Liputan6.com, Yogyakarta: Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Sofian Effendi membantah menerima mahasiswa baru berdasarkan besar sumbangan yang diberikan. Bagaimanapun, tegas dia, UGM tetap mengedepankan prestasi akademik. Saat ini, dari 3.361 mahasiswa baru yang diterima, 26 persen di antaranya menyumbang di atas Rp 5 juta. Sumbangan Rp 5 juta sebanyak 51 persen, di bawah Rp 5 juta 13,5 persen, dan 9,6 persen tak menyumbang sepeserpun. Demikian keterangan Sofian di Yogyakarta, baru-baru ini.
Sofian juga menolak penilaian berbagai kalangan yang mengatakan UGM tak peka terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Menurut dia, biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sebesar Rp 1 juta per mahasiswa yang kini diterapkan UGM masih wajar. Langkah itu terpaksa dilakukan karena mereka harus mencari sendiri dana operasional sejak pemerintah membatasi subsidi bagi perguruan dan universitas negeri.
Sofian menjelaskan, selama ini masyarakat hanya tahu biaya pendidikan terdiri dari SPP dan biaya operasinal pendidikan (BOP) saja yang dibayarkan saban semester. Padahal, lanjut Sofian, biaya sebenarnya yang dihabiskan seorang mahasiswa untuk kuliah setahun mencapai Rp 11 juta.
Saat ini, 91 persen biaya pendidikan UGM masih disubsidi negara dan subsidi silang dari universitas. Sayangnya, selama ini fasilitas tersebut lebih banyak dinikmati mahasiswa dari keluarga mampu. Data tersebut diketahui dari informasi pihak rektorat yang menyebutkan mahasiswa UGM yang kurang mampu hanya enam persen. Sedangkan mahasiswa UGM dari keluarga mampu mencapai 76 persen, sisanya kalangan menengah.
Biaya pendidikan tinggi UGM ini dikeluhkan berbagai kalangan, terutama orangtua mahasiswa [baca: Pendidikan Diminta Jangan Dikomersilkan]. Bahkan, Ketua MPR Amien Rais menyebut PTN yang mahal sebagai sarang korupsi baru. Pasalnya, pemerintah sudah mematok anggaran pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dan jumlah itu sudah empat kali lipat dari anggaran pendidikan tahun sebelumnya. Jadi, menurut Amien, tak ada alasan menarik sumbangan sampai puluhan atau ratusan juta rupiah.(MTA/Wiwiek Susilo)
Sofian juga menolak penilaian berbagai kalangan yang mengatakan UGM tak peka terhadap kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Menurut dia, biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) sebesar Rp 1 juta per mahasiswa yang kini diterapkan UGM masih wajar. Langkah itu terpaksa dilakukan karena mereka harus mencari sendiri dana operasional sejak pemerintah membatasi subsidi bagi perguruan dan universitas negeri.
Sofian menjelaskan, selama ini masyarakat hanya tahu biaya pendidikan terdiri dari SPP dan biaya operasinal pendidikan (BOP) saja yang dibayarkan saban semester. Padahal, lanjut Sofian, biaya sebenarnya yang dihabiskan seorang mahasiswa untuk kuliah setahun mencapai Rp 11 juta.
Saat ini, 91 persen biaya pendidikan UGM masih disubsidi negara dan subsidi silang dari universitas. Sayangnya, selama ini fasilitas tersebut lebih banyak dinikmati mahasiswa dari keluarga mampu. Data tersebut diketahui dari informasi pihak rektorat yang menyebutkan mahasiswa UGM yang kurang mampu hanya enam persen. Sedangkan mahasiswa UGM dari keluarga mampu mencapai 76 persen, sisanya kalangan menengah.
Biaya pendidikan tinggi UGM ini dikeluhkan berbagai kalangan, terutama orangtua mahasiswa [baca: Pendidikan Diminta Jangan Dikomersilkan]. Bahkan, Ketua MPR Amien Rais menyebut PTN yang mahal sebagai sarang korupsi baru. Pasalnya, pemerintah sudah mematok anggaran pendidikan 20 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dan jumlah itu sudah empat kali lipat dari anggaran pendidikan tahun sebelumnya. Jadi, menurut Amien, tak ada alasan menarik sumbangan sampai puluhan atau ratusan juta rupiah.(MTA/Wiwiek Susilo)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3835760/original/050425800_1640739830-IMG-20211228-WA0174.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5344257/original/055252700_1757482470-WhatsApp_Image_2025-09-10_at_11.23.02.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287484/original/056615100_1783229292-bansos_pkh_bpnt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287416/original/074940600_1783225116-cek_fakta_sandiaga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/394757/original/230603bUGM1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258343/original/056341300_1781336647-063_2281311201.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287245/original/018106300_1783200103-ma8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287948/original/075704800_1783254081-AP26185782516118.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287278/original/006462200_1783206952-pra7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8397156/original/089293200_1782278283-AP26174690236290.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8257144/original/052940400_1781226984-javier-aguirre.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245839/original/084355000_1749414399-lamine_yamal_bernardo_silva_portugal_spanyol_UNL_090625_ap_michael_probst.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264240/original/068596200_1782101163-tunisia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9287279/original/022281700_1783206952-pra8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261544/original/016069100_1781743382-inggris.jpg)