Ripple Bakal Akuisisi BC Payments, Ini Tujuannya

Ripple memperluas layanan di kawasan Asia Pasifik dengan menawarkan layanan Ripple Payments.

Diterbitkan 11 Maret 2026, 14:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ripple mengumumkan rencana akuisisi BC Payments untuk mendapatkan Australian Financial Services License (AFSL) atau lisensi layanan keuangan Australia sebagai upaya memperluas kehadirannya di kawasan Asia Pasifik.

Mengutip the block, Rabu (11/3/2026), dalam pernyataan pada Selasa pekan ini, Ripple menuturkan, perolehan AFSL melalui akuisisi ini akan memungkinkan perusahaan untuk menawarkan Ripple Payments, platform pembayaran yang mengelola siklus penuh suatu transaksi dan mengintegrasikan layanan perbankan tradisional dan kripto.

 “Australia adalah pasar utama bagi Ripple, dan AFSL memperkuat kemampuan kami untuk meningkatkan skala Ripple Payments di seluruh wilayah,” ujar Direktur Pelaksana Ripple di kawasan APAC, Fiona Murray.

Syarat keuangan akuisisi BC Payments tidak diungkapkan dalam pernyataan tersebut. The Block telah menghubungi Ripple untuk komentar lebih lanjut.

Ripple mengatakan saat ini mereka memiliki lebih dari 75 lisensi regulasi di seluruh dunia, yang menempatkan perusahaan pada posisi yang kuat untuk bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang ingin berekspansi ke solusi dan infrastruktur aset digital.

Bulan lalu, Ripple memperoleh lisensi Lembaga Uang Elektronik Uni Eropa penuh di Luksemburg. Pada akhir 2025, Kantor Pengawas Mata Uang AS (Office of the Comptroller of the Currency) memberikan persetujuan bersyarat kepada Ripple untuk menjadi bank kepercayaan nasional (national trust bank), yang diciptakan dan dipromosikan oleh Ripple.

Saat ini, Ripple merupakan aset kripto terbesar kelima di dunia dengan kapitalisasi pasar sebesar USD 85,1 miliar atau Rp 1.435 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.870). Harga XRP diperdagangkan pada USD 1,39 pada pukul 22:13 ET, naik 1,3% dalam 24 jam terakhir, menurut halaman harga XRP The Block.

Sementara itu, stablecoin Ripple yang dipatok ke dolar AS, RLUSD, memiliki kapitalisasi pasar sekitar USD 1,6 miliar, menjadikannya stablecoin terbesar ke-10. Pada Januari, Ripple menjalin kemitraan dengan LMAX Group untuk memperluas penggunaan institusional RLUSD.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi. 

Ripple Bantah Narasi “Kripto Tak Berguna”, Penggunaan di AS Terus Naik

Sebelumnya, Chief Legal Officer Ripple, Stuart Alderoty, menantang anggapan kalau kripto tidak memiliki kegunaan nyata, di tengah meningkatnya penggunaan aset digital di Amerika Serikat (AS).

Alderoty, yang juga menjabat sebagai Presiden National Cryptocurrency Association (NCA), menyampaikan melalui platform X pada 27 Februari bahwa ia berulang kali membantah narasi tersebut, khususnya yang dinilai muncul dari media besar.

Merujuk pada The New York Times (NYT), ia mengatakan:

“Sebagai Presiden National Cryptocurrency Association, saya telah mengirimkan banyak surat dan artikel opini kepada NYT untuk membantah narasi mereka yang malas dan ketinggalan zaman bahwa kripto tidak berguna. Semuanya diabaikan," jelas dia dikutip dari Bitcoin.com, Minggu (1/2/2026).

“Sangat tidak bertanggung jawab dan berbahaya untuk mengabaikan jutaan warga Amerika nyata yang saat ini mengandalkan kripto untuk membuat hidup mereka lebih baik," tambah dia.

Pernyataan tersebut secara langsung menantang sikap skeptis yang menurutnya masih melekat pada sebagian media arus utama terhadap industri aset digital.

 

Survei Tunjukkan Adopsi Kripto Terus Meluas

Untuk mendukung pernyataannya, NCA pada Januari 2026 merilis laporan berjudul Crypto in America: Merchant Adoption yang dilakukan bersama PayPal.

Survei yang melibatkan 619 pengambil keputusan pembayaran di AS dan dilakukan oleh The Harris Poll menunjukkan 39% merchant telah menerima kripto sebagai metode pembayaran di kasir. Angka tersebut bahkan mencapai 50% untuk perusahaan besar.

Di antara merchant yang menerima aset digital, kripto menyumbang rata-rata 26% dari total penjualan. Sebanyak 72% responden juga melaporkan peningkatan transaksi kripto dalam setahun terakhir.

Ke depan, 84% merchant memperkirakan kripto akan menjadi metode pembayaran umum dalam lima tahun mendatang. Bahkan, 90% menyatakan bersedia mengadopsinya jika integrasinya semudah kartu kredit.

Temuan ini menunjukkan penerimaan komersial terhadap bitcoin, ethereum, dan aset digital lainnya semakin luas, sekaligus memperkuat argumen bahwa kripto kian memiliki peran nyata dalam transaksi sehari-hari.