Dompet Ethereum Mati Suri 11 Tahun Mendadak Aktif, Komunitas Kripto Heboh

Pergerakan dompet Ethereum yang vakum selama 11 tahun menarik perhatian investor, meski belum ada indikasi aset akan dijual.

Diterbitkan 21 Juli 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah dompet (wallet) Ethereum yang tidak menunjukkan aktivitas selama sekitar 11 tahun atau mati suri kembali aktif di jaringan blockchain. Pergerakan tersebut langsung menarik perhatian pelaku pasar dan layanan pemantau blockchain karena melibatkan salah satu alamat yang telah lama tidak digunakan.

Dikutip dari CoinMarketCap, Selasa (21/7/2026), aktivitas dompet tersebut pertama kali dilaporkan oleh layanan pemantau transaksi blockchain, Whale Alert, melalui unggahan di platform X. Selama kurang lebih 11 tahun, alamat tersebut tidak mencatatkan aktivitas apa pun sehingga kemunculannya kembali menjadi sorotan.

Meski demikian, hingga saat ini identitas pemilik dompet maupun tujuan di balik perpindahan aset tersebut masih belum diketahui.

Data di blockchain memang memungkinkan publik memverifikasi bahwa transaksi benar-benar terjadi. Namun, informasi tersebut tidak dapat mengungkap siapa pemilik alamat maupun alasan di balik aktivasi kembali dompet tersebut.

Yang dapat dipastikan hanyalah pemilik wallet tersebut masih memiliki akses terhadap kunci privat (private key) sehingga mampu melakukan transaksi setelah bertahun-tahun tidak aktif.

 

Potensi Aksi Jual

Usia dompet menjadi alasan utama mengapa pergerakan ini menarik perhatian komunitas kripto.

Wallet yang berasal dari masa-masa awal perkembangan Ethereum menunjukkan bahwa aset tersebut kemungkinan dimiliki oleh investor generasi awal yang menyimpan kepemilikannya melewati berbagai siklus naik turun pasar.

Karena itu, setiap aktivitas dari dompet yang telah lama "mati suri" sering kali menjadi perhatian investor.

Namun, banyak pelaku pasar yang mengaitkan aktivitas tersebut dengan potensi aksi jual atau perubahan strategi investasi. Anggapan tersebut masih bersifat spekulatif dan belum didukung bukti.

Fakta yang telah terkonfirmasi hanyalah dompet tersebut kembali melakukan transaksi setelah sekitar 11 tahun tidak aktif.

Fenomena serupa sebelumnya juga terjadi pada jaringan Bitcoin. Sejumlah dompet Bitcoin yang tidak aktif sejak 2011 sempat kembali melakukan transaksi dan langsung memicu perhatian pasar, meski tidak semuanya berujung pada aksi jual aset.

 

Bukan Transaksi Awal tetapi Gerak Berikutnya

Para analis menilai transaksi pertama bukanlah faktor yang paling penting. Justru, pergerakan berikutnya akan menjadi petunjuk mengenai tujuan aktivasi kembali dompet tersebut.

Jika dana dipindahkan ke alamat yang terhubung dengan bursa kripto, pasar umumnya menganggap hal itu sebagai sinyal potensi perdagangan atau penjualan aset.

Sebaliknya, apabila aset hanya dipindahkan ke dompet pribadi lainnya (self-custody), langkah tersebut belum tentu mengindikasikan adanya rencana untuk melepas kepemilikan Ethereum.

Pelaku pasar juga disarankan memantau aktivitas investor besar Ethereum lainnya guna memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai pergerakan aset di jaringan tersebut.

Untuk saat ini, aktivasi kembali dompet Ethereum yang telah tidak aktif selama 11 tahun masih menjadi satu fakta yang berdiri sendiri. Satu kali transaksi, meskipun berasal dari wallet yang sangat tua, belum dapat dijadikan bukti bahwa pemiliknya sedang bersiap menjual aset Ethereum yang dimilikinya.