Liputan6.com, Jakarta - Pernah merasa sudah mengantuk, tetapi tetap belum bisa tidur hanya karena ada satu pekerjaan kecil yang belum selesai? Misalnya, gelas bekas minum masih berada di meja, pakaian belum dilipat, pesan penting belum dibalas, atau barang untuk keperluan besok belum disiapkan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut mungkin bisa ditinggalkan begitu saja sampai pagi. Namun, bagi orang lain, keberadaan tugas kecil yang belum tuntas justru membuat pikiran terus aktif. Mereka merasa perlu menyelesaikannya terlebih dahulu agar bisa beristirahat dengan lebih tenang.
Kebiasaan ini tidak selalu berarti seseorang perfeksionis atau memiliki masalah psikologis. Bisa jadi, ia terbiasa menyelesaikan tanggung jawab sebelum beristirahat, merasa lebih nyaman ketika lingkungan tertata, atau kesulitan mengalihkan perhatian dari sesuatu yang masih menggantung.
Advertisement
Meski terlihat sepele, pola ini menarik untuk dikenali karena dapat memengaruhi rutinitas malam dan waktu tidur. Terlebih jika keinginan menyelesaikan pekerjaan kecil membuat seseorang terus menunda waktu istirahat, bahkan ketika tubuh sudah sangat lelah. Lantas apa saja kebiasaan orang yang sulit tidur sebelum menyelesaikan pekerjaan kecil? Melansir dari berbagai sumber, Rabu (21/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
1. Selalu Ingin Menuntaskan Sesuatu sebelum Beranjak ke Tempat Tidur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5494094/original/088512700_1770278308-pexels-olly-3784334.jpg)
Orang dengan kebiasaan ini cenderung merasa belum benar-benar selesai menjalani hari jika masih ada pekerjaan yang tertunda. Walaupun tugasnya sederhana, seperti membuang sampah, mencuci satu piring, atau mengembalikan barang ke tempatnya, mereka ingin membereskannya terlebih dahulu sebelum tidur.
Bagi mereka, menyelesaikan pekerjaan kecil memberikan sensasi lega. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat daftar tugas berkurang dan tidak ada lagi urusan yang terasa menggantung. Sebaliknya, ketika masih ada satu hal yang belum dikerjakan, perhatian mereka bisa terus tertuju pada tugas tersebut meskipun sebenarnya sudah waktunya beristirahat.
Kebiasaan ini dapat berkaitan dengan kebutuhan akan keteraturan dan keinginan menuntaskan tanggung jawab. Namun, hal tersebut tidak otomatis menunjukkan perfeksionisme. Bisa saja orang tersebut sekadar terbiasa menyelesaikan urusan rumah sebelum memulai hari berikutnya.
Masalah muncul ketika keinginan menuntaskan semuanya menjadi terlalu kaku. Jika setiap pekerjaan kecil harus selesai tanpa pengecualian, waktu tidur bisa terus mundur. Padahal, kemampuan meninggalkan pekerjaan yang tidak mendesak sampai esok hari juga merupakan bagian dari pengelolaan waktu yang sehat.
Advertisement
2. Sulit Mengabaikan Hal Kecil yang Terlihat Berantakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5526130/original/083135500_1773112286-WhatsApp_Image_2026-03-10_at_10.08.51.jpeg)
Sebagian orang bisa tidur dengan nyaman meskipun meja masih dipenuhi barang atau pakaian belum dilipat. Namun, bagi orang yang sulit beristirahat sebelum menyelesaikan pekerjaan kecil, pemandangan seperti itu dapat terus menarik perhatian.
Mereka mungkin sudah berbaring, tetapi kemudian teringat ada buku yang belum dikembalikan ke rak, sandal yang tidak berada di tempatnya, atau barang-barang yang masih berserakan. Akhirnya, mereka bangkit kembali untuk merapikannya meskipun pekerjaan tersebut sebenarnya bisa menunggu sampai pagi.
Lingkungan yang rapi memang dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman. Bagi sebagian orang, merapikan ruangan juga menjadi rutinitas penutup hari yang membantu mereka beralih dari aktivitas menuju waktu istirahat. Akan tetapi, tingkat kebutuhan akan keteraturan berbeda-beda pada setiap individu.
Hal yang perlu diperhatikan adalah seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari. Jika seseorang hanya ingin membereskan ruangan selama beberapa menit, kebiasaan tersebut belum tentu menjadi masalah. Namun, jika ia merasa sangat gelisah ketika tidak bisa merapikan sesuatu, sampai mengorbankan waktu tidur secara berulang, kebiasaan itu layak dievaluasi.
3. Terus Memikirkan Tugas yang Belum Selesai meski Sudah Berbaring
![4. Kurang Tidur [Dok/freepik.com]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/TZx6GPDXCm0FqAxMzy53m700u1E=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437657/original/068154000_1765259555-sick-woman-laying-bed-medium-shot.jpg)
Pernah mengalami situasi ketika tubuh sudah berada di tempat tidur, tetapi pikiran justru sibuk mengingat berbagai hal yang belum dikerjakan? Misalnya, belum membalas pesan, belum mengisi daya perangkat, belum menyiapkan pakaian untuk besok, atau lupa memasukkan dokumen ke dalam tas.
Pola seperti ini menunjukkan bahwa perhatian seseorang masih tertuju pada tugas yang belum tuntas. Dalam psikologi, fenomena ketika tugas yang belum selesai terus muncul dalam pikiran sering dibahas melalui konsep Zeigarnik effect. Konsep ini berkaitan dengan kecenderungan mengingat tugas yang belum selesai, meskipun efeknya tidak selalu muncul dengan cara yang sama pada setiap orang.
Akibatnya, pekerjaan yang sebenarnya hanya membutuhkan waktu singkat dapat terasa lebih besar ketika terus dipikirkan. Seseorang mungkin berulang kali mengingat tugas itu, menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan, lalu akhirnya bangun untuk menyelesaikannya.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah mencatat pekerjaan yang tertunda dan menentukan kapan akan menyelesaikannya. Dengan menuliskan tugas untuk esok hari, seseorang dapat memiliki rencana yang lebih jelas tanpa harus menuntaskan semuanya pada malam itu juga.
Advertisement
4. Merasa Lebih Tenang setelah Semua Urusan Kecil Beres
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/802671/original/047873200_1422498690-awake_man_640.jpg)
Ada orang yang menjadikan penyelesaian pekerjaan kecil sebagai semacam ritual untuk mengakhiri hari. Setelah mencuci gelas, memeriksa pintu, menyiapkan barang, dan merapikan meja, barulah mereka merasa siap beristirahat.
Kebiasaan ini dapat memberikan rasa lega karena beberapa urusan sudah tidak perlu dipikirkan lagi. Ketika seseorang mengetahui bahwa kebutuhan untuk esok hari telah disiapkan, ia mungkin merasa lebih terorganisasi dan tidak terlalu khawatir akan melupakan sesuatu.
Dalam batas yang wajar, rutinitas malam seperti ini justru dapat membantu membangun kebiasaan tidur yang teratur. Menyiapkan pakaian, meredupkan lampu, dan menjauhkan perangkat elektronik sebelum tidur dapat menjadi bagian dari rutinitas yang menenangkan.
Namun, rutinitas yang semula membantu bisa berubah menjadi beban jika seseorang merasa tidak mungkin tidur tanpa menyelesaikan setiap langkah secara sempurna. Misalnya, ia terus memeriksa sesuatu berulang kali meskipun sudah yakin bahwa tugas tersebut selesai.
Karena itu, penting untuk membedakan rutinitas yang membuat tubuh lebih siap beristirahat dengan kebiasaan yang justru menambah tekanan. Tujuan rutinitas malam seharusnya membantu tidur, bukan membuat seseorang semakin sulit memejamkan mata.
5. Cenderung Menunda Tidur demi Menyelesaikan Hal yang Sebenarnya Bisa Menunggu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5423755/original/073129300_1764080154-pexels-cottonbro-6951522.jpg)
Kebiasaan berikutnya adalah mengorbankan waktu tidur untuk pekerjaan yang tidak mendesak. Awalnya, seseorang mungkin hanya berniat merapikan satu sudut meja selama lima menit. Namun, setelah selesai, ia menemukan pekerjaan lain yang ingin dibereskan.
Misalnya, setelah merapikan meja, ia mulai melipat pakaian. Setelah pakaian selesai, ia memeriksa isi tas. Berikutnya, ia membersihkan dapur atau menyusun barang yang akan dibutuhkan pada pagi hari. Tanpa disadari, waktu tidur yang seharusnya dimulai pukul 22.00 bisa mundur hingga jauh lebih malam.
Pola ini terkadang berkaitan dengan kesulitan menentukan prioritas. Seseorang merasa semua tugas perlu segera diselesaikan, padahal tidak semuanya memiliki tingkat kepentingan yang sama. Pekerjaan yang bisa menunggu justru mengambil waktu yang dibutuhkan tubuh untuk beristirahat.
Jika terjadi berulang kali, kebiasaan menunda tidur dapat menyebabkan waktu istirahat berkurang. Dampaknya bisa berupa rasa lelah, konsentrasi menurun, dan suasana hati yang lebih mudah berubah pada keesokan hari.
Solusinya bukan harus meninggalkan semua pekerjaan. Cobalah menetapkan batas waktu untuk aktivitas malam, misalnya 10–15 menit untuk merapikan hal-hal penting. Setelah batas itu tercapai, tinggalkan pekerjaan yang tidak mendesak dan lanjutkan esok hari.
Advertisement
6. Sulit Mengatakan kepada Diri Sendiri bahwa Pekerjaan Bisa Dilanjutkan Besok
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3295526/original/044550800_1605256622-woman-with-insomnia-lying-bed-with-open-eyes_126277-564.jpg)
Orang yang terbiasa menuntaskan pekerjaan kecil terkadang memiliki aturan pribadi yang cukup ketat: sesuatu yang sudah dimulai harus diselesaikan saat itu juga. Aturan ini bisa membantu ketika mengerjakan tugas penting, tetapi kurang fleksibel jika diterapkan pada semua hal.
Contohnya, seseorang berniat membersihkan meja sebelum tidur. Ketika menemukan tumpukan kertas, ia merasa harus menyusunnya. Setelah itu, ia melihat laci yang berantakan dan ingin merapikannya juga. Pekerjaan sederhana akhirnya berkembang menjadi tugas panjang karena setiap hal yang ditemukan terasa perlu segera diselesaikan.
Kesulitan berhenti bukan selalu disebabkan oleh keinginan menghasilkan sesuatu yang sempurna. Ada pula kemungkinan seseorang tidak nyaman dengan tugas yang menggantung atau merasa lebih mudah menyelesaikan pekerjaan sekarang daripada mengingatnya kembali besok.
Untuk mengatasinya, seseorang dapat membedakan antara pekerjaan yang benar-benar mendesak dan pekerjaan yang sekadar ingin segera diselesaikan. Membuat daftar prioritas membantu mengingat bahwa tidak semua tugas memiliki konsekuensi yang sama jika ditunda.
Belajar berkata, "Ini bisa dilanjutkan besok," merupakan keterampilan yang penting. Beristirahat bukan berarti mengabaikan tanggung jawab, melainkan menentukan waktu yang tepat untuk menyelesaikannya.
7. Merasa Bersalah ketika Memilih Beristirahat sebelum Semuanya Selesai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5245689/original/043724500_1749378342-Gangguan_Tidur.jpg)
Kebiasaan terakhir adalah merasa bersalah ketika berhenti bekerja, meskipun tubuh sudah lelah dan waktu tidur telah tiba. Seseorang mungkin berpikir bahwa ia seharusnya bisa menyelesaikan lebih banyak hal, atau menganggap dirinya kurang disiplin jika masih ada pekerjaan kecil yang tertunda.
Pikiran seperti ini dapat membuat waktu istirahat terasa tidak nyaman. Alih-alih menikmati waktu tidur, ia justru sibuk mengkritik diri sendiri karena belum menyelesaikan semua urusan. Bahkan, pekerjaan yang sebenarnya tidak penting dapat berubah menjadi ukuran keberhasilan dalam menjalani hari.
Dalam beberapa situasi, kebiasaan ini berkaitan dengan standar pribadi yang tinggi atau keyakinan bahwa produktivitas harus selalu diutamakan. Namun, alasan di baliknya bisa berbeda pada setiap orang. Pengalaman hidup, tuntutan pekerjaan, dan kebiasaan yang terbentuk sejak lama juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang tanggung jawab.
Penting untuk diingat bahwa produktivitas bukan satu-satunya ukuran hari yang baik. Ada kalanya menyelesaikan pekerjaan memang menjadi prioritas, tetapi ada pula saatnya berhenti karena tubuh membutuhkan istirahat.
Cobalah mengganti penilaian yang terlalu keras dengan pertanyaan yang lebih realistis: apakah pekerjaan ini benar-benar harus selesai malam ini? Jika tidak, menundanya sampai besok bukanlah kegagalan. Justru, keputusan itu dapat menunjukkan kemampuan mengatur prioritas dan menghargai kebutuhan diri sendiri.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Kebiasaan Sulit Tidur sebelum Menyelesaikan Pekerjaan Kecil
1. Mengapa seseorang sulit tidur jika masih ada pekerjaan kecil yang belum selesai?
Hal ini dapat terjadi karena pikirannya masih tertuju pada tugas yang tertunda, ingin menjaga keteraturan, atau merasa lebih tenang setelah semua urusan selesai. Penyebabnya berbeda-beda pada setiap orang dan tidak otomatis menunjukkan gangguan psikologis.
2. Apakah kebiasaan merapikan barang sebelum tidur termasuk perfeksionisme?
Belum tentu. Merapikan barang bisa menjadi rutinitas yang sehat jika dilakukan secara wajar. Kebiasaan tersebut lebih perlu diperhatikan apabila seseorang menetapkan standar yang sangat kaku, merasa sangat tertekan jika tidak terpenuhi, atau terus mengorbankan waktu tidur.
3. Apa hubungan pekerjaan yang belum selesai dengan pikiran yang terus aktif?
Tugas yang belum selesai dapat terus menarik perhatian karena seseorang masih mengingatnya atau merasa perlu menentukan langkah berikutnya. Mencatat pekerjaan dan menjadwalkan waktu untuk menyelesaikannya dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk terus memikirkannya.
4. Apakah kebiasaan ini berbahaya bagi kesehatan?
Tidak selalu. Namun, jika keinginan menyelesaikan pekerjaan kecil menyebabkan waktu tidur terus berkurang, seseorang berisiko mengalami kelelahan, sulit berkonsentrasi, dan perubahan suasana hati. Dampak utamanya bergantung pada seberapa sering kebiasaan itu terjadi dan seberapa besar waktu tidur yang hilang.
5. Bagaimana cara agar lebih tenang meskipun masih ada pekerjaan yang tertunda?
Cobalah mencatat tugas yang belum selesai, menentukan waktu untuk mengerjakannya besok, dan membangun rutinitas malam yang menenangkan. Ingatkan diri bahwa pekerjaan yang tidak mendesak boleh ditunda tanpa berarti mengabaikan tanggung jawab.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346108/original/077588800_1789110397-cek_fakta_cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5511150/original/031336900_1771895236-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-24T080652.405.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9353288/original/089120400_1789959015-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-21T094827.860.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354245/original/038987000_1790044500-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-22T093245.164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255367/original/037309100_1780041310-woman-with-headphones-working-late-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378983/original/055875900_1792570228-Gemini_Generated_Image_280qni280qni280q.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379129/original/055479400_1792575765-pexels-tima-miroshnichenko-6327606.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378098/original/063403800_1792489880-01M5C6HVE949HS5V95HTW0F0PK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373352/original/095536800_1791963112-01M4TDZCGXZFTAXN7J9193R8A7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379054/original/098267200_1792573104-mel-elias-2_KjpNXFl5M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379074/original/001319400_1792573864-pexels-dario-fernandez-ruz-9130511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9378896/original/054733900_1792567280-Gemini_Generated_Image_ido9dyido9dyido9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366385/original/031825200_1791264228-197.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5251252/original/000237200_1749790228-flat-lay-shot-guy-working-his-notes.jpg)