Sukses

Kerja Sama RI - OKI Disebut Masih Belum Bisa Berkembang, Kenapa?

Liputan6.com, Bandung - Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika dari Kementerian Luar Negeri RI, Desra Percaya, mengatakan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan kerja sama antara Indonesia dan negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) kurang berkembang.

"Presiden (Jokowi) sudah mengatakan, ada yang disebut sebagai non traditional market. Itu adalah negara-negara di Asia Selatan. Ada India, Pakistan, negara-negara di Afrika dan juga kawasan Timur Tengah," tutur Desra saat mengisi kuliah umum di UIN Bandung, Selasa, 18 Desember 2018.

Ia melanjutkan, "Tapi dari masing-masing (negara) itu, belum terlihat adanya urgency untuk segera. Selama ini, mungkin kita puas dengan bermain-main di pasar lama. Sekarang, kita sudah melihat bahwa pasar-pasar tradisional yang ada itu bisa dikatakan jenuh. Kita bisa lihat opportunity lain."

Pria yang juga menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk PBB tersebut menyatakan bahwa untuk melakukan penetrasi ke pasar-pasar di negara-negara anggota OKI, Indonesia pun menemui hambatan. Seperti misal ketidaksetaraan yang ada dalam tubuh OKI.

Menurutnya, saat dibentuk pertama kali, tujuan awal OKI adalah memerdekakan Palestina, di samping membantu menyejahterakan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) di antara para negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia

"Tapi faktanya, tantangan yang kita hadapi justru ada di dalam anggota OKI sendiri. Ada pertentangan yang menyebabkan misi OKI untuk menyejahterakan Palestina, untuk menyatukan umat (muslim) menjadi terkesampingkan," tegasnya.

 

Simak video pilihan berikut: 

2 dari 2 halaman

Penguatan Kemampuan Mediasi Negara OKI

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan bahwa peningkatan kerja sama antara OKI dengan organisasi internasional dan regional lainnya merupakan kunci dalam mengembangkan kemampuan mediasi negara OKI.

Pernyataan itu ia sampaikan pada pertemuan Organization of Islamic Cooperation (OIC) Contact Group (CG) Friends of Mediation di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB ke-73 di New York.

Pengembangan kemampuan bagi negara OKI menjadi sangat penting di masa sekarang, dengan dinamika politik dan keamanan di kawasan, demikian disebutkan dalam keterangan pers Kemlu RI yang diterima oleh Liputan6.com pada Rabu 19 Desember. 

Dalam pertemuan tersebut, mantan dubes Indonesia untuk Belanda itu menegaskan bahwa Indonesia siap untuk bekerja sama dengan OKI demi menciptakan ekosistem perdamaian dan stabilitas global melalui pengembangan culture of prevention, yang memerlukan pembiasaan dalam membangun dialog.

"Mencegah lebih baik dari mengobati, prevention is better than the cure," tegas Retno.

Dia pun menyampaikan, dalam pembentukan grup ini perlu didasari oleh sifat komplementer, dengan inisiatif Indonesia terkait Contact Group on Peace and Conflict Resolution yang dinisiasi oleh RI.

Kontak grup ini juga diperlukan untuk saling melengkapi dengan mekanisme PBB Group of Friends of Mediation (FoM), yang telah aktif memberikan sejumlah masukan mengenai peace building dan peace sustaining yang terkait dengan mediasi. Dalam kelompok tersebut, Indonesia telah aktif berpartisipasi sejak awal pendiriannya di tahun 2010.

Mediasi merupakan salah satu sarana untuk mengimplementasikan resolusi konflik. Upaya peningkatan kemampuan mediasi bagi negara OKI sejalan dengan inisiatif Indonesia yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo.

Hal tersebut disampaikan oleh Jokowi di sela-sela Peringatan Konferensi Asia Afrika ke-60 tahun 2015 di Bandung, mengenai pembentukan OIC Contact Group on Peace and Conflict Resolution yang telah disahkan di KTT ke-13 OKI di Istanbul, Turki, tahun 2016.