Liputan6.com, Jakarta: Tim Penyidik Markas Besar Polri mencurigai dua pelaku bom bunuh diri di depan Kedutaan Besar Australia adalah Heri Golun dan Saeful Bahri alias Apuy. Keduanya warga Kampung Ranji Cigarung, Kebonpedes, Sukabumi, Jawa Barat. Heri dan Saeful diduga sebagai pengendara mobil Daihatsu boks yang meledak. Demikian informasi yang dirangkum SCTV, baru-baru ini.
Tim penyidik sudah mengambil sampel darah orang tua Heri dan Saeful, 22 September silam. Contoh darah kemudian dicocokkan dengan Deoxyribonucleic Acid (DNA) potongan daging yang diyakini bagian dari mayat pengebom Kedubes Australia. Potongan daging tersimpan di Rumah Sakit Kepolisian Pusat dokter Soekanto (RS Polri), Kramatjati, Jakarta Timur.
Didin Raydin, ayah Heri, tak yakin kalau anaknya terlibat peledakan bom di Kedubes Australia. Dia berharap dugaan polisi keliru. Apalagi Heri rajin beribadah dan tak pernah terlibat kejahatan. Kendati demikian, Didin mengaku pasrah bila benar yang tewas bersama di bom mobil itu adalah Heri.
Lelaki berusia 49 tahun ini menambahkan, sudah lama tak bertemu Heri. Terakhir, lima bulan silam. Waktu itu, menurut Didin, Heri datang untuk meminta maaf karena akan bekerja di tempat yang jauh. Tapi Heri tak pernah mengatakan jenis pekerjaan dan tempatnya.
Heri adalah anak pertama dari empat bersaudara. Selama ini bekas preman yang sudah insaf itu tinggal bersama Sitem, istrinya, di sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari kediaman Didin. Pekan kemarin, Heri menjadi bapak setelah Sitem melahirkan anak pertama mereka.
Temuan ini sekaligus mengubur informasi yang pernah beredar. Sebelumnya dugaan mengarah ke Hasan, warga Surabaya, Jawa Timur, dan Jabir alias Gempur. Belakangan, tim penyidik memastikan bukan mereka pelakunya. Hasil tes DNA potongan daging tak identik dengan sampel darah orang tua Hasan dan Jabir [baca: DNA Pelaku Bom Kuningan Sudah Diketahui].
Di kesempatan terpisah, jajaran Kepolisian Resor Lamongan, Jatim, gencar menyebarkan foto-foto buronan kasus peledakan bom seperti Doktor Azahari dan Noordin M. Top. Sekitar 3.000 lembar poster bergambar wajah kedua buron kakap itu disebarkan ke sejumlah tempat keramaian seperti persimpangan jalan dan pasar.
Polisi, juga menyebar gambar Azahari dan Noordin ke kampung halaman terpidana bom Bali, Amrozi di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Saat membagikan poster, polisi sempat bertemu ustad Zakaria, pengasuh Pondok Pesantren Al-Islam, Tenggulun. Namun Zakaria tak berkomentar soal kedua buron itu.
Penyebaran poster menjadi satu di antara kiat yang diterapkan polisi guna mengendus jejak Azhari dan Noordin. Warga diharapkan segera melapor bila mengetahui ada orang tak dikenal yang mirip dengan kedua tersangka.
Langkah serupa sebelumnya juga ditempuh jajaran Kepolisian Daerah Sumatra Utara yang menyebarkan 4.000 foto Azahari dan Noordin. Penyebaran dilakukan di ruang publik seperti pusat perbelanjaan, pasar swalayan, hotel, dan simpang jalan. Kegiatan dipimpin langsung Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Polisi H.S. Ginting [baca: "Jaring Penjerat" Azahari Cs Dibentang di Sumut].(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Tim penyidik sudah mengambil sampel darah orang tua Heri dan Saeful, 22 September silam. Contoh darah kemudian dicocokkan dengan Deoxyribonucleic Acid (DNA) potongan daging yang diyakini bagian dari mayat pengebom Kedubes Australia. Potongan daging tersimpan di Rumah Sakit Kepolisian Pusat dokter Soekanto (RS Polri), Kramatjati, Jakarta Timur.
Didin Raydin, ayah Heri, tak yakin kalau anaknya terlibat peledakan bom di Kedubes Australia. Dia berharap dugaan polisi keliru. Apalagi Heri rajin beribadah dan tak pernah terlibat kejahatan. Kendati demikian, Didin mengaku pasrah bila benar yang tewas bersama di bom mobil itu adalah Heri.
Lelaki berusia 49 tahun ini menambahkan, sudah lama tak bertemu Heri. Terakhir, lima bulan silam. Waktu itu, menurut Didin, Heri datang untuk meminta maaf karena akan bekerja di tempat yang jauh. Tapi Heri tak pernah mengatakan jenis pekerjaan dan tempatnya.
Heri adalah anak pertama dari empat bersaudara. Selama ini bekas preman yang sudah insaf itu tinggal bersama Sitem, istrinya, di sebuah rumah kontrakan yang tak jauh dari kediaman Didin. Pekan kemarin, Heri menjadi bapak setelah Sitem melahirkan anak pertama mereka.
Temuan ini sekaligus mengubur informasi yang pernah beredar. Sebelumnya dugaan mengarah ke Hasan, warga Surabaya, Jawa Timur, dan Jabir alias Gempur. Belakangan, tim penyidik memastikan bukan mereka pelakunya. Hasil tes DNA potongan daging tak identik dengan sampel darah orang tua Hasan dan Jabir [baca: DNA Pelaku Bom Kuningan Sudah Diketahui].
Di kesempatan terpisah, jajaran Kepolisian Resor Lamongan, Jatim, gencar menyebarkan foto-foto buronan kasus peledakan bom seperti Doktor Azahari dan Noordin M. Top. Sekitar 3.000 lembar poster bergambar wajah kedua buron kakap itu disebarkan ke sejumlah tempat keramaian seperti persimpangan jalan dan pasar.
Polisi, juga menyebar gambar Azahari dan Noordin ke kampung halaman terpidana bom Bali, Amrozi di Desa Tenggulun, Kecamatan Solokuro, Lamongan. Saat membagikan poster, polisi sempat bertemu ustad Zakaria, pengasuh Pondok Pesantren Al-Islam, Tenggulun. Namun Zakaria tak berkomentar soal kedua buron itu.
Penyebaran poster menjadi satu di antara kiat yang diterapkan polisi guna mengendus jejak Azhari dan Noordin. Warga diharapkan segera melapor bila mengetahui ada orang tak dikenal yang mirip dengan kedua tersangka.
Langkah serupa sebelumnya juga ditempuh jajaran Kepolisian Daerah Sumatra Utara yang menyebarkan 4.000 foto Azahari dan Noordin. Penyebaran dilakukan di ruang publik seperti pusat perbelanjaan, pasar swalayan, hotel, dan simpang jalan. Kegiatan dipimpin langsung Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Polda Sumut Ajun Komisaris Besar Polisi H.S. Ginting [baca: "Jaring Penjerat" Azahari Cs Dibentang di Sumut].(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5136323/original/018303500_1739855855-cek_fakta_keroncong.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306409/original/068173500_1784877920-cek_fakta_-_pendaftaran_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5342869/original/054403100_1757402619-IMG-20250909-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/423918/original/300904cGolun2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9289600/original/065309500_1783409865-Portugal_s_Cristiano_Ronaldo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301613/original/093079500_1784504537-000_C2LE74U.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301644/original/087929500_1784508450-trump_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264053/original/051807800_1782069676-Spain_s_Lamine_Yamal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260490/original/004683900_1781597232-063_2281735743-Spanyol_vs_Tanjung_Verde.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257806/original/036653900_1781257253-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9301596/original/087157300_1784500330-063_2286807575.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4786318/original/084826700_1711521270-GJmtYCIbgAAkw1f.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9299963/original/007789300_1784281017-mainoo.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3104854/original/092516000_1587109605-000_1Q35MK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5535295/original/004219900_1773977617-gianni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9303609/original/094591200_1784672116-AP26200776667216.jpg)