Sukses

Studi: Kiamat Pasti Terjadi, tapi...

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah laporan ilmiah terbaru menyebut bahwa kiamat sudah pasti akan datang, tapi jaraknya masih sekitar 6,5 miliar tahun lagi, lama setelah manusia yang hidup saat ini sudah lenyap dari muka Bumi.

Disebutkan pula bahwa meski Bumi mungkin tidak akan hancur setelah Matahari meledak, sisa yang abadi hanya akan berupa sebuah batu karang besar yang kering dan beku, tanpa kehidupan apa pun.

Kata para ahli, dengan memperhitungkan komposisi Matahari saat ini, serta tingkat evolusinya, diperkirakan pusat tata surya akan mati, atau habis terbakar dalam serentetan ledakan gas helium yang menghancurkan kira-kira 40 persen bobotnya, demikian sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia, Jumat (12/10/2018).

Menurut perhitungan itu, Bumi masih punya waktu kira-kira 6,5 miliar tahun lagi sebelum kiamat benar-benar datang. Sebab pada waktu itu, Matahari akan mulai membengkak, sampai akhirnya menjadi benda angkasa yang besarnya 200 kali dari sekarang, dan memancarkan panas sangat tinggi.

Suhu yang tinggi itu akan menguapkan semua air di laut, sungai dan danau, serta membunuh segala bentuk kehidupan di Bumi, alias kiamat.

Sistem tata surya kita yang sekarang, kata para ahli, dengan satu Matahari dan sembilan planet yang beredar di sekelilingnya, tercipta kira-kira 4,5 miliar tahun yang lalu.

Hasil penelitian terhadap bintang yang terdapat dalam sistem tata surya lain menunjukkan, Matahari yang kita lihat tiap hari itu umurnya sudah hampir mencapai separuh masa hidupnya, yang diperkirakan 12 miliar tahun.

Para pakar menggolongkan matahari ke dalam bintang kelas G, diukur dari tingkat cahaya, serta warna radiasinya yang tampak dari Bumi.

Suhu di permukaannya sekarang diperkirakan sekitar 5.700 derajat Celsius.

 

* Update Terkini Asian Para Games 2018 Mulai dari Jadwal Pertandingan, Perolehan Medali hingga Informasi Terbaru di Sini.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Kemungkinan Kronologi Matinya Matahari

Saat ini, Matahari masih berada dalam fase utama yang stabil, di mana ia terus membakar persediaan gas hidrogen yang terkandung di dalamnya. Sebagai bintang dari kelas G, matahari diperkirakan akan terus berada dalam fase itu selama 6,5 miliar tahun lagi.

Sebuah laporan yang dimuat dalam majalah Astrophysical Journal mengatakan, setelah Matahari mencapai umur 11 miliar tahun, benda angkasa itu akan memasuki fase perkembangan berikutnya, dan menjadi apa yang digambarkan sebagai bintang raksasa berwarna merah.

Bintang raksasa itu terbentuk karena gas helium yang terdapat di bagian intinya meledak, sehingga ukurannya menggelembung 200 kali lebih besar dari saat ini, dan cahayanya juga disebut  2.000 kali lebih terang.

Kemudian, untuk masa 150 juta tahun berikutnya, suhu Matahari akan turun lagi, karena helium yang terdapat di bagian intinya sudah habis.

Akan tetapi, gas helium yang terdapat di lapisan-lapisan lebih luar akan meledak secara beruntun, serta melemparkan bagian-bagian yang hancur itu ke angkasa, memicu bobot atau massa matahari terus berkurang.

Dan satu juta tahun kemudian, matahari terus menyusut ukurannya, sampai cahayanya redup dan akhirnya hilang sama sekali.

Manusia mungkin sudah pindah ke palnet lain, lama sebelum semua itu terjadi, dan bisa menyaksikan sistem Tata Surya yang mati itu; sebagai sebuah bintang gelap atau bintang hitam.

Artikel Selanjutnya
Simulasi Komputer pada 1973 Ini Ramalkan Kiamat Akan Terjadi pada 2040?