Perusahaan Kripto Ini Rombak Manajemen di Tengah Penangguhan Deposit

Perusahaan kripto ini merombak manajemen di tengah menangguhkan deposit dan penarikan klien.

Diterbitkan 26 Februari 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Total kapitalisasi pasar kripto telah turun dari USD 4,3 triliun atau Rp 72.063 triliun (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.760) pada awal Oktober 2025 menjadi USD 2,4 triliun atau Rp 40.221 triliun setelah peristiswa likuidasi besar-besaran pada 10 Oktober 2025. Selain kapitalisasi pasar kripto turun, perubahan juga terjadi pada perusahaan kripto.

Harga bitcoin mencapai puncaknya di atas USD 126.000 pada 6 Oktober, diperdagangkan 45% lebih rendah di USD 69.114. Selama beberapa bulan terakhir, industri ini telah menyaksikan perusahaan mengajukan perlindungan kebangkrutan, tutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Perombakan CEO di BlockFills

Seperti yang dilaporkan sebelumnya, perusahaan perdagangan dan pinjaman kripto yang berbasis di Chicago, BlockFills, untuk sementara menangguhkan deposit dan penarikan klien pada 11 Februari. Perusahaan tersebut mengatakan mereka mengambil keputusan tersebut untuk melindungi klien dan perusahaan di tengah kondisi keuangan yang bergejolak.

Menurut laporan minggu lalu, BlockFills dilaporkan akan dijual. Namun, pemberi pinjaman kripto tersebut menolak untuk berkomentar tentang laporan penjualan ketika TheStreet Roundtable menghubungi mereka.

BlockFills terutama melayani klien institusional, termasuk hedge fund dan manajer aset digital, dan telah aktif dalam pinjaman berbasis kripto dan penyediaan likuiditas sejak 2018.

Perusahaan ini didukung oleh investor termasuk Susquehanna Private Equity Investments, CME Ventures, Simplex Ventures, C6E, dan Nexo.

Pada 25 Februari, CoinDesk melaporkan salah satu pendiri dan CEO perusahaan pemberi pinjaman kripto tersebut, Nicholas Hammer, telah mengundurkan diri dari posisi kepemimpinan. Juru bicara perusahaan mengatakan kepada TheStreet Roundtable ini bukanlah berita baru.

"Nick Hammer belum menjabat sebagai CEO sejak Juli tahun lalu. Telah ada CEO sementara sejak saat itu," kata juru bicara tersebut.

Situs web perusahaan kripto tersebut mencantumkan Joseph Perry sebagai "CEO sementara."

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Indeks Ketakutan Kripto Anjlok, Bitcoin Jauh dari Julukan Digital Gold

Sebelumnya, harga Bitcoin kembali tertekan dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa waktu setempat, aset kripto terbesar di dunia ini sempat turun hingga menyentuh level terendah harian di kisaran USD 62.525 per koin.

Dikutip dari Bitcoin.com, Rabu (25/2/2026), penurunan tersebut turut memicu gelombang likuidasi besar-besaran di pasar derivatif. Sekitar USD 156 juta posisi long Bitcoin dilaporkan terhapus dalam satu hari.

Total likuidasi di pasar kripto secara keseluruhan bahkan melampaui USD 400 juta, dengan Bitcoin menyumbang porsi terbesar.

Tekanan ini membuat kinerja BTC memburuk dalam jangka pendek. Dalam sepekan terakhir, harga Bitcoin turun sekitar 7,5 persen. Sementara dalam 30 hari terakhir, penurunannya mencapai lebih dari 29 persen.

Kondisi tersebut memunculkan kembali keraguan terhadap narasi Bitcoin sebagai “emas digital”. Banyak investor mulai mempertanyakan apakah Bitcoin masih layak dianggap sebagai aset lindung nilai seperti emas.

Pendiri dan CEO CryptoQuant menyampaikan pandangannya melalui media sosial X.

“Bitcoin sedang berada dalam fase ‘bukan emas digital’,” tulisnya.

Ia menilai sentimen pasar saat ini berada di titik terendah, mengingatkan pada masa-masa krisis besar di industri kripto beberapa tahun lalu.

Tekanan Institusi dan Sinyal Lemah Indikator Teknis

Selain tekanan harga, arus dana dari investor institusi juga belum menunjukkan tanda pemulihan. Arus keluar dana dari produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin terus berlanjut.

Pendiri Capriole.com, Charles Edwards, menilai pekan lalu sebagai periode penjualan institusional paling agresif sepanjang sejarah.

“Ini adalah penjualan bersih Bitcoin paling besar dari institusi yang pernah terjadi,” tulisnya di X.

Sementara itu, seorang trader besar di platform Hyperliquid dengan akun @Garrettbullish juga memberikan peringatan keras.

“Ini akan menjadi musim dingin yang panjang untuk semua orang. Bukan hanya kripto,” tulisnya.

Dari sisi teknikal, indikator juga menunjukkan sinyal pelemahan. Indeks kekuatan relatif (RSI) mingguan Bitcoin kini berada di salah satu level terendah dalam sejarah.

Peneliti utama Galaxy Digital, Alex Thorn, menyebut kondisi ini sebagai tanda pasar yang sangat jenuh jual.

“Bitcoin mendekati wilayah oversold terendah sepanjang masa,” tulisnya.

Ia menambahkan bahwa RSI mingguan saat ini hanya lebih rendah pada dua periode krisis besar, yakni akhir 2018 dan pertengahan 2022.

Pada periode tersebut, Bitcoin sempat mengalami penurunan tajam akibat runtuhnya sejumlah perusahaan kripto besar.