Harga Bitcoin Anjlok, Kapitalisasi Pasar Susut Rp 7.519 Triliun

Pasar kripto memerah pada Jumat, (14/11/2025). Harga bitcoin bahkan sentuh di bawah USD 100.000.

Diterbitkan 14 November 2025, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin kembali turun tajam dan menembus di bawah USD 100.000, terseret oleh gelombang baru penghindaran risiko di pasar global serta aksi jual saham teknologi yang memicu kegelisahan di Wall Street.

Aset kripto terbesar di dunia itu merosot hingga 3,9% ke posisi USD 97.956. Penurunan ini mendorong nilai pasar susut USD 450 miliar atau Rp atau Rp 7.519 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.710) sejak awal Oktober.

Sejumlah pendorong reli yang sebelumnya kuat seperti arus masuk dari institusi besar, alokasi ETF, dan kas perusahaan kini mulai melemah dan tak lagi memberi penopang signifikan. Demikian mengutip Yahoo Finance, Jumat (14/11/2025).

Sentimen Masuk Fase Bearish Terverifikasi

Analis dari 10x Research menilai pasar kripto telah memasuki rezim bearish yang "terkonfirmasi. Dari analisis, koreksi pasar kripto didorong melemahnya arus ETF, aksi jual berkelanjutan dari investor jangka panjang (long term holders), serta minat ritel yang terus menurun. mereka mencatat perubahan ini sejak pertengahan Oktober, dan kini indikator menunjukkan semakin buruknya kondisi pasar.

Menurut 10x Research, level selanjutnya yang perlu diwaspadai berada pada posisi USD 93.000 atau Rp 1,5 miliar.

“Bitcoin masih ditekan oleh tingginya penjualan spot serta aktivitas lindung nilai perusahaan, sehingga para pedagang semakin menghindari altcoin,” ujar Jake Ostrovskis, Head of OTC Trading di Wintermute. Ia menjelaskan bahwa ketika narasi spesifik kripto memudar, korelasi Bitcoin terhadap pasar tradisional justru menguat, memicu kegelisahan pasar yang lebih besar.

 

 

Tekanan Global Ikut Mengguncang

Reli singkat saham AS awal pekan ini yang sempat muncul setelah berakhirnya penutupan pemerintahan AS kini memudar. Ketidakpastian pun meningkat setelah rilis sejumlah data ekonomi penting tertunda, membuat investor kembali mempertanyakan peluang Federal Reserve untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Situasi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko tinggi, termasuk saham teknologi dan instrumen kripto.

Dampak pelemahan ini juga terasa pada saham perusahaan yang memiliki eksposur besar terhadap kripto. Saham Strategy Inc yang kerap dijadikan agen Bitcoin oleh investor ritel terjun dalam beberapa minggu terakhir. Premi nilai aset bersih yang semula besar kini hilang sepenuhnya, menghapus miliaran dolar modal investor.

Di pasar derivatif, minat terhadap kontrak lindung nilai (put option) melonjak. Data dari Deribit, bursa derivatif kripto di bawah Coinbase, menunjukkan lonjakan besar pada permintaan put dengan strike di bawah USD 100.000. Kontrak di rentang USD 90.000 hingga USD 95.000 tercatat sebagai yang paling aktif diperdagangkan.

 

Bitcoin Masih Menguat

Meski tengah berada dalam pelemahan, Bitcoin masih tercatat menguat sekitar 5% sepanjang tahun berjalan, dan lebih dari 40% sejak pemilu AS 2024. Namun, momentum reli tersebut menurun drastis setelah gelombang likuidasi leverage hampir $19 miliar terjadi dalam satu hari pada awal Oktober kejadian yang disebut-sebut sebagai pemicu besar perubahan suasana pasar.

Risiko Penurunan Masih Terbuka

10x Research menyoroti bahwa dalam dua fase bearish sebelumnya musim panas 2024 dan awal 2025—Bitcoin mencatat koreksi 30% hingga 40%. Saat ini, kripto utama itu sudah turun lebih dari 20% dari puncaknya tahun 2025, dengan sedikit tanda-tanda pemulihan kuat.

"Tidak ada lagi aroma pelemahan Bitcoin bersama sebagian besar aset terkait kripto kini berada dalam pasar bearish yang jelas,” tulis 10x dalam catatan kepada klien.

Mereka menegaskan Bitcoin masih berada di bawah rata-rata pergerakan jangka panjangnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.