Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

LanjutkanStop di Sini

Darah Perawan hingga Dikubur Hidup-Hidup, Ini 4 Fakta Aneh soal Selir Dinasti Ming

Liputan6.com, Beijing - Dinasti Ming, yang memerintah China selama 276 tahun, dari 1368 hingga 1644 Masehi, dikenal dengan pemerintahannya yang gilang-gemilang.

Dinasti Ming berhasil menegakkan pemerintahan yang teratur dan stabil secara sosial, mungkin menjadi salah satu yang terbaik dalam sejarah manusia. Wangsa ini juga digdaya secara global, dengan mengirimkan kapal-kapal besarnya untuk melakukan ekspedisi melintasi lautan luas, bahkan lebih dulu daripada yang dilakukan Christopher Columbus.

Tiongkok di bawah kekuasaan Dinasti Ming juga telah memproduksi buku, jauh sebelum mesin cetak ditemukan di Inggris.

Namun, seperti hal yang pemerintahan lain, kekuasaan Dinasti Ming bukan tanpa cela.

Sejumlah kaisar Dinasti Ming dilaporkan memiliki hingga 9.000 selir, sebagian besar dijadikan gundik secara paksa, diculik dari rumah mereka dan dilarang meninggalkan 'sangkar emas' selain jika dipanggil ke kamar sang penguasa.

Kala itu, praktik barbar foot binding atau tradisi mengikat kaki agar telapak mereka kecil dan berbentuk mirip lotus yang kuncup. Sehingga, para perempuan tak bisa melarikan diri.

Mereka bahkan tak bisa berjalan ke kamar sang kaisar, melainkan dibawa dengan tandu dalam kondisi tanpa busana.

Berikut 4 fakta terkait para selir di era Dinasti Ming, seperti dikutip dari ancient-origins.net, Kamis (5/7/2018):

2 dari 5 halaman

1. Selir Dikubur Hidup-Hidup untuk Menemani Jasad Kaisar

Pendiri Dinasti Ming adalah Kaisar Hongwu. Dia dianggap sebagai salah satu penguasa China paling berpengaruh dan penting.

Pada masa mudanya bekerja sebagai penggembala sapi. Karena tepergok memanggang dan memakan seekor ternak, ia dipecat. Ketika wabah penyakit menyerang desanya dan merenggut nyawa orang tua dan saudara-saudaranya, pria itu banting setir jadi biksu di Kuil Huangjue.

Kemudian, roda zaman membuatnya menjadi panglima perang paling kuat di Asia.

Pada 1368, ia memimpin pasukan yang mengusir bangsa Mongolia yang telah memerintah Tiongkok selama seabad.

Setelah mendirikan dinastinya, ia mengadopsi nama 'Ming' -- kata dalam Bahasa Mandarin yang berarti 'gemilang'.

Namun, kekejamannya ternyata tak hanya di medang perang. Di balik pintu istananya yang tebal, ia mengurung para selir dan menjadikan mereka subjek penyiksaan.

Ia ingin memiliki para selir hingga di alam baka. Kaisar Hongwu memulai tradisi di mana para selir akan dibunuh, dipaksa bunuh diri, atau dikubur hidup-hidup di samping kaisar yang mati.

Dua penerusnya, Yongle dan Hongxi meneruskan tradisi mengerikan itu. Untunglah, praktik kejam tersebut dihapuskan Kaisar Zhengtong yang menghapuskan aturan itu dalam wasiatnya pada 1464.

 

Saksikan video menarik terkait China berikut ini: 

3 dari 5 halaman

2. Pembantaian 2.800 Anggota Harem

Kaisar Yongle terkenal karena menciptakan ibu kota kedua Tiongkok, selain Nanjing. Ia menamainya Beijing. Di sana, sang penguasa membangun Kota Terlarang (Forbidden City).

Selama masa pemerintahannya sebagai diktator, ia melakukan reformasi militer, ekonomi, dan pendidikan. Di sisi lain, kekejamannya tak terkira.

Pada 1421, sesaat setelah Yongle meresmikan Forbidden City, beredar rumor bahwa salah satu selir favorit kaisar bunuh diri. Gara-garanya, ia terlibat cinta terlarang seorang kasim. Konon, pemicunya gara-gara penguasa menderita impotensi.

Merasa dipermalukan, Yongle berusaha membungkam siapapun yang mengetahui kebenaran terkait rumor itu.

Ia memerintahkan semua selir yang mencurigakan diracun. Sang kaisar mengumpulkan 2.800 perempuan di dalam haremnya dan mengeksekusi mereka dengan cara diiris-iris.

Dalam eksekusi massal itu, para korban tewas. Di antara mereka ada yang usianya baru 12 tahun.

Meski pembantaian tersebut tak disebutkan dalam dokumen resmi, namun sebuah catatan soal itu ditulis oleh Lady Cui, seorang selir yang saat kejadian tak ada di istana.

Namun, akhirnya Lady Cui dan 15 selir lainnya digantung dengan kain sutra putih di lorong-lorong Kota Terlarang pada hari pemakaman Yongle.

4 dari 5 halaman

3. Memanen Darah Perawan

Kaisar Ming kesepuluh, Zhengde yang mewarisi takhta pada 1505 pada suatu titik merasa lelah pada para selir dan terobsesi dengan kehidupan warga biasa.

Ia kerap menyelinap keluar pada malam hari, menyamar, dan sering mengunjungi rumah bordil lokal.

Namun, itu tak menghentikannya mengumpulkan banyak selir -- yang kabarnya banyak di antaranya yang mati kelaparan karena tak cukup makan dan kurang ruangan untuk menampung mereka.

Banyak sejarawan mengklaim, pemerintahan Zhengde membawa Dinasti Ming ke masa senjanya.

Penerusnya pun tak lebih baik. Jiajing, terobsesi untuk menemukan obat mujarab untuk memberinya kehidupan yang kekal. Dan ia meyakini, salah satu bahan ramuan itu adalah darah menstruasi perawan.

Selama masa pemerintahannya, ia memerintahkan sejumlah gadis muda pilihan, secara bergantian, dibawa ke Kota Terlarang (Forbidden City) untuk "dipanen".

Untuk memastikan tubuh mereka tetap murni, makanan mereka dibatasi. Para perawan hanya boleh mengonsumsi mulberi dan embun atau air hujan. Para dayang istana pun jadi korban praktik itu.

Mereka yang sakit bakal ditendang keluar istana dan dipukuli. Tak sedikit dari mereka yang mati kelaparan gara-gara diet mengerikan itu.

Pada tahun 1542, kemarahan yang terpendam di dada para selir dan dayang memuncak.

Dengan bantuan sejumlah orang dalam istana, para pelaku menuju paviliun Selir Duan atau Lady Cao. Selir Yang Jinying memimpin komplotan itu.

Setelah teman tidurnya itu keluar diikuti para dayang, Kaisar Jiajing dibiarkan sendirian di kamar.

Saat itulah, para selir penyerang beraksi. Mereka mencoba mencekik sang kaisar dengan pita hiasan rambut.

Upaya itu gagal. Para selir lalu mengambil tirai sutra, memilinnya, lalu mengikatkannya ke leher sang kaisar. Namun, mereka mengikat dengan simpul yang salah sehingga jerat di leher Jiajin longgar, tak maksimal mencekiknya.

Salah satu konspitor pun panik, ia melaporkan upaya pembunuhan tersebut pada Maharani Fang.

Sementara itu, Jiajing melawan sekuat tenaga. Selir Yang lalu menarik tusuk konde perak dari rambutnya dan menikamkannya pada kaisar yang langsung tak sadarkan diri. Saat itulah, sang permaisuri datang disertai para prajurit. Para pelaku diringkus..

Ketika fajar menyingsing, mereka semua dihukum mati dengan kejam, tubuh mereka diiris perlahan. Eksekusi itu dijuluki "kematian oleh seribu luka". Kepala mereka kemudian dipenggal dan dipertontonkan kepada publik sebagai peringatan bagi yang lain.

Tak hanya para pelaku, keluarga mereka pun tidak luput dari hukuman. Bahkan selir Cao Duan yang tidur dengan kaisar malam itu juga dihukum mati.

Fakta bahwa usaha pembunuhan tersebut terjadi di kamarnya memberi alasan kepada sang Ratu untuk menghilangkan saingan potensialnya di istana.

5 dari 5 halaman

4. Trauma Sang Kaisar

Di tengah kisah kekejaman terhadap para selir, ada seorang kaisar Ming yang dilaporkan tak pernah melakukan praktik sadis para para hambanya.

Ia adalah Hongzi, kaisar keenam dari Dinasti Ming sekaligus ayah Zhengde.

Drama dan intrik di dalam istana membuat Hongzi trauma. Ayahnya, Chenghua terobsesi dengan pornografi dan mengabaikan takhtanya, tindakan yang memungkinkan para kasim untuk berkuasa.

Sementara sang ibu, seorang selir bernama Lady Ji tewas di tangan Lady Wan, selir favorit kaisar yang tak bisa memberikan keturunan.

Lady Wan bahkan dilaporkan membunuh keturunan kaisar atau para selir yang sedang hamil.

Sadar bahwa akan banyak masalah yang dihadapi di istana yang menyimpan banyak selir, Hongzi hanya punya dua istri.