Sukses

Selain WannaCry, Ini 3 Peretasan yang Diduga Didalangi Korut

Liputan6.com, Pyongyang - Beberapa peneliti keamanan siber telah menemukan adanya kemungkinan hubungan Korea Utara dengan teror Ransomware WannaCry yang setidaknya telah menyerang 150 negara.

Terdapat dua hal yang mengarahkan bahwa negara tertutup di Semenanjung Korea itu jadi pihak di balik teror ransomware WannaCry.

Pertama, versi awal kode WannaCry serupa dengan kode backdoor yang diciptakan oleh peretas yang terhubung dengan pemerintah Korut, Lazarus Group. Kedua, zona waktu dalam kode WannaCry disetel ke UTC +9, di mana Korea Utara termasuk ke dalamnya.

Meski demikian, para ahli mengatakan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa Korut yang menjadi dalang teror WannaCry, di mana malware itu telah menginfeksi setidaknya 200.000 komputer.

Namun sebelum diduga terlibat dalam teror ransomware WannaCry, Korea Utara telah dihubungkan ke sejumlah kasus peretasan besar. Dikutip dari CNN, Rabu (17/5/2017), berikut 3 di antaranya:

2 dari 4 halaman

1. Peretasan Sejumlah Bank di Dunia

Ilustrasi (iStock)

Sebuah grup yang memiliki hubungan dengan Korea Utara, Lazarus Group, diduga bertanggung jawab atas sejumlah serangkaian serangan di institusi keuangan.

Serangan paling besar terjadi pada Februari 2016, di mana uang sebesar US$ 101 juta ditransfer dari rekening bank sentral Bangladesh ke New York Federal Reserve dan kemudian dipindahkan ke Sri Lanka dan Filipina. Sebagian besar uang tersebut belum didapatkan kembali.

Peneliti keamanan siber kemudian menyebut bahwa taktik serupa juga pernah digunakan dalam sejumlah serangan bank di Ekuador, Filipina, dan Vietnam.

Para peneliti di perusahaan keamanan siber Kaspersky Lab mengatakan pada April lalu, Lazarus Group juga juga menyerang institusi keuangan di Kosta Rika, Ethiopia, Gabon, India, Indonesia, Irak, Kenya, Malaysia, Nigeria, Polandia, Taiwan, Thailand, dan Uruguay.

Menurut Kaspersky, Lazarus Group dengan hati-hati mengarahkan sinyal mereka melalui Prancis, Korea Selatan, dan Taiwan, untuk menyiapkan server serangan mereka. Namun para peneliti menyadari satu kesalahan: sambungan secara singkat datang dari Korea Utara.

3 dari 4 halaman

2. Peretasan Sony Pictures

Poster Film The Interview (Wikipedia/Fair Use)

Sebuah serangan besar ke Sony Pictures pada 2014 membuat studio film itu lumpuh pada 2014. Saat itu, Sony akan merilis film komedi yang menceritakan rencanakan pembunuhan pemimpin Korut Kim Jong-un, The Interview.

Para peretas mencuri naskah film, keseluruhan film, memo internal, dan informasi pribadi kepada pemain film dan pegawai Sony. Mereka lalu menghapus semua data komputer.

Sejumlah petunjuk mengarah ke Lazarus. FBI pun berkesimpulan bahwa Korea Utara yang ada di belakang aksi itu.

Pada awal 2015, Gedung Putih mengumumkan sejumlah sanksi ekonomi untuk menghukum Korea Utara atas keterlibatannya. Langkah tersebut menargetkan pejabat senior rezim. Namun Korut menyangkal bahwa mereka lah yang ada di balik peretasan.

4 dari 4 halaman

3. Sistem Kereta Bawah Tanah dan Ponsel di Korsel

Ilustrasi (iStock)

Meski sejumlah peretasan yang dilakukan Korea Utara tampaknya dimotivasi oleh kurangnya uang tunai atau retribusi pribadi, rezim itu juga melancarkan sejumlah serangan terhadap negara tetangganya.

Pada Desember 2016 Korea Selatan mengatakan bahwa Korut telah meretas intranet militernya dan membocorkan informasi rahasia.

Menurut badan inteligen negara, ponsel pejabat pemerintahan terkemuka Korsel juga diretas pada 2016. Seoul juga menuduh Korea Utara mencuri pesan singkat dan suara dengan mengirimkan 'pesan singkat menarik'.

Pyongyang juga diduga mengubah 60.000 komputer di Korea Selatan menjadi 'zombie', di mana komputer yang terinfeksi peretas dapat digunakan untuk serangan siber. Badan inteligen Korea Selatan memperkirakan bahwa Pyongyang mengontrol lebih dari 10.000 komputer dalam waktu satu bulan pada 2015.

Pada 2013, jaringan besar bank dan media penyiaran menjadi korban serangan yang pelakunya mengarah ke Korea Utara.

Saksikan juga video berikut ini:

Loading