Desa Soya dan Ahoru Disekat

TNI/Polri membuat batas antara Desa Soya dan Ahoru, Kecamatan Sirimau, Ambon, untuk mengatisipasi insiden serupa. Darurat Militer berlaku jika situasi memburuk.

Diterbitkan 30 April 2002, 06:22 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Ambon: Situasi di Desa Soya dan Desa Ahoru di Kecamatan Sirimau, Ambon, Maluku, sudah normal pascapenyerangan dan peledakan bom martir oleh sekelompok orang tak dikenal, Ahad dini hari, kemarin. Namun, aparat keamanan menyekat kedua desa tersebut untuk mengantisipasi insiden serupa. Kini, belasan warga yang terluka akibat ledakan bom martir masih dirawat di Rumah Sakit Bakti Rahayu. Sedangkan, 12 korban tewas sudah dimakamkan secara massal. Demikian pemantauan SCTV di Ambon, Senin (29/4) siang.

Sementara itu, para pedagang di Pasar Bakubae--lokasi ledakan mortir--masih belum berani beraktivitas. Mereka masih trauma akibat peristiwa tersebut. [baca: Dua Ledakan Mengguncang Ambon, 12 Orang Tewas ]. Kini, situasi Ambon secara keseluruhan relatif aman terkendali. Lalu lintas pun mulai ramai. Sejumlah personel aparat keamanan terlihat berjaga-jaga di sudut kota, meski tak terlalu mencolok.

Panglima TNI Laksamana Widodo A.S. menilai, insiden terjadi akibat senjata organik TNI masih banyak beredar di Maluku. Namun, kata Widodo, hal itu bukan berarti TNI mendalangi aksi penyerangan ke Desa Soya dan Ahoru. Untuk itu, aparat keamanan akan terus merazia senjata yang ada di tangan warga.

Selain itu, Panglima juga akan memberlakukan Darurat Militer jika situasi dinilai tak kondusif. "Jumlah pasukan pun akan ditambah ke sana," ujar dia. Sedikitnya dua satuan setingkat kompi Brigade Mobil telah dikirimkan ke Ambon pekan silam [baca: Polri Mengirim Dua SSK Brimob ke Ambon]. Mereka bertugas membantu Penguasa Daerah Sipil sebatas mengamankan situasi, bukan mencampuri penuntasan konflik.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6