Stroke Selalu Berujung Disabilitas atau Kematian, Dokter: Mitos!

Mitos-mitos seputar stroke, simak faktanya menurut dokter spesialis saraf.

Diterbitkan 27 Desember 2025, 07:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebagian masyarakat memiliki anggapan bahwa stroke selalu berujung pada disabilitas bahkan kematian.

Padahal, menurut dokter spesialis neurologi/saraf, Dwi Hany Febrina, dari RS EMC Cikarang, anggapan ini adalah mitos belaka.

“Faktanya, banyak pasien stroke dapat pulih dengan baik,” kata Dwi mengutip laman EMC, Jumat (26/12/2025).

Dia menambahkan, tidak semua stroke berakhir dengan kematian atau disabilitas permanen. Dengan penanganan cepat, tepat, dan komprehensif, banyak pasien stroke dapat kembali beraktivitas secara mandiri.

Rehabilitasi medis, seperti fisioterapi, terapi wicara, dan terapi okupasi, berperan besar dalam pemulihan fungsi. Kunci utama keberhasilan adalah deteksi dini, pengobatan segera, serta kepatuhan pasien terhadap program rehabilitasi dan terapi jangka panjang.

Mitos lainnya seputar stroke adalah:

Stroke Hanya Terjadi pada Orang Tua

Banyak orang masih beranggapan bahwa stroke hanya menyerang lanjut usia (lansia). Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, angka kejadian stroke pada usia produktif bahkan usia muda terus meningkat.

Gaya hidup tidak sehat seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, kurang aktivitas fisik, pola makan tinggi lemak dan gula, serta stres kronis berperan besar dalam meningkatkan risiko stroke pada usia muda.

Selain itu, kondisi medis seperti hipertensi, diabetes melitus, dislipidemia, obesitas, dan gangguan pembekuan darah juga dapat menjadi faktor risiko, tanpa memandang usia.

 

Stroke Terjadi Secara Tiba-Tiba Tanpa Tanda

Mitos berikutnya adalah stroke terjadi tiba-tiba tanpa tanda. Faktanya, stroke sering didahului oleh gejala peringatan.

Meskipun stroke tampak terjadi mendadak, sebenarnya banyak pasien mengalami tanda peringatan sebelumnya, seperti serangan iskemik sementara (Transient Ischemic Attack/TIA).

Gejala TIA meliputi kelemahan satu sisi tubuh, bicara pelo, gangguan penglihatan, atau mati rasa yang berlangsung singkat dan membaik sendiri. Sayangnya, keluhan ini sering diabaikan karena dianggap kelelahan atau masuk angin. Padahal, TIA merupakan “alarm” penting bahwa stroke besar dapat terjadi jika tidak segera ditangani.

 

Stroke Tidak Bisa Dicegah

Ada pula yang menganggap bahwa stroke tidak dapat dicegah. Padahal, sebagian besar kasus stroke dapat dicegah.

Mitos ini membuat banyak orang bersikap pasrah dan kurang peduli terhadap faktor risiko. Faktanya, sekitar 80 persen stroke dapat dicegah dengan pengendalian faktor risiko yang baik.

Mengontrol tekanan darah, menjaga kadar gula dan kolesterol, berhenti merokok, membatasi konsumsi garam dan lemak jenuh, rutin berolahraga, serta menjaga berat badan ideal terbukti menurunkan risiko stroke secara signifikan. Deteksi dini dan pengobatan penyakit penyerta juga memegang peranan penting dalam pencegahan stroke.

 

Jika Gejala Stroke Membaik, Tidak Perlu ke Rumah Sakit

Mitos yang benar-benar harus diluruskan adalah jika gejala stroke membaik maka tidak perlu ke rumah sakit.

“Faktanya, gejala stroke yang membaik tetap membutuhkan evaluasi medis. Sebagian masyarakat percaya bahwa jika keluhan seperti mulut mencong atau lengan lemas membaik dalam beberapa jam, maka tidak perlu memeriksakan diri. Anggapan ini sangat berbahaya,” kata Dwi.

Perbaikan gejala tidak menyingkirkan risiko stroke berulang yang bisa lebih berat. Evaluasi medis diperlukan untuk memastikan penyebab, menentukan terapi, dan mencegah komplikasi lanjutan.

Penanganan stroke sangat bergantung pada waktu, karena terapi tertentu hanya efektif bila diberikan dalam golden period alias periode emas.