Sukses

Pakar: Rex Tillerson Menlu Terburuk Sepanjang Sejarah Amerika Serikat

Liputan6.com, Washington DC - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson telah dipecat oleh Presiden AS Donald Trump pada Selasa 13 Maret 2018 waktu setempat.

Tillerson hanya menjabat selama kurang lebih empat belas bulan -- menjadikannya Menlu dengan masa jabatan tersingkat dalam sejarah pemerintahan modern.

Tak hanya singkat, masa jabatannya pun dianggap tak menjadikan Kemlu AS menuai prestasi signifikan bagi sepak terjang politik luar negeri dan diplomasi Amerika Serikat, kata sejumlah pakar seperti dikutip dari Vox, Rabu (14/3/2018).

"Jika ada daftar yang merangkum prestasi para Menlu AS, Tillerson mungkin menjadi salah satu menteri luar negeri AS terbawah dalam daftar tersebut," kata Paul Musgrave, pakar Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat di University of Massachusetts Amherst.

Musgrave melanjutkan, Rex Tillerson dilengserkan dari posnya tanpa berhasil merengkuh pencapaian yang berarti.

Hal itu disebabkan karena mantan bos Exxon Mobile tersebut gagal memberikan pengaruh signifikan seputar isu Korea Utara dan Rusia, serta kerap mengasingkan Donald Trump pada sejumlah narasi kebijakan luar negeri yang vital.

Tak hanya itu, Musgrave juga menyebut bahwa Tillerson gagal bekerja sama secara efektif dengan bawahannya di Kemlu AS. Bahkan, sejak ia menjabat, sekitar 60 persen diplomat Kemlu AS mengundurkan diri dari posisi jabatannya, menurut perhitungan American Foreign Service Association.

Elizabeth Sauders, Analis Politik George Washington University menilai, Tillerson juga gagal mengisi kekosongan posisi diplomat yang mengundurkan diri secara efektif.

Faktor itu dan beberapa hal lainnya, membuat sejumlah pengamat lantas menyebut Rex Tillerson sebagai "Menlu AS terburuk, tak hanya sepanjang sejarah AS, tetapi juga dunia," kata Eliot Cohen mantan pejabat tinggi Kemlu AS pada masa kepresidenan George W Bush, dan Ilan Goldenberg, pejabat tinggi Kemlu AS pada masa kepresidenan Barack Obama.

1 dari 3 halaman

Berselisih dengan Donald Trump

Beberapa pihak menyebut bahwa tak patut menjadikan Rex Tillerson sebagai sosok yang dipersalahkan sepenuhnya atas sejumlah kegagalan kerja Kemlu AS.

Apalagi mengingat Tillerson menjadi menteri di kabinet dengan presiden sekaliber Donald Trump yang eksentrik dan sulit untuk diprediksi dalam melakukan proyeksi kebijakan luar negeri AS.

Namun, para pengamat justru kukuh beranggapan bahwa sejatinya Tillerson menjadi sosok yang patut dipersalahkan penuh.

Banyak pengamat justru mengharapkan Tillerson menjadi 'figur yang kalem dan dewasa' dalam menghadapi karakter Trump yang identik 'liar dan kekanak-kanakan' dalam memproyeksikan kebijakan luar negeri AS.

Pakar menyebut, Tillerson sejatinya memainkan peran itu, tetapi justru berdampak buruk bagi sang Menlu sendiri.

Tillerson justru dianggap 'mengisolasi dan mengalienasi' serta menjadikan Trump sebagai sosok antagonis di kancah politik luar negeri AS.

Belum lagi cek-cok yang kerap muncul antara Trump-Tillerson dalam setiap rapat kabinet di Gedung Putih.

Hal itu pulalah yang mungkin menyebabkan Trump mengutarakan komentar berikut selepas mengumumkan pemecatan Tillerson.

"Sesungguhnya kami bekerja sama dengan baik, tapi kami tak setuju pada beberapa hal," kata presiden ke-45 AS itu saat konferensi pers di Gedung Putih seperti dikutip dari BBC (13/3/2018).

Lebih lanjut, "Saya ingin melakukan ini atau mengubah itu, dan ia (Tillerson) justru berpikiran berbeda. Jadi kami tidak berpikiran hal yang sama."

Di sisi lain, Business Insider menulis, Trump juga menganggap Tillerson sebagai figur yang 'terlalu saklek pada kemapanan (establishment)' dalam dinamika politik AS.

Komentar tersebut pun dibuktikan dengan kecenderungan Trump yang justru lebih memilih figur seperti Jared Kushner dan Steve Bannon (sebelum ia dipecat) sebagai ujung tombak diplomasi yang krusial bagi AS -- seperti dengan Arab Saudi dan Eropa.

"Termasuk di internal Gedung Putih, Tillerson hanya berada di bawah bayang-bayang politisi lain dalam memproyeksikan kebijakan luar negeri AS terhadap Suriah dan Rusia," tulis Tracy Wilkinson pengamat politik AS seperti dikutip dari Los Angeles Times.

Tak hanya itu, banyak komentar Tillerson yang justru berbanding terbalik dengan proyeksi kebijakan luar negeri AS.

Misalnya adalah kala AS, pada April 2017, memutuskan untuk melakukan bombardir udara terhadap pasukan pro Presiden Suriah Bashar Al Assad -- hanya beberapa hari usai sang Menlu mengutarakan bahwa hubungan Washington - Damaskus baik-baik saja.

Juga ketika Tillerson menganjurkan kepada Saudi dan Qatar untuk menghentikan permusuhannya dalam isu Krisis Timur Tengah pada 9 Juni 2018 -- dan beberapa jam kemudian, Donald Trump justru menyatakan keberpihakannya kepada Arab Saudi.

Termasuk seputar dinamika di Semenanjung Korea -- yang mana, kala Tillerson menjabat sebagai Menlu AS, tensi antara Washington dengan Pyongyang justru memuncak.

2 dari 3 halaman

Tillerson Berjarak dengan Para Pejabat Tinggi Kemlu AS

Vox menulis, salah satu alasan yang juga menjadi faktor vital di balik pemecatan Tillerson adalah bahwa ia tak menjalin relasi kerja yang efektif dan dekat dengan para pejabat dan staf tinggi dalam internal lembaga yang ia naungi, Kementerian Luar Negeri AS.

Tillerson pernah menerapkan kebijakan untuk 'membuat Kemlu AS bekerja secara efisien' dengan memotong anggaran dan personel lembaga tersebut. Namun hal itu disebut justru 'mengakibatkan demoralisasi' para pejabat tinggi dan staf Kemlu AS.

Sekitar 60 persen diplomat top Kemlu AS mengundurkan diri dari pos masing-masing usai Tillerson menjabat sebagai Menlu AS, American Foreign Service Association melaporkan.

Namun, pakar menyebut bahwa pengunduran diri para diplomat itu mungkin juga disebabkan oleh ketidaksukaan mereka dengan kebijakan politik luar negeri Presiden Donald Trump.

Di sisi lain, Tillerson pun gagal untuk segera mengisi kekosongan posisi diplomat yang mengundurkan diri.

Namun, sebagian besar hal itu disebabkan oleh ketidaksetujuan Trump pada calon diplomat yang dipilih oleh Tillerson -- mengganggapnya sebagai sosok yang 'sama-sama buruk' dengan sang Menlu AS sendiri.

Kondisi itu diperparah dengan betapa seringnya Trump-Tillerson dilaporkan cek-cok pada beberapa rapat di Gedung Putih.

Jika dibandingkan dengan Menhan AS James Mattis, Purnawirawan Jenderal Marinir itu justru relatif lebih baik dalam mengorganisasi lembaga yang ia naungi, termasuk dalam 'mengambil hati' sang presiden dalam proses perumusan kebijakan -- meski secara personal pun 'The Mad Dog' dilaporkan kerap berselisih dengan sang miliarder nyentrik. Tulis Vox.

Artikel Selanjutnya
Ambisi Donald Trump, AS Bakal Bentuk Pasukan Antariksa
Artikel Selanjutnya
Bursa Asia Tertekan Imbas Kekhawatiran Aksi Proteksi Dagang AS