Sukses

Bertemu Penyandang Disabilitas Saat Melancong, Hindari 5 Kalimat Ini

Liputan6.com, Jakarta Travel blogger disabilitas Carrie-Ann Lightley telah melakukan banyak perjalanan dalam hidupnya. Selama berwisata, ia sempat beberapa kali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang kurang berkenan.

“Mulai dari pertanyaan tentang kondisi medis saya hingga tawaran penyembuhan ajaib dan pernyataan tentang betapa 'berani' dan 'beruntungnya' saya,” kata Carrie mengutip Disability Horizons Jumat (10/6/2022).

Ia pun mengumpulkan 5 pertanyaan atau pernyataan yang tak boleh dilontarkan kepada pelancong yang menyandang disabilitas berdasarkan pengalamannya sendiri.

Kelima kalimat tersebut yakni:

“Kamu sangat berani bepergian sendiri sebagai penyandang disabilitas.”

Menurut Carrie, pernyataan tersebut seolah memandang bahwa penyandang disabilitas tidak bisa melakukan apapun sendirian. Padahal, sebagian penyandang disabilitas biasa bepergian sendiri misalnya untuk pergi kerja.

“Saya bepergian sendiri untuk bekerja, biasanya dengan kereta api, hampir setiap minggu. Itu tidak selalu mudah, kadang tidak ada yang membantu, kereta penuh sesak, ruang kursi roda terisi oleh orang atau barang.”

“Tak satupun dari kita dapat mengontrol bagaimana orang lain melihat kita, dan jika seseorang mengagumi kemandirian pengguna kursi roda yang bepergian sendirian, saya tidak masalah dengan itu. Tapi tolong, jangan bilang saya berani, saya hanya menjalani kehidupan sehari-hari saya seperti orang lain.”

Pertanyaan kedua yang perlu dihindari adalah terkait “Bagaimana kamu melakukan perjalanan dengan kursi roda?”

Salah satu alasan ia mulai membuat blog adalah untuk menunjukkan bahwa ada tempat dan transportasi yang akses bagi para penyandang disabilitas. Agar para penyandang disabilitas berani melakukan perjalanan secara mandiri.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Hanya Karena Rasa Ingin Tahu yang Tak Wajar

Dengan menulis blog, Carrie juga dapat berbagi pengalaman perjalanannya dengan orang lain.

“Jika Anda adalah penyandang disabilitas yang ingin tahu tentang restoran terbaik yang dapat diakses yang saya temukan dalam perjalanan baru-baru ini, atau rute jalan kaki favorit dengan akses anjing, atau hotel mana yang saya rekomendasikan dengan kamar yang dapat diakses kursi roda, saya akan selalu dengan senang hati mengobrol.”

“Namun, jika Anda orang asing yang bertanya kepada saya bagaimana saya bisa bepergian karena rasa ingin tahu yang tidak wajar – Anda hanya akan membuat saya kesal.”

Pertanyaan selanjutnya yang tak boleh dilontarkan pada pelancong disabilitas adalah: “Apa yang salah dengan Anda.”

Menurut pengalaman Carrie, pertanyaan semacam ini biasanya dilontarkan oleh sopir taksi. Kemungkinan terbesar yang membuat mereka bertanya seperti itu adalah karena mereka merasa bosan atau sekadar mencari topik pembicaraan selama perjalanan.

“Mungkin mereka bosan, mungkin mereka hanya tidak tahu harus berkata apa lagi, mungkin mereka pikir itu dapat diterima untuk menanyakan riwayat kesehatan mereka kepada orang asing? Aku tidak tahu. Yang saya tahu adalah, pertanyaan ini tidak pernah baik-baik saja. Tidak pernah.”

3 dari 4 halaman

Tawaran Penyembuhan

Pernyataan lain yang cukup memicu emosi adalah terkait iming-iming penyembuhan. Padahal, disabilitas bukanlah penyakit sehingga tidak bisa disembuhkan.

Pernyataan ini kurang lebih berbunyi: “Tuhan telah memberitahu saya bahwa Dia ingin saya menyembuhkan Anda.”

Pernyataan ini tidak hanya bisa datang saat berwisata, tapi juga saat di supermarket, di stasiun kereta api, bahkan di sauna hotel.

“Percakapan ini sangat mempengaruhi saya sehingga saya mengingatnya, bertahun-tahun kemudian, kata demi kata.”

Hal yang membuatnya jengkel adalah ketika orang menganggap bahwa Carrie ingin disembuhkan. Pernyataan tersebut cenderung mengarah pada anggapan bahwa kehidupan penyandang disabilitas pasti sangat buruk sehingga perlu menunggu kesempatan untuk disembuhkan secara ajaib.

Padahal, para penyandang disabilitas cukup merasa bahagia dan bersyukur dengan apa yang mereka miliki.

“Saya mencintai hidup saya – tubuh yang miring, tidak kooperatif, menggunakan kursi roda dan sebagainya – saya tidak akan menjadi orang yang tanpa cerebral palsy, dan saya tidak ingin menjadi orang lain.”

4 dari 4 halaman

Seolah Sangat Beruntung Jika Punya Pasangan Hidup

“Bukankah kamu beruntung punya suami?” ini adalah kutipan langsung dari seorang wanita yang ditemui Carrie pada liburan terakhir di Portugal.

Pernyataan itu datang ketika ia duduk di bawah sinar matahari, asyik dengan buku, menyeruput minuman dan tidak melakukan apapun yang menandakan bahwa ia ingin berbicara dengan orang asing.

Namun, wanita asing tersebut berpikir bahwa mengatakan hal tersebut pada Carrie adalah ide yang baik.

“Wanita itu menarik kursi dan memberitahu saya betapa beruntungnya saya memiliki pasangan yang memutuskan untuk meletakkan cincin di jari saya, meskipun saya menggunakan kursi roda.”

Namun, pada kenyataannya ia memang merasa beruntung memiliki pasangan, begitu pula pasangannya yang merasa beruntung memiliki Carrie. Disabilitas bukan soal beruntung atau tidak, setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, katanya.

Lantas, apa yang bisa dikatakan kepada penyandang disabilitas?

Sebetulnya, orang-orang bisa menawarkan bantuan kepada penyandang disabilitas jika difabel tersebut terlihat kesulitan. Selebihnya, orang-orang bisa mempertanyakan hal lain di luar kondisi disabilitas. Misalnya terkait pengalaman perjalanan dan rekomendasi buku-buku terkini.