3 Sinyal Ini Perlu Diwaspadai Usai Reli Bitcoin Agustus 2026

Ada tiga sinyal yang perlu diwaspadai setelah harga bitcoin (BTC) naik di atas 20% pada Agustus 2026.

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 15:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga bitcoin (BTC) menguat 24% pada Agustus 2026. Kenaikan harga BTC mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sepanjang 2026. Lalu bagaimana prospek BTC pada September 2026?

Reli Agustus 2026 mengangkat harga bitcoin dari kisaran US$ 60.000 atau Rp 1,06 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.760) dari sempat menembus posisi US$ 80.000 atau Rp 1,42 miliar.

Mengutip Yahoo Finance, Senin, (31/8/2026), kini muncul tiga sinyal peringatan di tengah lonjakan harga bitcoin. Hal itu antara lain saldo di bursa, arus dana exchange-traded fund (ETF) dan permintaan pasar spot semua menunjukkan tren yang kurang mendukung menjelang akhir Agustus 2026.

Sinyal Peringatan Bitcoin Muncul Seiring Cadangan Binance Tembus Level Tertinggi 2026

Berdasarkan data CryptoQuant, cadangan bitcoin Binance telah meningkat menjadi sekitar 687.000 BTC, level tertinggi yang tercatat pada 2026.

Cadangan sempat turun mendekati 617.000 BTC pada akhir April sebelum kembali naik. Peningkatan ini kemudian berakselerasi sepanjang Agustus seiring reli harga bitcoin.

Para pelaku pasar biasanya memindahkan koin ke bursa untuk tujuan penjualan, lindung nilai (hedging), atau sebagai jaminan (collateral). Oleh karena itu, peningkatan saldo di tengah reli berarti lebih banyak pasokan yang siap untuk segera dijual.

Angka tersebut saja tidak bisa menjadi bukti mutlak. Penataan ulang dompet (wallet), perubahan layanan kustodian, dan transfer terkait aktivitas market-making juga dapat meningkatkan saldo di bursa.

Meski demikian, pasokan tersebut kini berada di bursa terbesar, sementara menyusutnya cadangan stablecoin di bursa berarti lebih sedikit dana menganggur yang tersedia untuk menyerap pasokan tersebut.

"Cadangan Binance yang mencapai level tertinggi tahunan di dekat area resistensi utama merupakan sinyal peringatan. Pergerakan harga berikutnya di atas US$ 80.000 kemungkinan besar akan bergantung pada apakah permintaan pasar spot dan ETF mampu menyerap tambahan pasokan yang berpotensi masuk ke pasar," tulis XWIN Japan.

 

Tren Arus Masuk ETF Terhenti Saat Permintaan Mingguan Turun

Sinyal berikutnya dari ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS). ETF Bitcoin Spot di AS mencatatkan arus keluar bersih sebesar US$ 201,8 juta atau Rp 3,58 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.760) pada 28 Agustus, menurut data SoSoValue.

Sesi negatif tersebut mengakhiri tren arus masuk selama sembilan hari berturut-turut, yang terjadi saat Bitcoin mencatatkan kenaikan nilai dolar AS mingguan terbesar dalam sejarahnya.

Produk-produk utama lainnya tetap mencatatkan arus masuk positif pada hari yang sama. Dana investasi Ethereum (ETH) menarik dana sebesar US$ 102,18 juta atau Rp 1,81 triliun, sementara produk XRP (XRP) dan Solana (SOL) masing-masing mencatatkan tambahan dana sebesar US$ 26,2 juta atau Rp 465,20 miliar dan US$ 18,08 juta atau Rp 321,02 miliar.

Arus dana mingguan juga terpantau melambat. Arus masuk bersih turun 51,8% menjadi US$ 924,5 juta atau Rp 16,41 triliun pada pekan yang berakhir 28 Agustus, turun dari US$ 1,92 miliar atau Rp 34,09 triliun.

Satu sesi negatif tidak serta-merta mengonfirmasi adanya pembalikan arah. Namun, arus dana ETF merupakan sumber permintaan utama bagi Bitcoin, dan arus tersebut mungkin mulai menyusut.

 

Kata Analis

Lalu sinyal lainnya, Analis Crypto Rover berpendapat kenaikan harga selama akhir pekan tersebut tidak disertai dengan partisipasi pasar spot.

"BTC bergerak naik selama akhir pekan sementara CVD spot tetap hampir datar; ini mengindikasikan bahwa leverage-lah yang mendorong pergerakan tersebut. Terakhir kali kami melihat pola serupa, harga Bitcoin anjlok dari US$ 81.000 ke US$ 77.000," demikian bunyi unggahan tersebut.

Spot cumulative volume delta (CVD) melacak keseimbangan antara pembeli dan penjual agresif di pasar spot. CVD yang datar saat terjadi reli dapat mengindikasikan posisi derivatif atau leverage, bukan permintaan spot yang kuat, yang menjadi pendorong pergerakan harga.

Tidak semua analis menafsirkan situasi ini dengan cara yang sama. Andy Baehr dari GSR memandang penembusan level US$ 80.000 sebagai rezim pasar baru yang didorong oleh permintaan ETF dan likuidasi posisi short.

 

Melihat Data 2024-2025

Faktor musiman tidak memberikan banyak harapan. Data Coinglass menunjukkan sejak 2013, Bitcoin rata-rata mencatat penurunan sebesar 3,08% pada September, menjadikannya bulan dengan kinerja rata-rata terlemah sepanjang tahun.

Namun, tren beberapa tahun terakhir menunjukkan hal sebaliknya. Pada September selama tiga tahun terakhir semuanya ditutup dengan kenaikan (zona hijau), termasuk kenaikan sebesar 5,16% pada 2025 dan 7,29% pada 2024.

Sesi-sesi perdagangan mendatang akan memperlihatkan apakah pembeli di pasar spot dan ETF mampu menyerap koin-koin yang saat ini tertahan di Binance.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.