA terkait Lubang Hitam. Misteri tentang partikel yang mendapatkan dorongan energi sangat besar di sekitar Lubang Hitam, lalu membentuk jet yang melonjak dari kutub Lubang Hitam pada kecepatan cahaya yang pesat. Ketika materi jatuh ke dalam Lubang Hitam, ke mana energi itu pergi?

"Sinar-X membantu kita menghubungkan apa yang terjadi pada partikel di dekat event horizon dengan apa yang dapat kita ukur menggunakan teleskop kita," kata Joey Neilsen, seorang astronom di Villanova University di Pennsylvania, yang memimpin analisis Chandra dan NuSTAR atas nama Multiwavelength Working Group EHT.

Teleskop angkasa luar NASA sebelumnya telah mempelajari jet yang memanjang lebih dari 1.000 tahun cahaya dari pusat M87. Jet itu terbuat dari partikel yang bergerak di dekat kecepatan cahaya, melesat pada energi tinggi dari dekat dengan event horizon.

Sebagian komponen EHT dirancang untuk mempelajari asal-usul jet ini. Gumpalan materi dalam jet yang disebut HST-1, yang ditemukan oleh teleskop Hubble pada tahun 1999, telah mengalami siklus pencerahan dan peredupan yang misterius.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.