Sukses

Misteri Salamander Berkepala 2 di Laboratorium Israel

Liputan6.com, Haifa - Arne dan Sebastian berbagi tubuh yang sama. Salamander berkepala dua itu lahir pekan lalu di sebuah laboratorium di University of Haifa, Israel.

Hingga kini, para peneliti di sana belum menemukan jawaban mengapa kecebong salamander api Near East (Salamandra infraimmaculata) itu punya 2 kepala.

Muncul sejumlah dugaan, mulai mutilasi acak, pencemaran lingkungan, sampai radiasi radioaktif -- bisa jadi biang keladinya.

"Saat ini kita hanya bisa berpekulasi," kata Leon Blaustein, ahli ekologi yang laboratoriumnya menjadi tempat penemuan salamander aneh itu, seperti Liputan6.com kutip dari situs sains LiveScience, Kamis (11/12/2014).

Awalnya, tim Blaustein mengumpulkan salamander betina liar yang sedang mengandung, agar mereka bisa melahirkan di laboratorium. Untuk kepentingan penelitian.

Seekor betina yang dikumpulkan dari lokasi Kaukab Springs di Galilee Mountains melahirkan salamander berkepala dua tersebut.

Ajaibnya, kedua kepala itu bisa bergerak dan dua mulutnya bisa digunakan untuk memangsa makanan kesukaan mereka: larva serangga.

Nama Arne dan Sebastian diambil dari dua ilmuwan Jerman -- Arne Nolte dan Sebastian Steinfartz, yang bekerja sama dengan Blaustein  dalam studi soal ekologi salamander api.

Salamander api Near Eastern masuk daftar spesies yang "hampir terancam", demikian data International Union for Conservation of Nature.

Dan manusia adalah faktor utama penghambat perkembangan spesies itu. Menurut IUCN, pertumbuhan manusia membuat habitat salamander di Israel, Lebanon, dan Suriah makin menyusut, akibat pencemaran air juga penggunaan air untuk irigasi.

Bendungan juga bisa mengganggu habitat salamander, karena seringkali membanjiri kolam dangkal dan aliran sungai kecil yang menjadi habitat hewan amfibi itu.

Di Israel, kata Blaustein, mobil juga jadi masalah besar bagi para salamander. Pengendara kerap melindas mereka.

Misteri Penyebab

Kepala ganda pernah ditemukan pada kura-kura, ular, ikan hiu martil. Namun, untuk salamander, kasus serupa sangatlah jarang.

Laboratorium Blaustein mencatat sejumlah kasus larva salamander lahir dengan 6 kaki, bukan 4. Atau hewan itu lahir dengan kepala parsial. Namun, menemukan dua kepala pada satu tubuh sangat tidak biasa.

Dan, melacak penyebab kecacatan itu amatlah sulit. Amfibi memang sensitif terhadap perubahan lingkungan dan polusi -- diduga kelainan pada hewan itu adalah indikator bahwa ada yang salah dengan lingkungan.

Kaukab Springs -- tempat induk salamander berkepala dua ditemukan -- adalah salah satu lokasi perkembangbiakkan salamander yang sudah tercemar polusi. Namun, berdasarkan faktor itu saja, belum bisa ditarik kesimpulan bahwa polusi lah yang menyebabkan cacat pada hewan tersebut.

"Adalah hal yang keliru menyimpulkan bahwa pengamatan terhadap hanya satu salamander berkepala dua, dijadikan dasar untuk menarik kesimpulan bahwa itu disebabkan oleh tindakan manusia yang merusak lingkungan," kata Blaustein.

Setelah University of Haifa merilis pernyataan, termasuk spekulasi para peneliti bahwa salamander berkepala 2 disebabkan polusi atau radiasi, sejumlah media mengabarkan bahwa hewan itu terkontaminasi radioaktif.

Menurut Blaustein, anggapan itu tak benar. Atau setidaknya, belum ada bukti sahih yang memperkuat klaim tersebut.

Apalagi salamander tersebut bukan satu-satunya hewan yang memiliki 2 kepala. Pada tahun 2013, seorang nelayan di Florida menangkap hiu betina dan menemukan bahwa janin hidup di perut hewan tersebut punya kepala ganda. 

Pada tahun yang sama, di Australia, objek 'aneh dan pucat' diketahui sebagai bayi ikan pari yang punya 2 kepala.

Ada sejumlah penjelasan yang ditawarkan terkait fenomena-fenomena tersebut: embrio yang mulai terbelah menjadi kembar, namun prosesnya tak sampai selesai.

Temuan terbaru didapat pada Agustus 2014. Lumba-lumba berkepala dua tersapu ombak ke pantai Turki. Dan yang paling aneh adalah yang ditemukan pada 2011, yakni seekor hiu 'Cyclops', janin hiu bermata satu yang ditemukan di perairan Meksiko. (Ein/Tnt)

Loading