Jembatani Penyandang Disabilitas Terjun ke Dunia Kerja, Begini Awal Mula Berdirinya Difalink

Difalink adalah sebuah platform penghubung kerja khusus disabilitas yang jembatani difabel ke dunia kerja tanpa pungut biaya dari pelamar.

Diterbitkan 18 Februari 2026, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pengalaman menjadi sukarelawan pengajar bahasa Inggris untuk penyandang disabilitas membuat Ni Komang Ayu Suryani sampai pada langkah besar.

Pada akhir 2012, perempuan yang akrab disapa Suri mengajar di sebuah yayasan di Denpasar, Bali.

“Di situlah pertama kali aku ketemu teman-teman disabilitas. Pertama kali life changing banget. Yang sebelumnya aku berpikir teman-teman disabilitas hanya ada di panti, nunggu pemerintah bawa sembako dan lain-lain, ternyata mereka sama aja, cerdas-cerdas semuanya,” kata Suri dalam webinar bersama Komunitas Spinal Cord Injury (SCI) United, Minggu, 8 Februari 2026.

Namun, kegelisahan muncul ketika ia memikirkan nasib para peserta didik setelah program selesai.

“Ini kalau program ini kelar, teman-teman ini ke mana ya? Masa iya balik lagi ke kampung? Kan mubazir banget programnya” ujarnya.

Berangkat dari riset pasar pada 2013 yang menunjukkan belum adanya platform lowongan kerja disabilitas di Indonesia, Suri akhirnya mendirikan Difalink setelah sebelumnya terlibat dalam perintisan platform serupa.

Difalink adalah sebuah platform penghubung kerja khusus disabilitas, untuk membahas tantangan, strategi, dan peluang karier bagi penyandang disabilitas di Indonesia.

Kini, Suri dikenal sebagai Founder dan CEO Difalink, ia menegaskan bahwa ini bukan sekadar portal lowongan kerja.

“Difalink ini seperti orang tengah. Jadi kita mempersiapkan disabilitas iya, mempersiapkan perusahaan iya. Karena kita mau membuat ekosistem tujuannya supaya sustain (berkelanjutan),” jelasnya.

Suri menambahkan, Difalink memiliki berbagai program pelatihan, seperti:

  • DOPE (Digital Operational Program) yang fokus pada manajemen media sosial
  • Program PROOF untuk perhotelan (hospitality)
  • DNA (Disabilities to the Next Abilities) yang fokus pada soft skill dan profesionalisme.

Pemulihan Mental Sebelum Terjun ke Dunia Kerja

Dalam kesempatan yang sama, Head of People Development & GA Difalink, Anastasia Fifta berbagi pengalamannya bergabung dengan Difalink.

Fifta adalah seorang penyintas cedera tulang belakang (spinal cord injury), ia menekankan pentingnya pemulihan mental sebelum terjun ke dunia kerja.

“Aku memberi waktu ke diriku sendiri satu tahun untuk pemulihan. Pemulihan itu tidak hanya pemulihan fisik, tapi pemulihan mental aku siap dengan keadaan yang baru ini,” ujar Fifta.

Ia kemudian mengikuti pelatihan DOPE dari Difalink, lolos seleksi magang, hingga akhirnya direkrut menjadi staf tetap.

Pengalaman Pengguna

Sementara itu, Ni Komang Anggita C.W. seorang pengguna Difalink, menceritakan keberhasilannya mendapatkan pekerjaan di perusahaan jasa digital marketing.

Awalnya, ia melamar sebagai penulis skrip, tapi justru ditawari posisi lain yang lebih strategis.

“Ternyata pihak manajemen tertarik untuk Anggita bergabung di tim creator management jadi sebagai KOL (Key Opinion Leader) Specialist. Syukurnya sangat profesional ya, tim di Anggita itu benar-benar enggak memandang latar belakang, tapi dinilainya itu dengan bagaimana kita bekerja dan memberikan impact (pengaruh) ke perusahaan,” kata Anggita.

Ragam Lowongan dan Proses Verifikasi Disabilitas

Terkait peluang kerja yang tersedia, Fifta memaparkan data kemitraan Difalink yang terus berkembang. Hingga Januari 2026, tercatat sudah ada ratusan perusahaan yang bergabung membuka peluang bagi penyandang disabilitas.

“Sampai Januari ya itu ada 143 perusahaan. Jenis pekerjaan yang banyak dibuka itu sebenarnya macam-macam ya. Staf admin itu ada, digital spesialis seperti Kak Anggita, terus ada juga yang desain grafis, digital apprentice itu kayak marcom, call center,” jelasnya, termasuk kerja sama dengan sektor ritel dengan posisi crew store (karyawan toko ritel).

Fifta menekankan bahwa peluang ini tidak hanya terpusat di pulau Jawa, tapi juga Sumatera hingga Sulawesi.

“Terakhir itu ada crew store di Manado juga dibutuhkan,” katanya.

Untuk proses pelamaran, Fifta menjelaskan bahwa Difalink menerapkan sistem verifikasi untuk memastikan validitas pelamar.

“Ketika teman-teman disabilitas register itu di Difalink harus memastikan bahwa dia disabilitas dengan cara ya mereka harus menunjukkan SKD (Surat Keterangan Dokter) atau misalnya mereka enggak ada SKD kita ada assessment,” jelas Fifta.

Hal ini dilakukan karena Difalink berperan memastikan kepada perusahaan bahwa kandidat yang melamar benar-benar penyandang disabilitas sesuai undang-undang.

Suri turut menegaskan integritas Difalink dalam proses penyaluran kerja ini, di mana mereka tidak membebankan biaya kepada pelamar.

“Difalink ini kan bukan employment agency, kita bukan head hunter, Jadi kita tidak memotong gaji teman-teman disabilitas, kita enggak minta duitmu intinya gitu. Kita cuman minta kamu jaga attitude (sikap), kamu bantu dirimu sendiri, Difalink kasih jembatan paling bukain pintu,” pungkasnya.