Sukses

Dubes Irak untuk Vatikan: ISIS Berniat Bunuh Paus Fransiskus

Liputan6.com, Vatikan - Peringatan serius disampaikan pada pemimpin Takhta Suci Vatikan, Paus Fransiskus, yang sedang bersiap melakukan perjalanan ke Albania pada hari Minggu: ISIS berniat membunuhnya.

Duta Besar Irak untuk Vatikan, Habeeb Al Sadr, mengatakan ada ancaman yang kredibel terhadap nyawa Paus berusia 77 tahun itu terkait dengan rencana perjalanannya itu. Pemimpin Gereja Katolik Roma itu juga rentan saat melakukan kunjungan ke Turki yang direncanakan pada bulan November mendatang.

Ekstremis ISIS beberapa pekan belakangan sesumbar ingin memperluas 'kekhalifahan' mereka sampai Roma. Juga berniat mengibarkan bendera hitam simbol mereka di puncak Basilika Santo Petrus.

Habeeb Al Sadr mengatakan, ada indikasi yang lebih spesifik soal ancaman terhadap Paus Fransiskus, yang baru-baru ini bicara menyatakan dukungannya pada Amerika Serikat dan sekutunya untuk menghentikan gerak ISIS di Irak dan Suriah.

Meski, dalam pernyataannya Paus tak menyebut mendukung perang. "Aku menekankan: hentikan. Saya tak menyebut bom, perang, hanya hentikan mereka."

"Apa yang diucapkan kelompok yang secara sepihak mengklaim sebagai Negara Islam itu amatlah jelas -- mereka ingin membunuh Sri Paus," kata Habeeb Al Sadr kepada koran Italia La Nazione, seperti Liputan6.com kutip dari Telegraph, Rabu (17/9/2014). "Ancaman terhadap Paus sangat kredibel."

Pak Dubes juga meyakini ancaman itu bukan sekadar omong kosong. "Saya yakin mereka bisa saja mencoba membunuh Paus dalam salah satu kunjungannya di luar negeri, atau bahkan di Roma. Ada sejumlah anggota ISIS yang bukan saja dari Arab, tapi juga berasal dari Kanada, AS, Prancis, Inggris, juga Italia," kata dia. "ISIS bisa jadi melakukan serangan teroris di Eropa."

Dubes yang sudah bertugas 4 tahun di Vatikan berpendapat, ancaman ISIS tak seharusnya dianggap remeh. "Mereka tak sekadar mengancam. Di Irak mereka menghancurkan situs suci Syiah, menyerbu rumah ibadah Kristen dan Yazidi."

Sementara, pihak Vatikan mengaku belum menerima informasi atau potensi ancaman yang kredibel terkait ancaman terhadap Paus Fransiskus. Mereka tak akan mengubah agenda yang telah ditetapkan, termasuk kunjungan ke Albania.

"Belum ada ancaman atau risiko yang spesifik yang akan mengubah kebiasaan Paus atau agenda perjalanan yang telah disusun," kata Pastor Federico Lombardi, juru bicara Vatikan.

Selama kunjungan ke Tirana, ibukota Albania pada hari Minggu mendatang, Paus akan mengadakan misa di alun-alun utama kota. Ia juga akan berkeliling menggunakan Popemobile, dengan atap terbuka, seperti biasanya.

Paus, kata Pastor Lombardi, tak mau ada 'penghalang' antara dirinya dan orang-orang kebanyakan.

Juga tak akan ada pengetatan keamanan dalam kunjungan Albania, meski ada informasi bahwa ekstremis Albania yang baru pulang dari Suriah atau Irak mungkin merencanakan serangan.

Perjalanan ke Albania dimaksudkan untuk merayakan kelahiran kembali Kristen setelah keyakinan agama hancur di bawah pemerintahan Komunis, Enver Hoxha. Juga untuk menunjukkan bagaimana umat Katolik, Ortodok, dan Muslim hidup berdampingan secara harmonis di negara berpenduduk 3 juta jiwa itu.

Hoxha, sang diktator, mendeklarasikan Albania sebagai negara atheis pertama pada 1967. Paus Fransiskus juga akan mengunjungi Turki -- ke Ankara juga Istanbul, pada 29 dan 30 November 2014. Juga di bawah bayang-bayang ISIS. (Yus)

Loading