Sukses

Korut Retas Jaringan Komputer Militer Korea Selatan?

Liputan6.com, Seoul - Pihak Korea Utara diduga telah meretas komando siber Korea Selatan dalam serangan siber (cyberattack) teranyar terhadap Seoul, demikian diungkapkan oleh pihak militer Korea Selatan hari ini, Selasa 6 Desember 2016.

Dikutip dari Kantor Berita Yonhap pada Selasa (6/12/2016), pejabat militer Korsel dari Kementerian Pertahanan mengatakan, "Sepertinya server intranet untuk komando siber telah terkontaminasi oleh malware. Kami menemukan bahwa beberapa dokumen militer, termasuk informasi rahasia, telah diretas."

Malware adalah program komputer yang dirancang untuk merusak sistem komputer yang disusupi.

Pihak komando siber Korsel mengatakan bahwa mereka telah mengisolasi server yang terdampak dari seluruh jejaring komputer demi menghindari penyebaran virus-virus kiriman. Namun demikian, masih belum jelas data mana saja yang telah bocor.

Inilah pertama kalinya komando siber Korsel berhasil dijebol. Seoul membentuk komando itu pada Januari 2010 sebagai bagian dari upayanya melawan upaya-upaya peretasan dari luar terhadap militer Negeri Ginseng itu.

Korut sendiri memiliki ribuan 'pasukan' perang siber dan memiliki rekam jejak telah melakukan serangan siber di Korsel dan Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun belakangan ini. Pihak Korut menolak mentah-mentah tuduhan tersebut.

Di awal tahun ini, Korsel menuduh Korut mencuri informasi dari sekitar 10 orang petinggi Korsel dengan cara meretas telepon pintar para pejabat yang dimaksud.

Dua bulan lalu, anggota parlemen bernama Kim Jin-pyo dari partai oposisi utama, Partai Demokratik Korea, mengaku bahwa komando siber mendapat serangan pada September lalu.

Ia mengatakan kepada Yonhap bahwa peretasan membidik "vaccine routing server" yang terpasang di komando siber Korsel. Router yang dimaksud menjadi tempat perlawanan masuknya virus-virus komputer.

Kim adalah anggota komisi pertahanan nasional. Menurutnya kode komputer yang merusak (malicious) yang dikirim telah dikenali dan diduga memanfaatkan kelemahan server untuk routing tersebut.

Server itu bertugas untuk urusan keamanan komputer-komputer milik militer yang dipakai untuk keperluan terkait internet. Sekitar 20 ribu komputer militer diketahui terhubung dengan server itu.

Pada Oktober, Kim mengatakan kecil kemungkinannya peretasan yang terjadi menjurus kepada kebocoran informasi rahasia karena intranet militer tidak terhubung dengan server yang dimaksud.

Berbeda dengan internet yang terhubung dengan dunia luar, koneksi intranet hanya terhubung dengan jejaring komputer di dalam lembaga.

Namun demikian, menurut suatu sumber, ada kemungkinan sistem intranet milter telah kebobolan juga oleh peretasan itu. Dengan demikian, Korsel mungkin harus menulis ulang rencana-rencana operasi militer mereka.