Sukses

11-11-1994: Codex Leichester Karya Leonardo da Vinci Ada di Tangan Bill Gates

Liputan6.com, New York - Tak hanya memproduksi lukisan-lukisan, selama hidupnya Leonardo da Vinci juga menghasilkan 30 karya ilmiah. Dan, yang paling terkenal adalah Codex Leicester (Codex Hammer).

Setelah da Vinci, buku bertuliskan catatan tangan itu setidaknya telah berpindah tangan ke lima pemilik. Yang pertama adalah Giovanni della Porta, murid Michelangelo. Kemudian Giuseppe Ghezzi, Thomas Coke (1st Earl of Leicester), Armand Hammer, dan kemudian Bill Gates.

Bos Microsoft itu membeli Codex Leicester pada 11 November 1994 dari balai lelang Christie di New York. Harganya sama sekali tak murah. Bill Gates harus merogoh kocek dalam-dalam, mengeluarkan uang sebesar US$ 30.802.500 untuk mendapatkannya.

Hingga kini Codex Leichester karya Leonardo da Vinci menjadi buku paling mahal dalam sejarah.

Seperti dikutip dari The Vintage News, dokumen yang terdiri atas 72 halaman itu berisi sketsa dan ide terkait sejumlah objek beragam yakni astronomi, sifat-sifat unsur alam seperti air dan batu. Ada juga teori tentang asal-usul fosil dan kontemplasi tentang udara dan cahaya langit.

Di sana dijelaskan soal pergerakan air, terutama sungai, dan cara air mengatasi hambatan yang diletakkan di alirannya. Da Vinci menjelaskan soal masukannya terkait solusi mengenai pembangunan jembatan dan bendungan.

Meskipun da Vinci dianggap jenius, ada sejumlah kekeliruan ilmiah dalam manuskrip bikinannya itu. Misalnya, sang seniman menyebut bahwa permukaan Bulan tertutup air, yang memantulkan cahaya dari Matahari.

Meskipun salah menyebut, satelit alami Bumi sebagai samudera seukuran planet, Leonardo da Vinci menyimpulkan bahwa cahaya pucat pada bagian gelap bulan sabit disebabkan oleh cahaya matahari yang dipantulkan dari Bumi.

Dengan demikian, teori planetshine, seperti yang sekarang disebut, telah muncul sekitar 100 tahun sebelum astronom dan astrolog Jerman terkenal, Johannes Kepler, berhasil membuktikannya.

Codex Leicester juga menyertakan gambar dan sketsa beberapa mesin futuristik Leonardo da Vinci yang sangat maju pada eranya.

Diperkaya dengan model dan diagram, teks tersebur ditulis dalam versi bahasa Italia yang kuno, yang hanya diketahui oleh para ahli saat ini.

Namun, bukan itu yang paling menarik. Leonardo da Vinci menggunakan teknik menulis Mirror Writing, huruf-hurufnya dibaca kanan ke kiri sehingga baru bisa dibaca jika dihadapkan ke cermin.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Perang Dunia I Berakhir

Pada 11 November 1918, Perang Besar atau Perang Dunia I akhirnya berakhir.

Pagi itu, pukul 05.00 Jerman yang di ujung tanduk --karena kekurangan perbekalan dan sumber daya manusia di tengah ancaman invasi -- menandatangani gencatan senjata dengan Sekutu di luar Kota Compiegne, Prancis, demikian dikutip dari situs History, Kamis (10/11/2016).

Gencatan senjata disepakati mulai berlaku pada jam ke-11, hari ke-11, bulan ke-11 pada tahun 1918

Ada alasan mengapa pihak Berlin menyerah. Jerman tak cukup kuat untuk melancarkan perlawanan, khususnya setelah Amerika Serikat bergabung dalam perang. Ribuan prajurit yang masih segar bugar asal Negeri Paman Sam juga telah tiba di Prancis.

Para jenderal perang Jerman meminta pemerintah untuk menghentikan pertempuran. Sang Pemimpin Kaiser Wilhelm juga meninggalkan takhtanya pada 9 November 1918.

Sementara, pemerintahan baru yang dipimpin Friedrich Eber memilih opsi damai sebagai jalan keluar. "Kami harus melakukan segala upaya untuk mengamankan perdamaian secepat mungkin demi rakyat Jerman dan mengkonsolidasikan kebebasan yang telah mereka menangkan," kata dia, seperti dikutip dari New York Times.

Gencatan senjata itu mengakhiri perang global yang berawal pada 28 Juni 1914 ketika putra mahkota Austria-Hungaria Archduke Franz Ferdinand dan istrinya Sophie dibunuh saat berkunjung ke Sarajevo, ibukota Bosnia.

Perang tersebut melibatkan semua kekuatan besar dunia, yang terbagi menjadi dua aliansi: Entente Powers -- Inggris, Prancis, Serbia, dan Kekaisaran Rusia (selanjutnya Italia, Yunani, Portugis, Rumania, dan Amerika Serikat ikut bergabung) -- bertempur melawan Central Powers -- Jerman dan Austria-Hungaria (selanjutnya Turki Ottoman dan Bulgaria ikut bergabung).

Pertempuran tersebut menewaskan 9 juta tentara, serta melukai 21 juta serdadu. Tak sampai di situ, sedikitnya 5 juwa warga sipil tewas akibat penyakit, kelaparan, atau menjadi korban di zona merah.

Sejarah pun dunia berubah. Empat dinasti -- Habsburg, Romanov, Ottoman, dan Hohenzollern, yang memiliki akar kekuasaan sejak zaman Perang Salib, seluruhnya jatuh setelah perang. Tinggal nama.

Artikel Selanjutnya
8 Miliarder yang Pernah Gagal tapi Bangkit Raih Sukses
Artikel Selanjutnya
10-11-1911: Kisah Miliarder yang Malu Jika Mati dalam Kondisi Kaya