Sukses

Biaya Perawatan Anak Berkebutuhan Khusus Lebih Tinggi dari Non Disabilitas, Mitos atau Fakta?

Liputan6.com, Jakarta Biaya perawatan anak disabilitas lebih tinggi dari anak pada umumnya bukanlah mitos belaka. Hal ini dirasakan langsung oleh para orangtua dengan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Salah satu yang mengalami langsung hal ini adalah Dewi Pertiwi. Ibu asal Jakarta ini memiliki anak disabilitas ragam down syndrome, Ahmad Fikry.

Menurut ibu berusia 58 ini, biaya perawatan dan pendidikan anak spesial memang tinggi.

“Benar, biaya pendidikan anak spesial lebih besar daripada anak reguler,” ujarnya kepada Disabilitas Liputan6.com melalui pesan tertulis belum lama ini.

Biaya yang tinggi dibutuhkan karena pada usia 3-6 rata-rata anak Down Syndrome sudah memerlukan bantuan terapi salah satunya untuk intervensi dini. Terapi ini diberikan agar proses tumbuh kembangnya tidak terpaut jauh dari yang seharusnya.

Biaya satu kali terapi memerlukan dana dan ongkos yang tidak sedikit. Apalagi jika yang diambil lebih dari satu jenis terapi. Satu jenis terapi saja perlu dilakukan secara berkelanjutan dalam waktu yang tak sebentar.

Selain terapi, ada pula biaya lain yang perlu dikeluarkan seperti biaya untuk membeli susu.

“Mereka perlu mengonsumsi susu yang khusus karena alergi susu sapi dan perlu juga minum vitamin.” 

“Ada juga biaya lain seperti biaya kontrol dokter anak, dokter tumbuh kembang, selain biaya rutin imunisasi atau vaksinasi seperti anak lainnya.”

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Buah Perawatan dan Terapi

Meski begitu, seperti orangtua ABK pada umumnya, Dewi tetap semangat merawat buah hatinya yang kini sudah menginjak dewasa.

Berbagai terapi dan perawatan yang diberikan kepada Fikry berbuah baik. Kini di usia 20, ia dapat mandi sendiri, menggosok gigi, membersihkan rambut dengan shampo, mencari handuk mandi, mengeringkan badannya, mencari dan memakai pakaiannya sendiri, memakai kaus kaki dan sepatunya sendiri.

“Untuk makan sehari-hari Fikry cukup bisa makan sendiri, mengambil piring sendok, gelas dan menyendok nasinya dari rice cooker sendiri. Tapi untuk mengunyah makanan yang keras seperti ayam atau daging goreng, Fikry masih dibantu dengan cara memotongnya agar lebih kecil.”

Saat ini Fikry masih sekolah di SLB Negeri di Jakarta dan duduk di bangku kelas XII. Ia suka belajar dan bisa bergaul dengan teman-temannya.

“Dia sering menyebut nama-nama temannya dan nama guru-guru yang berkesan di hatinya. Fikry rajin dan semangat ke sekolah, kalau di pesan besok bangun pagi dan sekolah masuk pagi, Fikry biasa bangun subuh.”

3 dari 4 halaman

Rajin Salat

Fikry juga sudah mengerti jika diajak salat, anak bungsu Dewi ini biasa mengikuti salat subuh berjamaah di rumah. Tak ketinggalan salat-salat lima waktu yang lain.

“Asalkan kita mengajaknya, dia tau dan ikut saja. Alhamdulillah urutan berwudhu, bacaan dan rukun salatnya cukup baik, dia tahu berapa rakaat harus salat subuh, zuhur, ashar, maghrib dan isya. Kadang, Fikry sholat secara mandiri.“

Sejak TK, Fikry sudah mengikuti berbagai kegiatan termasuk perlombaan. Ia ikut lomba fashion show tema baju daerah dan mendapat juara harapan I. Ia juga pandai bermain musik dan suka tampil di depan umum.

Mendidik Fikry hingga tumbuh baik seperti sekarang memang tak mudah. Banyak pengorbanan yang telah dilakukan.

Dalam merawat Fikry, tak jarang wanita yang berprofesi sebagai dosen di perguruan tinggi swasta ini menghadapi dilema. Salah satu dilema yang sempat dihadapi adalah ia harus merawat buah hatinya dengan intens tapi di sisi lain ada pekerjaan sehari-hari yang perlu diselesaikan.

Ia pun memilih untuk fokus merawat Fikry dan mengambil cuti selama dua semester.

“Usia bulan ketiga Fikry mulai menjalani terapi-terapi, saya mengajukan cuti di luar tanggungan perusahaan, pekerjaan saya sebagai dosen perguruan tinggi swasta, dengan mengambil cuti selama 2 semester.”

4 dari 4 halaman

Fokus Mendampingi

Cuti panjang yang diambil, ia manfaatkan untuk melatih dan mendampingi Fikry untuk melakukan berbagai terapi yang disarankan dokter klinik tumbuh kembang.

“Saya fokus pada proses tumbuh kembangnya, dan hasilnya cukup memuaskan. Fikry punya ekspresi bagus, tertawa, sedih, merespons, cukup bisa bergerak normal seperti tengkurap, duduk, dan merangkak dan berjalan di usia 18 bulan yang  tidak terlalu tertinggal dengan pertumbuhan anak reguler,” katanya.

Pengorbanan cuti kerja dua semester ternyata berbuah baik. Dewi kembali beraktivitas ketika putranya menginjak usia 3.

“Saya mulai mencari baby sitter untuk menggantikan saya mengasuh Fikry. Bersamaan dengan itu,  Fikry sudah saya masukkan ke play group.”

Usia 3 hingga 8 tahun adalah masa keemasan bagi Fikry. Di usia ini ia belajar banyak. Bahkan, di masa-masa play group dan taman kanak -kanak, Fikry berkembang seperti anak-anak TK pada umumnya.

Ia aktif ikut senam, menari, menyanyi, mengenal semua jenis warna, dan membaca buku cerita pendek, juga menghafal juz amma dan mengaji iqro.