Sukses

Waspada, Ini 5 Bahaya yang Mengintai Masyarakat yang Hidup di Kota

Liputan6.com, Jakarta - Bagi orang-orang yang tinggal di kota, kehidupan serba modern dianggap menjadi tantangan terbesar. Berada di wilayah yang maju, maka harus siap pula menanggung resiko terburuknya.

Ketika bahaya bagi kelangsungan hidup di alam terbuka dan hutan belantara sudah mulai diungkapkan ke publik, para ahli planologi, penggerak bisnis dan masyarakat, sama-sama bergumul mencari solusi untuk mengurangi bahaya yang menjadi ancaman bagi lingkungan penduduk di kota.

Lalu, bahaya seperti apa yang mengintai orang-orang yang hidup di kota? Berikut 5 di antaranya, seperti dikutip dari Top Tenz, Senin (25/2/2019).

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 6 halaman

1. Kebocoran Gas dan Karbon Monoksida

Tidak berwarna, tidak berbau, dan sulit untuk dilihat. Inilah gambaran sekilas tentang karbon monoksida, gas yang disinyalir membunuh manusia secara perlahan, melalui asap kendaraan bermotor.

Karbon monoksida mampu menggantikan oksigen dalam aliran darah pada tubuh manusia. Saat menggantikan oksigen, bahan kimia peniru ini gagal memberikan dukungan penopang kehidupan yang diberikan oksigen.

Banyak kematian pada makhluk hidup yang disebabkan oleh pencemaran udara dari asap pabrik, mesin kendaraan bermotor, atau menyaakan mobil di ruang tertutup.

Diagnosis keracunan karbon monoksida antara lain sakit kepala, mual, dan pusing --atau bahkan kejang.

3 dari 6 halaman

2. Kegagalan Infrastruktur

Orang-orang yang tinggal di kota biasanya mengagumi bangunan yang menjulang tinggi, dengan desain yang mumpuni dan menakjubkan. Tetapi jumlah kematian yang mengejutkan terjadi di kota-kota di seluruh dunia ketika infrastruktur yang dibuat oleh pemerintah tidak sesuai dengan proyeksi rekayasa dan ketentuan model.

Antara 1989 dan 2000, lebih dari 500 bencana terjadi akibat jembatan runtuh di Amerika Serikat. Kejadian ini bukan disebabkan oleh gempa bumi, tetapi lantaran banjir atau kelalaian seorang pengendara motor yang menabrak struktur pendukung penting dari jembatan tersebut.

Di lain waktu, kesalahan teknis gagal memperhitungkan beban kumulatif yang diangkut oleh kendaraan yang umumnya melintas di atas jalan atau jembatan tersebut, dan terjadi pengendapan yang mengarah pada kegagalan bertahap atau keruntuhan katastropik yang tiba-tiba.

Runtuhnya jalan layang di atas lalu lintas juga merupakan jenis risiko kegagalan infrastruktur terburuk di kota.

4 dari 6 halaman

3. Banjir yang Aneh

Umumnya, kota-kota besar sering didirikan di daerah dataran rendah. Sedangkan pemindahan vegetasi dan konstruksi, dibangun di samping aliran air di daerah perkotaan, sehingga memperburuk banjir.

Banjir yang melanda daerah perkotaan dinilai sangat berbahaya, karena terdapat banyak kabel listrik. Bahkan di daerah yang mungkin dianggap lebih kering, banjir bandang dapat menimbulkan risiko luar biasa di daerah perkotaan.

Di kota besar di Arab Saudi, seperti di Jeddah, pada 2009 dan 2011 terjadi banjir yang menewaskan lebih dari 100 orang. Kurangnya drainase yang tepat dan vegetasi penyerap banjir, menghadirkan tantangan yang harus diatasi melalui pemasangan infrastruktur yang lebih baik, seperti membangun lahan basah dan saluran air untuk memperlambat dan menyerap banjir.

Lebih jauh, industri di daerah perkotaan juga menimbulkan ancaman banjir. Delapan kematian terjadi ketika ribuan galon bir secara tidak sengaja bocor ke jalan-jalan di Inggris pada tahun 1814. Peristiwa ini disebut "London Beer Flood."

Di Amerika Serikat, pada 1919 juga terjadi "Great Boston Molasses Flood" yang menewaskan 21 orang dan melukai 150. Ini adalah insiden ketika sebuah tangki besar penuh dengan molase (produk sampingan dari industri pengolahan gula tebu atau gula bit yang masih mengandung gula dan asam-asam organik) pecah dan mengeluarkan gelombang molase setinggi 15 kaki, yang mengalir melalui jalan-jalan dan gedung-gedung, menciptakan kehancuran dan kematian sepanjang setengah mil. Orang-orang terjebak dan tenggelam dalam zat lengket itu.

5 dari 6 halaman

4. Kabut Asap Tebal

Kota-kota besar di dunia seperti Los Angeles, Beijing, dan London, masih menciptakan banyak kabut asap beracun.

Insiden ekstrem yang melibatkan kabut asap telah menandai beberapa titik terendah dalam sejarah perkotaan, yakni "London Killer Fog" pada tahun 1952 di Inggris.

Kabut tersebut hanya berlangsung selama lima hari, tetapi reaksi kimia antara sulfur dioksida, kabut alami, dan nitrogen dioksida, menciptakan asap asam sulfat yang sangat korosif di perkotaan.

Penduduk sekitar menderita keracunan parah, 12.000 orang meninggal, sementara 150.000 orang dirawat intensif di rumah sakit. Akibat dari peristiwa maut ini, pada tahun 1956 Clean Air Act disahkan untuk mengendalikan risiko mematikan dari pembakaran batu bara di kota.

Sementara itu, di Tiongkok, polusi udara menyebabkan sekitar 1,1 juta kematian dini setiap tahun. Inilah yang mendorong bagian dari konstelasi masalah yang mendorong Perdana Menteri Dewan Negara, Li Keqiang, menyatakan "perang melawan polusi" di China, dengan maksud "membuat langit biru lagi."

Program kerjanya berfokus pada pengurangan produksi baja dan pembangkit energi berbahan bakar batu bara, yang merupakan pencemar udara utama di Negeri Tirai Bambu.

Kota-kota seperti New Delhi, bagaimanapun, mengalami polusi partikulat (partikel yang sangat kecil atau halus, seperti debu, asap, dan sebagainya) yang lebih buruk. Namun tingkat nitrogen dioksida yang berpotensi memperpendek usia hidup, secara signifikan lebih parah daripada kondisi di New York.

6 dari 6 halaman

5. Peluru Nyasar

Peluru nyasar dikatakan sebagai ancaman serius bagi mereka yang tinggal di kota besar. Insiden ini bisa membunuh orang-orang yang tidak bersalah, terlepas dari hubungannya dengan bentrokan antar geng atau perang.

Peluru nyasar bisa melesat lebih jauh dari yang biasanya diperkirakan orang awam. Semakin banyak penduduk di Amerika Serikat kehilangan nyawa mereka ketika sebuah peluru tiba-tiba memasuki rumah mereka atau menembus tubuh mereka di jalan.

Contohnya ada di Baltimore. Seorang anak berusia tiga tahun terbunuh dan kemudian seorang anak perempuan berusia sembilan tahun terluka oleh peluru nyasar dalam dua insiden terpisah.

Kasus-kasus penembakan yang tidak disengaja ini adalah contoh dari masalah yang terus berkembang. Antara bulan Maret 2008 dan Februari 2009, lebih dari 300 orang terkena peluru nyasar di Amerika Serikat.

Fakta mengejutkannya adalah 30 persen anak-anak yang ada di dunia menjadi korban peluru nyasar. Sedangkan lokasinya tidak dominan ada di jalanan, namun 68 persen di dalam ruangan --40 persen di antaranya ditembak secara tidak sengaja di rumah mereka sendiri.

Kematian yang tidak masuk akal, seperti tewasnya dua bocah di Filipina pada tahun 2014, ketika peluru yang ditembakkan untuk merayakan Tahun Baru menghunjam tubuh mungil mereka di rumah mereka.