Sukses

Misteri Buaya Oranye Bermata Merah yang Menghuni Gua di Afrika

Liputan6.com, Abanda, Gabon - Sebuah penampakan tidak biasa dari buaya yang mendiami Gua Abanda di Gabon, sebuah negara di tengah benua Afrika, bikin kaget para peneliti yang tengah mengeksplorasi kawasan tersebut.

Dilansir dari laman CNN pada Kamis (8/2/2018), buaya asing itu berbalut kulit bersisik yang didominasi oleh warna oranye, dan sepasang mata merah menyala.

Olivier Testa, seorang ilmuwan yang terlibat di dalam penelitian terkait, mengaku sering melihat pemandangan aneh sekaligus unik dalam berbagai kegiatan ilmiahnya. Namun, bertemu buaya oranye dengan sepasang mata berwarna merah adalah pertama kali baginya.

Bersama dengan rekan peneliti lainnya, seorang ahli buaya bernama Matt Shirley, pertama kali mengunjungi lokasi terkait pada 2009, yakni setelah seorang arkeolog bernama Richard Oslisly melaporkan tentang penemuan sekumpulan buaya di dalam gua.

"Pertama kali mendengar laporan tentang keberadaan buaya di dalam gua, kami berusaha membujuknya keluar, dan terkejut karena mendapat penampakannya tidak biasa," ujar Testa yang mengaku telah lebih dari enam kali mengunjungi lokasi penelitiannya tersebut.

Sangat sedikit informasi yang membahas mengenai keberadaan buaya misterius itu. Namun, penelitian yang dilakukan oleh Shirley memperkirakan bahwa hal itu sebagai kemungkinan evolusi berujung spesies baru.

Shirley menduga buaya berjenis kerdil itu bermutasi karena memiliki haplotype genetik yang berbeda dengan buaya serupa lainnya di benua Afrika.

Ia juga menambahkan bahwa anomali terkait membuktikan bahwa reptil -- dalam hal ini buaya -- mampu beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan gelap.

"Warna kulit yang lebih terang sangat mungkin bertujuan sebagai pantulan cahaya bagi buaya untuk bertahan hidup di dalam gua," jelas Shirley.

 

Simak video menarik tentang buaya yang gemar memakan kerupuk berikut: 

 

1 dari 2 halaman

Asal Muasal Warna Oranye di Kulit Buaya

Misteri yang paling membingungkan adalah tentang asal muasal warna oranye pada buaya tersebut. Namun sejauh ini, peneliti yakin bahwa fenomena terkait disebabkan oleh proses pemutihan oleh zat asam yang ada di dalam gua.

"Zat asam yang berasal dari endapan kotoran kelelawar bisa menajdi 'serangan kimia' pada kulit, namun kami belum bisa membuktikan secara pasti hal tersebut karena keterbatasan sarana penelitian," ujar Testa seraya menjelaskan bahwa buaya kerdil di Afrika umumnya berwarna abu-abu.

Gua Abanda yang menjadi tempat tinggal buaya oranye terletak di sebuah area terpencil dengan 20 buah sistem gua lainnya.

"Tidak ada akses jalan ke sana, kecuali menggunakan perahu dari kota terdekat selama hampir seharian penuh, dan mau tidak mau harus menginap di hutan yang berada tidak jauh dari akses masuk gua," jelas Testa.

Menurut Testa, buaya biasanya bersembunyi di gua untuk bertelur. "Bisa jadi buaya-buaya ini terjebak di dalam gua, dan tidak bisa keluar ke permukaan, sehingga menjadikannya berbeda," lanjutnya menjelaskan.

Testa dan timnya juga melakukan pengambilan contoh DNA pada buaya terkait, dan menemukan fakta bahwa gen dan pola makannya berbeda dengan buaya-buaya pada umumnya.

"Kami menemukan sebuah tulang kelelawar di dalam sistem pencernaan buaya oranye, dan juga beberapa jejak daging jangkrik, siput, dan beberapa hewan bercangkang lain," tukas Testa.

Kelompok peneliti tersebut mengatakan akan merancang batas-batas wilayah di habitat terkait, sehingga dapat diusulkan sebagai kawasan lindung.

Artikel Selanjutnya
Bikin Merinding, Ini 6 Tempat Paling Angker Seantero Rusia
Artikel Selanjutnya
Tewaskan Pesepeda di AS, Singa Gunung Diburu Lalu Ditembak