Ramadan Effect, Begini Tren Harga Kripto di Bulan Puasa

Pasar kripto kembali menunjukkan pola volatilitas yang kerap dikaitkan Ramadan Effect.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki Ramadan 2026, pasar kripto kembali menunjukkan pola volatilitas yang kerap dikaitkan dengan fenomena musiman atau Ramadan Effect. Meski bukan faktor fundamental, data historis menunjukkan bahwa dalam enam dari tujuh Ramadan terakhir (2019–2025), Bitcoin cenderung mengalami pergerakan tajam di awal periode, diikuti fase naik-turun (choppy), lalu melemah atau kehilangan momentum di penghujung bulan.

Pola ini bukan berarti Bitcoin selalu reli saat Ramadan. Dalam lima tahun terakhir, misalnya, Bitcoin justru sempat mencatat koreksi cukup dalam selama bulan suci, seperti -21,71% (2021), -16,00% (2022), -3,73% (2023), dan -4,14% (2024).

Pola yang lebih konsisten bukan arah kenaikannya, melainkan struktur pergerakannya: volatilitas terkonsentrasi di awal, kemudian pasar memasuki fase kelelahan sebelum menentukan arah berikutnya.

Ramadan 2026: Pola Familiar, Kekuatan Berbeda

Pada Ramadan 2026, pola volatilitas awal kembali terlihat, tetapi dengan karakter yang lebih lemah dibandingkan tahun-tahun yang lebih bullish. Alih-alih dibuka dengan reli kuat, Bitcoin justru mengalami pergerakan tidak stabil, sempat terkoreksi tajam (flush), dan baru kemudian mencoba rebound.

Dari sisi on-chain, indikator menunjukkan gambaran campuran. Beberapa sinyal seperti tekanan beli di exchange yang mulai melemah mengindikasikan peluang relief bounce. Namun di sisi lain, aktivitas jaringan yang masih relatif rendah dan tekanan jual dari investor jangka pendek yang masih merugi menunjukkan bahwa struktur permintaan belum sepenuhnya pulih. Artinya, potensi kenaikan tetap ada, tetapi cenderung rapuh dan penuh resistensi.

Riset internal Tokocrypto juga mencatat adanya perubahan perilaku investor ritel selama Ramadan. Aktivitas transaksi biasanya melambat di siang hari dan meningkat kembali pada malam hari setelah berbuka hingga menjelang sahur. Selain itu, aksi ambil untung menjelang Ramadan juga kerap memicu tekanan jual di fase awal bulan.

CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menilai bahwa fenomena ini merupakan dinamika wajar di pasar global.

“Ramadan bukan faktor utama yang menentukan arah pasar kripto. Harga tetap dipengaruhi likuiditas global, sentimen makro, dan kondisi ekonomi internasional. Namun secara historis memang ada pola volatilitas yang berulang. Karena itu, investor perlu disiplin dan tidak hanya mengandalkan narasi musiman,” ujar Calvin, Senin (1/3/2026).

Volatilitas Jadi Faktor Utama

Di tengah pola musiman tersebut, volatilitas tetap menjadi faktor utama yang perlu diantisipasi. Meskipun imbal hasil selama Ramadan sering kali lebih rendah atau tidak konsisten, kecenderungan volatility clustering, yakni pengelompokan periode volatilitas tinggi dalam rentang waktu tertentu, masih terlihat.

Namun secara keseluruhan, arah jangka menengah dan panjang pasar kripto tetap lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga The Fed, arus likuiditas global, serta sentimen pasar internasional.

Dengan demikian, narasi “Ramadan rally” pada 2026 masih lebih kuat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski peluang technical rebound tetap terbuka, struktur permintaan yang masih rapuh mengindikasikan bahwa kenaikan harga berpotensi bersifat terbatas dan penuh resistensi.

Pola yang lebih realistis untuk diantisipasi adalah pergerakan yang fluktuatif dan tidak stabil, alih-alih tren naik yang mulus sepanjang periode Ramadan.

 

 

Imbauan untuk Investor

Calvin mengimbau para trader dan investor untuk tetap mengedepankan analisis teknikal dan fundamental yang komprehensif selama Ramadan. Perubahan pola aktivitas harian, potensi likuidasi aset untuk kebutuhan zakat atau Idul Fitri, serta dinamika global perlu menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.

“Secara historis belum ada korelasi yang benar-benar konsisten antara Ramadan dan tren harga kripto. Karena itu, investor perlu tetap fokus pada manajemen risiko, disiplin strategi, dan memantau perkembangan pasar global. Dengan pemahaman yang baik, Ramadan justru bisa menjadi momentum refleksi sekaligus peluang,” ujar Calvin.