Nama Pahlawan Revolusi Indonesia, Korban G30S/PKI yang Diabadikan dalam Sejarah

Mengenal nama nama pahlawan revolusi Indonesia yang gugur dalam tragedi G30S/PKI. Profil lengkap 10 tokoh yang dianugerahi gelar pahlawan revolusi.

Diterbitkan 16 September 2025, 11:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang lebih dikenal dengan G30S/PKI menjadi salah satu peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia. Malam itu, tujuh perwira militer diculik, disiksa, dan gugur dalam aksi pemberontakan yang mengguncang bangsa. Para korban kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, gelar yang diberikan negara sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengorbanan mereka dalam menjaga kedaulatan.

Nama-nama seperti Jenderal Ahmad Yani, Letjen Suprapto, hingga Kapten Pierre Tendean kini abadi dalam catatan sejarah. Mereka tidak hanya dikenang sebagai tokoh militer, tetapi juga simbol perjuangan melawan ancaman ideologi yang ingin memecah belah bangsa.

Dikutip dari buku Sejarah Hukum Indonesia: Seri Sejarah Hukum karya Sutan Remi Sjahdaeni (2021), G30S/PKI memiliki tujuan di antaranya mengkudeta pemerintahan Presiden Soekarno, serta menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sedang dibentuk. Namun kudeta itu harus dibayar mahal dengan banyaknya korban yang berjatuhan, baik dari para tokoh militer maupun masyarakat sipil. 

Artikel ini akan mengulas daftar lengkap nama Pahlawan Revolusi beserta latar belakang singkat perjuangan mereka. Dengan begitu, pembaca dapat memahami bahwa di balik tragedi G30S/PKI terdapat kisah pengorbanan besar yang telah membentuk arah perjalanan Indonesia hingga hari ini.

Daftar Nama Nama Pahlawan Revolusi Indonesia yang Gugur dalam Peristiwa G30S/PKI

Tragedi Gerakan 30 September 1965 atau yang dikenal sebagai G30S/PKI merupakan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa ini merenggut nyawa para perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang kemudian dianugerahi gelar kehormatan sebagai Pahlawan Revolusi. Mereka adalah sosok-sosok yang berkorban demi mempertahankan ideologi Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman komunisme.

Para tokoh yang gugur dalam peristiwa ini diculik secara paksa dari kediaman masing-masing pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965. Mereka kemudian dibawa ke kawasan Lubang Buaya di Jakarta Timur, tempat mereka disiksa dan dibunuh secara keji. Jasad para pahlawan ini ditemukan di dalam sumur tua sedalam 12 meter oleh Satuan Resimen Anggota Komando Angkatan Darat pada tanggal 4 Oktober 1965.

  1. Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani - Kepala Staf Angkatan Darat yang lahir di Purworejo, Jawa Tengah pada 19 Juni 1922. Beliau dikenal sebagai sosok yang tegas menentang ideologi komunis dan pernah menunda perintah Presiden Soekarno yang condong kepada PKI.
  2. Letnan Jenderal (Anumerta) Raden Suprapto - Perwira tinggi yang lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 20 Juni 1920. Ia menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Darat wilayah Sumatera dan dikenal karena keahliannya dalam strategi militer.
  3. Letnan Jenderal (Anumerta) Mas Tirtodarmo Haryono - Perwira cerdas yang lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 20 Januari 1924. Beliau menguasai tiga bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, dan Jerman, serta menjabat sebagai Asisten III Panglima Angkatan Darat.
  4. Letnan Jenderal (Anumerta) Siswondo Parman - Ahli intelijen yang lahir di Wonosobo, Jawa Tengah pada 4 Agustus 1918. Ia dijuluki "Penasihat Agung" karena kemampuan intelijennya yang luar biasa dalam membongkar berbagai gerakan separatis.
  5. Mayor Jenderal (Anumerta) Donald Ignatius Panjaitan - Perwira yang lahir di Balige, Sumatera Utara pada 9 Juni 1925. Beliau dikenal sebagai sosok yang disiplin dan religius, serta menjabat sebagai Asisten IV Panglima Angkatan Darat.
  6. Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo - Perwira yang bertugas di bidang hukum militer, lahir di Kebumen, Jawa Tengah pada 28 Agustus 1922. Ia menjabat sebagai Inspektur Kehakiman Angkatan Darat dan menentang pembentukan Angkatan Kelima.
  7. Kapten (Anumerta) Pierre Andreas Tendean - Perwira muda berbakat yang lahir di Jakarta pada 21 Februari 1939. Ia menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution dan menjadi korban karena disalahartikan sebagai Nasution oleh pasukan Cakrabirawa.
  8. Brigadir Jenderal (Anumerta) Katamso Darmokusumo - Perwira yang lahir di Sragen pada 5 Februari 1923. Beliau menjadi korban kekisruhan di Yogyakarta dan jenazahnya baru ditemukan pada 21 Oktober 1965.
  9. Kolonel (Anumerta) Sugiyono - Perwira yang lahir di Gedaran, Gunung Kidul pada 12 Agustus 1926. Ia adalah anak ke-11 dari 14 bersaudara dan menjadi korban saat dalam perjalanan pulang ke Yogyakarta.
  10. Ajun Inspektur Polisi II (Anumerta) Karel Satsuit Tubun - Anggota kepolisian yang lahir di Maluku Tenggara pada 14 Oktober 1928. Ia gugur saat bertugas sebagai pengawal di kediaman Dr. Y. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal Nasution.

Pengertian dan Definisi Pahlawan Revolusi

Pahlawan Revolusi merupakan gelar kehormatan tertinggi yang diberikan kepada para perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Gelar ini diberikan langsung oleh Presiden Soekarno melalui Surat Keputusan Presiden RI No III/Koti/Tahun 1965 tanggal 5 Oktober 1965 sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan dan perjuangan mereka dalam mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman komunisme.

Istilah "Pahlawan Revolusi" memiliki makna mendalam yang mencerminkan perjuangan para tokoh dalam mempertahankan revolusi Indonesia dari berbagai ancaman internal. Mereka adalah sosok-sosok yang menjadi target penculikan PKI karena dianggap menghalangi rencana pembentukan Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009, gelar Pahlawan Revolusi juga termasuk dalam kategori Pahlawan Nasional.

Latar Belakang Sejarah Peristiwa G30S/PKI

Peristiwa Gerakan 30 September 1965 bermula dari ketegangan politik yang memuncak pada pertengahan tahun 1960-an. Kondisi perpolitikan Indonesia saat itu memanas karena adanya rencana pembentukan Angkatan Kelima yang diusung oleh Partai Komunis Indonesia. Rencana ini mendapat tentangan keras dari para perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang menganggapnya sebagai ancaman terhadap stabilitas negara.

Gerakan ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga meluas ke Yogyakarta. Kelompok pendukung PKI yang tergabung dalam pasukan Cakrabirawa melakukan penculikan terhadap beberapa perwira tinggi yang dituduh melakukan makar terhadap Presiden Soekarno melalui Dewan Jenderal. Tuduhan ini kemudian terbukti sebagai fitnah yang dirancang untuk menyingkirkan para perwira yang menentang ideologi komunis.

Kronologi Peristiwa Penculikan dan Pembunuhan

Pada dini hari tanggal 30 September hingga 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa yang dipimpin Letnan Kolonel Untung melakukan serangkaian penculikan terhadap para perwira tinggi TNI AD. Mereka mendatangi kediaman masing-masing target dengan dalih adanya panggilan menghadap Presiden Soekarno. Beberapa korban seperti Jenderal Ahmad Yani bahkan ditembak langsung di rumahnya karena melakukan perlawanan.

Para korban yang berhasil diculik kemudian dibawa ke kawasan Halim Perdanakusuma, tepatnya di area yang kemudian dikenal sebagai Lubang Buaya. Di tempat inilah mereka mengalami penyiksaan yang sangat keji sebelum akhirnya dibunuh. Jasad para pahlawan kemudian dimasukkan ke dalam sumur tua yang memiliki kedalaman sekitar 12 meter dan ditumpuk bersama-sama.

Proses Penemuan dan Pemakaman Jenazah

Pencarian terhadap para perwira yang hilang dilakukan secara intensif oleh Satuan Resimen Anggota Komando Angkatan Darat. Setelah melalui penyelidikan yang mendalam, jasad para korban akhirnya ditemukan pada tanggal 4 Oktober 1965 di dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya. Kondisi jenazah menunjukkan tanda-tanda penyiksaan yang sangat brutal sebelum mereka dibunuh.

Proses pemakaman dilakukan secara militer dengan penuh kehormatan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Upacara pemakaman dihadiri oleh pejabat tinggi negara dan keluarga para korban. Lokasi pemakaman ini kemudian menjadi tempat ziarah dan penghormatan bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengenang jasa-jasa para pahlawan.

Profil dan Biografi Singkat Para Pahlawan

Setiap pahlawan revolusi memiliki latar belakang dan kontribusi yang unik dalam perjalanan karir militernya. Jenderal Ahmad Yani, sebagai Kepala Staf Angkatan Darat, dikenal karena prestasinya dalam menumpas berbagai pemberontakan seperti DI/TII dan PRRI. Beliau juga pernah mengikuti pendidikan militer di Amerika Serikat sebagai persiapan menjadi jenderal.

Letnan Jenderal Siswondo Parman memiliki keahlian khusus di bidang intelijen dan berhasil membongkar rencana Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang dipimpin Raymond Westerling. Sementara itu, Kapten Pierre Tendean meskipun masih muda namun menunjukkan dedikasi tinggi sebagai ajudan Jenderal A.H. Nasution dan menjadi korban karena kesalahan identifikasi oleh pasukan Cakrabirawa.

Dampak dan Konsekuensi Peristiwa G30S/PKI

Peristiwa G30S/PKI memberikan dampak yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah Indonesia. Tragedi ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tumbangnya pemerintahan Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Kekuatan PKI yang sebelumnya sangat berpengaruh dalam percaturan politik nasional mengalami kemunduran drastis dan akhirnya dibubarkan.

Dampak jangka panjang dari peristiwa ini adalah munculnya Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto yang berlangsung selama 32 tahun. Peristiwa ini juga menjadi momentum penting dalam penguatan ideologi Pancasila sebagai dasar negara dan penolakan terhadap ideologi komunis di Indonesia. Para korban G30S/PKI kemudian diabadikan sebagai simbol perjuangan melawan komunisme.

Penghormatan dan Peringatan Terhadap Para Pahlawan

Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa para Pahlawan Revolusi, pemerintah Indonesia membangun Monumen Pancasila Sakti di kawasan Lubang Buaya. Monumen ini menjadi tempat peringatan sekaligus museum yang menyimpan berbagai koleksi berkaitan dengan peristiwa G30S/PKI. Setiap tanggal 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum untuk mengenang pengorbanan para pahlawan.

Selain itu, nama-nama para Pahlawan Revolusi juga diabadikan dalam berbagai bentuk seperti nama jalan, gedung, dan fasilitas publik di seluruh Indonesia. Hal ini bertujuan agar generasi muda tidak melupakan jasa-jasa mereka dan terus menjaga nilai-nilai Pancasila yang telah mereka pertahankan dengan nyawa. Berbagai kegiatan edukasi dan sosialisasi juga rutin dilakukan untuk memperkenalkan sosok para pahlawan kepada masyarakat luas.

People Also Ask

1. Siapa saja pahlawan revolusi korban G30S/PKI?

Ada tujuh perwira TNI Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI, yaitu: Jenderal Ahmad Yani, Letjen R. Suprapto, Letjen S. Parman, Letjen M.T. Haryono, Mayjen D.I. Panjaitan, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean.

2. Mengapa mereka disebut Pahlawan Revolusi?

Mereka mendapat gelar Pahlawan Revolusi karena gugur sebagai korban kekejaman G30S/PKI dalam mempertahankan keutuhan bangsa. Pengorbanan mereka dianggap sebagai bentuk perjuangan menjaga ideologi dan stabilitas negara.

3. Apa peran mereka sebelum menjadi korban G30S/PKI?

Masing-masing pahlawan revolusi memiliki peran penting, seperti Jenderal Ahmad Yani sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat, Letjen S. Parman sebagai ahli intelijen, serta Kapten Pierre Tendean sebagai ajudan Jenderal Nasution.

4. Bagaimana cara bangsa Indonesia mengenang para pahlawan revolusi?

Bangsa Indonesia mengenang mereka dengan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, mendirikan Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya, serta menetapkan 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

5. Apa pesan yang bisa diambil dari pengorbanan para pahlawan revolusi?

Pesan utamanya adalah pentingnya menjaga persatuan, mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara, serta meneladani semangat rela berkorban demi bangsa dan negara.

Â