Kondisi Ribuan Warga Telaga Tujuh Memprihatinkan

Mereka kekurangan air bersih serta hidup berdesak-desakan dalam lingkungan yang kotor. Ratusan anak-anak mulai terserang berbagai penyakit seperti diare, inspeksi saluran pernapasan bagian atas dan demam.

Diterbitkan 07 Januari 2005, 01:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Langsa: Kondisi lebih dari 2.800 jiwa pengungsi warga Desa Telaga Tujuh, 4,5 kilometer atau 30 menit dari Kuala Langsa, Kota Langsa, sangat memprihatinkan. Selain kekurangan air bersih dan keadaan lingkungan yang kotor, mereka terpaksa hidup berdesak-desakan karena tempat penampungan terbatas. Demikian hasil pemantauan SCTV di Kota Langsa, baru-baru ini.

Pengungsi menempati gedung sekolah, gedung penampungan udang, gardu jaga atau menumpang di rumah warga. Sebagian besar dari mereka anak-anak dan perempuan. Akibat kondisi yang sangan buruk, kini, ratusan anak-anak pengungsi mulai terserang berbagai penyakit seperti diare, inspeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA), dan demam.

Mereka sebetulnya sudah meminta dikembalikan ke kampung halaman. Namun pemerintah daerah setempat belum mengabulkan permintaan mereka. Desa Telaga Tujuh, Kecamatan Langsa Timur, belum layak huni. Sebaliknya, pemda justru berencana memindahkan pengungsi ke lokasi lain: Pelabuhan Kuala Langsa. Sebab gedung sekolah segera dipakai.

Kondisi tak jauh beda dirasakan 300 warga Aceh yang mengungsi ke Medan, Sumatra Utara. Walau dalam kondisi menderita, toh mereka sempat bertahlilan di lokasi pengungsian di Jalan Binjai Kilometer 11,7. Mereka berdoa bagi anggota keluarga yang menjadi korban.

Pengungsi datang ke Medan dan menempati gudang sebuah pabrik sejak 1 Januari silam. Saat tiba kondisi sebagian dari mereka tak sehat [baca: Ribuan Pengungsi Aceh Terus Memasuki Medan]. Banyak di antara mereka yang menderita diare dan ISPA. Seorang perempuan pengungsi lainnya stres berat karena seluruh anggota keluarganya tewas.

Mereka, kini, sangat membutuhkan bantuan berupa makanan dan obat-obatan. Di samping itu, pengungsi juga mengharapkan sumbangan pakaian dan perlengkapan salat. Sebab jarang di antara mereka yang memiliki pakaian ganti.(ICH/Muhammad Nasier dan Chairul Dharma)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6