Wujudkan Indonesia Inklusif, Menko PMK Ajak Masyarakat Belajar Bahasa Isyarat

Penggunaan sekaligus pemahaman bahasa isyarat sangat penting, bukan hanya bagi kawan Tuli, melainkan juga seluruh masyarakat.

Diterbitkan 02 September 2025, 10:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Penguasaan bahasa isyarat adalah kunci mewujudkan Indonesia yang inklusif.

Hal ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno di Aula Heritage Kemenko PMK, Jakarta, Selasa (26/8/2025).

Dalam diskusi bertajuk “Menuju Ekosistem Komunikasi dan Dunia Kerja yang Inklusif” Pratikno mengatakan bahwa penyandang disabilitas harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses komunikasi dan pengetahuan.

“Kita perlu tahu bahwa banyak anak-anak Indonesia yang mengalami kesulitan pendengaran, ataupun bicara. Kalau tidak bisa berkomunikasi dengan dunia sekitarnya, maka anak atau orang dewasa sekalipun akan terisolasi,” kata Pratikno mengutip laman Kemenko PMK.

Dia menambahkan, hambatan komunikasi bisa membuat anak disabilitas kesulitan berinteraksi, tidak bisa memahami kondisi sekitar dengan mudah, tidak bisa menyerap pengetahuan, tidak bisa mengembangkan diri. Mereka juga mengalami kesulitan untuk bekerja dan berkontribusi.

Pratikno menekankan, penggunaan sekaligus pemahaman bahasa isyarat sangat penting, bukan hanya bagi kawan Tuli, melainkan juga seluruh masyarakat. 

“Supaya yang tidak ada keterbatasan dengan pendengaran dan wicara juga bisa berkomunikasi dengan mereka yang punya keterbatasan,” ujarnya.

Dalam konteks bahasa pemersatu, Pratikno menjelaskan bahwa Bahasa Indonesia telah menjadi alat komunikasi yang menjembatani lebih dari 700 bahasa daerah yang ada di Indonesia, menciptakan kesatuan dalam keberagaman.

Sama halnya dengan bahasa isyarat yang berfungsi sebagai bahasa pemersatu bagi komunitas Tuli, yang sering kali terisolasi dari masyarakat luas.

 

Dorong Penguatan Bahasa Isyarat di Indonesia

Melalui program Semua Setara, sambung Pratikno, pemerintah mendorong penguatan bahasa isyarat di Indonesia. 

Semua Setara adalah program yang menjadi payung besar bagi berbagai kebijakan dan langkah konkret pemerintah dalam memastikan tidak ada satupun warga negara yang tertinggal, termasuk penyandang disabilitas.

Program ini menekankan bahwa komunikasi menjadi sangat penting bagi seluruh anak bangsa. Setiap orang harus memiliki akses yang sama untuk belajar, bekerja, dan berkontribusi.

Menurutnya, bahasa isyarat akan menjadi bagian penting dari program Semua Setara. Di mana kemampuan berbahasa isyarat tidak hanya dibutuhkan oleh penyandang disabilitas, tetapi juga masyarakat umum. Dengan cara itu, komunikasi antara penyandang disabilitas dan masyarakat luas dapat berjalan lebih baik.

"Kalau semua guru, dokter, perawat, hingga aparat publik bisa menggunakan bahasa isyarat, Indonesia akan semakin inklusif. Itu sejalan dengan semangat Semua Setara yang diusung pemerintah," ucapnya.

 

Bahasa adalah Jembatan Utama Peroleh Pengetahuan

Pratikno mengingatkan bahwa bahasa adalah jembatan utama untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan diri, dan ikut berkontribusi bagi bangsa.

Karena itu, keberadaan bahasa isyarat perlu ditempatkan sebagai salah satu instrumen persatuan, sebagaimana bahasa Indonesia mempersatukan bangsa sejak Sumpah Pemuda 1928.

Program Semua Setara kini diampu oleh Kedeputian I Kemenko PMK dan dirancang sebagai ruang sinkronisasi, koordinasi, dan perencanaan lintas sektor.

Pratikno berharap, sebelum 28 Oktober 2025, sudah ada kesepakatan nasional mengenai penguatan bahasa isyarat sebagai bagian dari layanan publik, pendidikan, hingga rekrutmen ASN.

“Terima kasih atas dukungan semua pihak, ada Komisi Nasional Disabilitas, ada dari perusahaan swasta seperti Astra juga ikut mendukung pelaksanaan program ini,” ucap Pratikno.

 

Dorong Bahasa Isyarat Masuk Kurikulum Pendidikan

Lebih lanjut, ia berharap forum diskusi ini dapat menghasilkan kesepakatan mengenai arah pengembangan bahasa isyarat di masa mendatang.

Tak lupa, ia mendorong materi bahasa isyarat menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, menjadikannya pengetahuan tambahan bagi calon guru, serta memastikan para pelayan publik juga menguasainya.

“Sehingga tidak ada satu pun orang Indonesia, termasuk komunitas Tuli dan wicara, yang tereksklusi dari komunikasi, dari pengembangan pengetahuan, maupun dari pelayanan publik. Itu misi dari acara ini,” pungkasnya.