DPR Memanggil Rusdihardjo

Dubes RI untuk Malaysia Rusdihardjo dipanggil Komisi I DPR untuk mengklarifikasi permintaan maafnya kepada Malaysia. Komisi I menilai pernyataan itu merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Diterbitkan 23 Maret 2005, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Komisi I DPR RI memanggil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Rusdihardjo, Rabu (23/3). Pemanggilan berkaitan dengan pernyataan maaf Rusdihardjo kepada pemerintah Malaysia yang dikutip Kantor Berita Bernama Malaysia pada 14 Maret silam.

Dalam pernyataannya, Rusdihardjo meminta maaf atas unjuk rasa anti-Malaysia yang diwarnai dengan pembakaran bendera Malaysia. Ia mengatakan bahwa aksi yang berkaitan kasus Ambalat itu dilakukan oleh orang lapar. &quotPembakaran bendera ini merupakan tindakan yang tidak sopan. Mereka [yang membakar bendera] ini ialah orang-orang `hungry` (lapar), bila `hungry` mereka jadi `angry` (marah)," kata Rusdihardjo seperti dikutip dari Bernama.

Adapun dalam rapat dengar pendapat hari ini, anggota Komisi I menilai pernyataan itu merendahkan martabat bangsa Indonesia. Tindakan tersebut juga menjadi bentuk diplomasi buruk dari seorang duta besar. Komisi I merasa perlu memanggil Rusdihardjo untuk memberikan klarifikasi. Karena hingga saat ini, belum ada kejelasan apakah pernyataan itu dikeluarkan atas perintah pemerintah pusat atau inisiatif Rusdihardjo sendiri.

Rusdihardjo yang didampingi pihak Departemen Luar Negeri mengaku sempat menerima utusan organisasi pemuda di Malaysia. Menurut Rusdihardjo, mereka menyampaikan protes atas sikap rakyat Indonesia dalam sengketa Ambalat. Terutama aksi pembakaran bendera. Menanggapi reaksi itulah, Rusdihardjo lantas menyampaikan permohonan maaf. Rusdihardjo menambahkan, permohonan maaf itu lazim dilakukan oleh dubes. Apalagi salah satu fungsi dubes adalah meredam ketegangan di antara kedua negara.

Aksi menentang klaim Malaysia atas Blok Ambalat, Laut Sulawesi, sempat merebak di sejumlah daerah. Di Makassar, Sulawesi Selatan dan Pontianak, Kalimantan Barat, pengunjuk rasa membakar bendera Negeri Jiran [baca: Presiden Membantah Berkonfrontasi dengan Malaysia]. Sementara di kota lain seperti Semarang, Jawa Tengah dan Bandung, Jawa Barat dibuka pendaftaran menjadi relawan untuk mempertahankan kedaulatan Indonesia.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6