Sukses

Kepala Intelijen Jerman: Waspada, Jangan Sampai China Kendalikan Teknologi Negara Ini

Liputan6.com, Berlin - Kepala badan intelijen domestik Jerman, Hans-Georg Maassen, mendesak kewaspadaan terhadap peningkatan investasi China di perusahaan-perusahaan teknologi tinggi setempat.

Hal di atas, menurutnya, berisiko menghilangkan berbagai teknologi kunci, yang kemudian mampu melemahkan ekonomi Jerman.

Dikutip dari South China Morning Post pada Kamis (12/4/2018), Hans-Georg Maassen mengatakan, para pejabat intelijen awalnya bingung oleh penurunan cukup tajam aktivitas spionase China di kawasan Eropa.

Namun, kemudian mereka sadar bahwa Beijing sengaja melakukan investasi besar-besaran untuk mendapat akses lebih dekat ke pengembangan teknologi tingkat tinggi di Jerman.

"Spionase industri tidak lagi diperlukan jika sebuah negara dapat mengambil keuntungan dari peraturan ekonomi liberal. Mereka membeli perusahaan dan kemudian mengeluarkannya, atau menganibalkannya untuk mendapat akses ke sumber pengetahuan penting," ujar Maassen dalam sebuah konferensi siber.

Maassen mengatakan Jerman tetap terbuka untuk investasi asing, termasuk dari China, tetapi diperlukan langkah-langkah tegas untuk menjaga teknologi kunci.

Dia mengaku prihatin tentang pengambilalihan saham mayoritas pada produsen robotika Kuka oleh sebuah perusahaan China pada 2016.

Investasi China di bidang teknologi, menurut Maassen, kian mengkhawatirkan ketika bulan lalu sebanyak 20 persen saham di operator jaringan Jerman 50Hertz, dibeli oleh State Grid Corporation of China.

Sebelumnya, merek otomotif asal China, Geely, diketahui membeli secara diam-diam 10 persen saham produsen Mercedes-Benz, Damiler.

"Kementerian Ekonomi Jerman mendapat beberapa pengajuan investasi China di bidang teknologi tinggi, dalam satu tahun terakhir. Ini harus diperhatikan dengan saksama, jangan sampai kita dikendalikan oleh mereka," ujar Maassen mengingatkan.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Pemerintah China Dikhawatirkan Menggerakkan Investasi Secara Langsung

Di sisi lain, Maassen mengatakan bahwa investasi asing dapat memperluas lapangan kerja, sekaligus memberi keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi Jerman.

"Tetapi kita juga harus melihat bahwa investasi tertentu, secara langsung, dalam teknologi, juga dapat memicu risiko keamanan domestik," katanya.

Menurutnya, jangan karena sokongan dana segar, terjadi pembiaran perusahaan-perusahaan Eropa di sektor infrastruktur penting, sumber daya, teknologi sensitif dan informasi rahasia, jatuh di bawah kontrol asing.

Karl Wendling, seorang pejabat senior di Kementerian Ekonomi Jerman, mengatakan bahwa akuisisi perusahaan Jerman oleh China selalu terjadi pada tingkat penawaran yang tinggi, yakni rata-rata US$ 14 miliar (sekitar Rp 192 triliun) dalam dua tahun terakhir.

"Sekitar tiga tahun lalu, investasi China tidak lebih dari US$ 500 juta," jelas Wendling.

Sementara itu, Uni Eropa tengah mendapat tekanan keras dari Jerman, Prancis, dan Italia, untuk menyelesaikan mekanisme kontrol pengambialihan kendali oleh investor asing.

Ditambahkan oleh Wendling, isu tersebut menjadi sangat mengkhawatirkan jika dikaitkan dengan China.

Sebagaimana diketahui, perusahaan-perusahaan swasta di China diminta untuk berbagi data dengan pemerintah. Selain itu, mereka juga diwajibkan tunduk pada kebijakan yang diterapkan oleh Partai Komunis, satu-satunya partai politik yang berkuasa.

"Kami mendukung investasi asing, tetapi kami tidak naif," tegas Wendling.

  • Jerman merupakan salah satu negara federasi yang terdapat di Eropa
    Jerman merupakan salah satu negara federasi yang terdapat di Eropa
    Jerman
  • Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    China
Loading
Artikel Selanjutnya
Fosil Bunga Karang Tertua di Dunia Ditemukan di China Timur
Artikel Selanjutnya
China Siap Kirim 100 Ribu Bebek untuk Lawan Serangan Belalang Gurun