Sukses

AS Menempatkan Banyak Staf Diplomatik di Rusia, Ini Alasannya

Liputan6.com, Moskow - Banyak warga Amerika Serikat bekerja di Moskow dan sejumlah kota di Rusia. Apa saja tugas mereka di sana?

Hubungan Amerika Serikat dan Rusia masih menjadi sorotan utama hingga hari ini. Teranyar, Presiden Vladimir Putin meminta pengurangan lebih dari 750 staf yang bekerja di perwakilan AS di seluruh Rusia.

Langkah Putin ini merupakan aksi balasan setelah pada Desember 2016, Barack Obama memerintahkan penyitaan dua aset diplomatik dan mengusir 35 diplomat Rusia.

Namun, bagaimanapun apa yang dilakukan Putin menunjukkan perkembangan mengejutkan dalam hubungan kedua negara di tengah ancaman sanksi baru AS terhadap Rusia dan kecurigaan intervensi Moskow dalam Pilpres AS 2016.

Sejak lama, Washington dan Moskow memiliki hubungan yang dengan cepat dapat naik-turun. Belakangan, fakta bahwa ada begitu banyak orang yang bekerja di sejumlah perwakilan AS di Rusia memicu pertanyaan, mengapa?

Beberapa estimasi menyebutkan, terdapat 1.200 pegawai negeri AS di Negeri Beruang Merah. Sekilas, jumlahnya sangat banyak. Meski demikian, dianggap cukup masuk akal mengingat hubungan dengan Rusia penuh tantangan dan gejolak.

AS dan Rusia memiliki sejumlah wilayah kerja sama yang penting, di antaranya memerangi kelompok militan, menjamin keamanan senjata nuklir di kedua negara, dan mengurangi kekerasan di Suriah. Selain itu, AS mengekspor produk bernilai miliaran dolar ke Rusia setiap tahunnya.

Di sisi lain, kedua negara juga bentrok dalam sejumlah isu seperti dugaan campur tangan dalam Pilpres AS 2016, ambisi teritorial, dan ekspansi Rusia.

Seperti dikutip dari BBC pada Rabu (2/8/2017), pejabat AS mengatakan, memantau aktivitas Rusia dan terus mengikuti berbagai aspek hubungan membuat Washington membutuhkan banyak staf di Moskow.

Karenanya, AS menempatkan banyak pekerjanya di lokasi yang berbeda di Rusia. Sebagian besar dari mereka bekerja di Moskow, tapi beberapa lainnya tersebar di Vladivostok, St Petersburg, dan Yekaterinburg.

Di Moskow dan sejumlah kota sekitarnya, staf diplomatik AS bertugas memproses permohonan visa bagi warga Rusia yang ingin bepergian ke Negeri Paman Sam. Dan sebagai tambahannya, mereka mengirim kabel diplomatik ke Washington tentang HAM, buruh, dan sebagainya.

Ada pula beberapa di antaranya yang bekerja pada inisiatif pertanian, sains, dan kesehatan masyarakat, semisal membantu melindungi satwa langka dan memerangi penyakit menular.

Bukan rahasia bahwa sejumlah warga AS di Rusia bekerja untuk CIA dan badan intelijen. Jumlahnya disebut cukup besar, walaupun spesifikasinya tidak tersedia.

Angela Stent dari Georgetown University yang sempat bekerja sebagai petugas intelijen nasional tertawa ketika ditanya terkait hal tersebut. 

"Tidak ada yang tahu itu," kata Stent.

Sebagian besar mengira, selama ini orang yang bekerja di kedubes dan sejumlah kantor perwakilan AS adalah mata-mata, tapi faktanya mereka bukan warga AS, melainkan orang-orang Rusia.

Menurut laporan inspektorat umum tahun 2013, dari 1.279 orang yang bekerja di Kedubes AS di Rusia, 934 di antaranya adalah warga lokal. Warga Rusia yang dipekerjakan membantu mengatur pelaksanaan acara, memproses visa, memperbaiki komputer, dan sebagainya.

Kebijakan Putin terkait pengurangan pekerja di perwakilan AS di Rusia ini dinilai akan berdampak bagi staf lokal.

"Mereka akan kehilangan pekerjaan," ujar Yuval Weber, dari Wilson Center di Washington.

Dampak lainnya dari kebijakan Putin adalah warga Rusia akan lebih sulit untuk mendapat visa. Menurutnya, saat ini saja dibutuhkan waktu dua hingga lima pekan bagi warga Rusia untuk mendapat visa AS dan dengan pengurangan staf, waktunya akan lebih lama.

Menanggapi kebijakan Putin, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan akan bertemu dengan mitranya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dalam pekan ini. Demikian seperti dikutip dari CNN.

Dalam pertemuan tersebut akan dibahas peningkatan hubungan kedua negara pasca-disahkannya sebuah UU oleh Kongres AS yang menandai disetujuinya sanksi baru atas Rusia, Iran, dan Korea Utara.

 

Saksikan video menarik berikut: