Sering Overthinking Sebelum Tidur, Kenali 5 Cara Menenangkan Pikiran yang Gelisah Lewat Konsep Tawakkal

Dalam ajaran Islam, salah satu cara menghadapi kegelisahan tersebut adalah dengan memperkuat tawakal kepada Allah SWT.

Diterbitkan 21 Oktober 2026, 13:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Overthinking sebelum tidur kerap membuat seseorang sulit beristirahat karena pikiran terus dipenuhi kekhawatiran tentang masa lalu maupun hal-hal yang belum terjadi. Saat tubuh membutuhkan istirahat, pikiran justru terus bekerja. Akibatnya, seseorang bisa kesulitan memejamkan mata, merasa gelisah, dan bangun dalam keadaan kurang segar, dan dalam taraf tertentu mengganggu kesejahteraan mental.

Dalam ajaran Islam, salah satu cara menghadapi kegelisahan tersebut adalah dengan memperkuat tawakal kepada Allah SWT. Tawakal mengajarkan seorang muslim untuk berusaha sebaik mungkin, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah tanpa terus-menerus dibebani kecemasan terhadap hal-hal di luar kendalinya.

Dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menjelaskan pentingnya tawakal sebagai bagian dari keimanan dan keyakinan kepada Allah. Sikap ini bukan berarti mengabaikan masalah atau berhenti berusaha, melainkan memahami bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menentukan hasil dari setiap ikhtiarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan pembahasan Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mengenai tingkatan tawakal. Konsep ini menekankan pentingnya membangun kepercayaan kepada Allah, sehingga seseorang tidak sepenuhnya menggantungkan ketenangan batinnya pada kepastian hasil yang diinginkan.

Al-Qur'an juga memberikan petunjuk mengenai hubungan zikir dan ketenangan hati. Dalam surah Ar-Ra'd ayat 28, Allah SWT berfirman bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketenangan batin dapat dibangun melalui hubungan spiritual yang kuat, termasuk dengan membiasakan zikir dan doa sebelum tidur.

Karena itu, menghadapi overthinking tidak cukup hanya dengan berusaha menghentikan pikiran yang mengganggu. Seseorang juga perlu belajar menerima keterbatasan diri, menyelesaikan persoalan yang memang bisa ditangani, serta tidak terus-menerus mencemaskan hal-hal yang belum terjadi.

Membiasakan doa, berzikir, mengevaluasi aktivitas harian secara wajar, dan menyerahkan urusan kepada Allah dapat menjadi bagian dari ikhtiar menenangkan pikiran sebelum tidur. Dengan memahami tawakal secara tepat, waktu menjelang tidur dapat menjadi kesempatan untuk menenangkan diri.

5 Cara Menenangkan Pikiran yang Gelisah Lewat Konsep Tawakkal

1. Memaksimalkan Usaha Sebelum Menyerahkan Hasil

Langkah pertama dalam tawakal adalah berusaha semaksimal mungkin. M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berusaha sesuai kapabilitas sebelum menyerahkan hasilnya.

Dalam konteks overthinking sebelum tidur, individu diajak untuk menyelesaikan apa yang bisa diselesaikan hari itu, lalu melepaskan sisanya

Ahmad dalam jurnal Tawakal dalam Perspektif Islam menegaskan bahwa tawakal sejati harus disertai ikhtiar; orang yang mengaku tawakal tetapi berpangku tangan hakikatnya adalah pemalas.

Allah berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka." Dengan menyadari bahwa usaha adalah kewajiban dan hasil adalah hak Allah, tekanan mental untuk selalu berhasil pun berkurang.

2. Menyerahkan Urusan kepada Allah sebagai Al-Wakil

Setelah usaha dilakukan, tahap berikutnya adalah taslim, penyerahan total kepada Allah sebagai Al-Wakil (Maha Melindungi). Quraish Shihab menjelaskan bahwa penyerahan ini merupakan pengakuan akan keterbatasan manusia dan kemahakuasaan Tuhan.

Ketika pikiran mulai mengulang skenario terburuk di malam hari, seseorang dapat berkata pada dirinya: "Aku telah berusaha, dan hasilnya aku serahkan kepada Allah." Sikap ini berfungsi sebagai mekanisme coping religius yang mengurangi beban mental secara signifikan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 23: "Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman." Penyerahan ini bukan berarti menyerah, melainkan memindahkan beban dari pundak manusia yang terbatas kepada Dzat yang Maha Tak Terbatas.

3. Berdoa sebagai Dialog Intim dengan Allah

Doa adalah inti ibadah yang mencerminkan kerendahan hati mutlak. Quraish Shihab menekankan bahwa doa merupakan dialog langsung antara hamba dan Allah untuk memohon ketetapan terbaik. Sebelum tidur, daripada membiarkan pikiran berputar tanpa arah, seseorang dapat mengubah kegelisahan menjadi percakapan dengan Allah.

Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menempatkan doa sebagai bagian dari munajat yang mengubah kecemasan menjadi kedekatan.

Rasulullah SAW mengajarkan doa sebelum tidur yang sarat makna penyerahan: "Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut", yang artinya: "Dengan nama-Mu ya Allah, aku hidup dan aku mati".

Doa ini bukan sekadar rutinitas, melainkan pengakuan bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah, sehingga hati pun menjadi tenang.

4. Menerima Takdir dengan Rida

Tahap puncak tawakal adalah rida, yakni menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin menyebut tingkatan tertinggi tawakal sebagai keadaan seorang hamba yang pasrah total, tidak lagi memilih-milih, karena yakin bahwa apa pun yang Allah tetapkan adalah yang terbaik.

Dalam konteks sebelum tidur, rida berarti melepaskan penyesalan atas apa yang telah terjadi hari ini dan kecemasan tentang apa yang belum terjadi esok.

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyamakan overthinking yang menyebabkan kecemasan akan hal yang belum terjadi dengan peristiwa Perang Al-Ahzab, ketakutan yang berlebihan terhadap ancaman yang belum tentu datang. Dengan rida, seseorang berhenti memperdebatkan takdir dan mulai mengistirahatkan hatinya.

5. Menjadikan Dzikir sebagai Penutup Hari

Dzikir sebelum tidur adalah amalan yang secara langsung menenangkan hati. QS. Ar-Ra'd ayat 28 menegaskan: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa dzikir mencakup semua bentuk ibadah; shalat, membaca Al-Qur'an, doa, dan bahwa ketenangan hati tidak dapat diperoleh dari hal-hal duniawi, melainkan hanya dari hubungan yang tulus dengan Allah.

Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa dzikir sebelum tidur merupakan bagian dari adab harian seorang Muslim yang berfungsi sebagai "penutup amal" sebelum memasuki fase istirahat yang menyerupai kematian sementara.

Dzikir sebelum tidur mampu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kualitas tidur karena menghadirkan rasa aman secara psikologis.

Amalan Sebelum Tidur agar Hati Tenang

Rasulullah SAW mengajarkan sejumlah amalan sebelum tidur yang dapat membantu seorang muslim menutup hari dengan doa, zikir, dan penyerahan diri kepada Allah SWT. Berikut lima amalan yang bisa dibiasakan.

1. Berwudhu Sebelum Tidur

Berwudhu merupakan salah satu sunnah sebelum beristirahat. Amalan ini mengajarkan kebersihan sekaligus menjadi bagian dari persiapan diri untuk tidur dengan mengingat Allah.

2. Membaca Ayat Kursi

Ayat Kursi dalam Surah Al-Baqarah ayat 255 dianjurkan untuk dibaca sebelum tidur. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, membaca Ayat Kursi sebelum tidur disebut sebagai sebab seseorang mendapatkan penjagaan Allah hingga pagi.

3. Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

Rasulullah SAW membiasakan membaca ketiga surah tersebut masing-masing tiga kali sebelum tidur. Setelah membacanya, beliau meniupkan kedua telapak tangan, lalu mengusapkannya ke bagian tubuh yang dapat dijangkau. Amalan ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

4. Membaca Doa Penyerahan Diri kepada Allah

Doa sebelum tidur mengajarkan seorang muslim untuk menyerahkan diri dan urusannya kepada Allah SWT. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah SAW diawali dengan kalimat Allahumma aslamtu nafsi ilaik. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, doa ini dikaitkan dengan penyerahan diri kepada Allah sebelum beristirahat. Rasulullah SAW juga menjelaskan keutamaan membacanya sebelum tidur.

5. Memperbanyak Istighfar Sebelum Tidur.

Membaca istighfar menjadi bentuk introspeksi atas kesalahan yang dilakukan sepanjang hari sekaligus permohonan ampun kepada Allah SWT. Amalan ini dapat membantu seseorang menutup hari dengan kesadaran untuk memperbaiki diri.

Hikmah Bersikap Tawakal untuk Ketenangan Hati

Tawakal mengajarkan seorang muslim untuk tetap berusaha sekaligus menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT. Sikap ini memiliki sejumlah hikmah dalam menghadapi kecemasan dan menjalani kehidupan sehari-hari.

1. Mengurangi Overthinking dan Kecemasan Berlebihan

Tawakal membantu seseorang memahami batas kemampuannya. Setelah melakukan usaha yang diperlukan, ia belajar menyerahkan hal-hal di luar kendalinya kepada Allah sehingga tidak terus-menerus terjebak dalam kekhawatiran.

2. Membangun Ketenangan Batin

Orang yang bertawakal berusaha menanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Keyakinan ini membantu seseorang menghadapi ketidakpastian tanpa terus-menerus diliputi prasangka buruk.

3. Mendukung Kualitas Tidur dan Kesehatan Mental

Membiasakan zikir dan doa sebelum tidur dapat menjadi bagian dari rutinitas relaksasi yang membantu menenangkan pikiran. Meski demikian, dampaknya terhadap tidur dapat berbeda pada setiap orang dan tidak menggantikan penanganan profesional jika kecemasan berlangsung berkepanjangan.

4. Membentuk Karakter Sabar dan Syukur

Tawakal mengajarkan seseorang untuk bersyukur ketika memperoleh keberhasilan dan bersabar saat menghadapi kegagalan. Dengan demikian, ia tidak terus-menerus larut dalam penyesalan, tetapi berusaha mengambil pelajaran dan memperbaiki langkah berikutnya.

5. Memperkuat Keimanan dan Tauhid

Doa sebelum tidur mengingatkan bahwa kehidupan dan kematian berada dalam kekuasaan Allah SWT. Kesadaran ini memperkuat keyakinan seorang muslim untuk menjalani kehidupan dengan ikhtiar, doa, dan tawakal.

 

Pertanyaan Seputar Doa saat Overthinking

1. Apa hubungan antara overthinking dan kurangnya tawakal? Overthinking muncul dari pola kognitif dan emosional yang terdistorsi, seperti al-ẓann (prasangka negatif) dan al-khauf (ketakutan berlebihan). Tawakal berfungsi sebagai obat spiritual yang menyelaraskan usaha dengan penyerahan kepada Allah, sehingga mengurangi ruminasi.

2. Apakah tawakal berarti pasrah tanpa usaha? Tidak. Tawakal sejati justru menuntut usaha maksimal terlebih dahulu, baru kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Orang yang mengaku tawakal tetapi meninggalkan usaha hakikatnya adalah pemalas.

3. Doa apa yang diajarkan Rasulullah sebelum tidur untuk menenangkan hati? Salah satunya adalah "Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut" dan doa "Allahumma aslamtu nafsii ilaika..." yang sarat makna penyerahan diri kepada Allah.

4. Mengapa dzikir sebelum tidur dianjurkan dalam Islam? Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa dzikir sebelum tidur adalah "penutup amal" sebelum fase istirahat yang menyerupai kematian sementara, sekaligus sarana menurunkan stres dan meningkatkan kualitas tidur.

5. Apa tingkatan tawakal tertinggi menurut Imam Al-Ghazali? Dalam Ihya' Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebut tingkatan tertinggi tawakal adalah keadaan seorang hamba yang pasrah total seperti jenazah di tangan orang yang memandikannya—tidak lagi memilih-milih, karena yakin Allah akan menanggung segala keperluannya.

 

Â